Jelang Munas VI, Pemimpin Umum Hidayatullah Kuatkan Halaqah

Ummulqurahidayatullah.id– Mendekati Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad tak henti menguatkan peran halaqah dan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) sebagai alat kontrol dan wadah efektif untuk pembinaan umat .
Halaqah, disebut Ustadz Abdurrahman Muhammad, sebagai khazanah nubuwah yang telah ada sejak wahyu al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Melalui halaqah, Rasulullah menempa para sahabatnya agar memiliki mental pejuang sekaligus pendakwah Islam.
“Jadi dia (halaqah) itu sekolah nubuwah dan sekolah para sahabat dahulu.
Inilah yang harus dikuatkan dikencangkan dan dieratkan, bagaimana halaqah ini betul-betul menjadi media belajar al-Qur’an,” ucap Ustadz Abdurrahman menerangkan histori dan fungsi halaqah.
#Sarana Evaluasi
Menurut dai yang pernah menjejak berdakwah hingga ke Jayapura, Papua tersebut, belajar al-Qur’an tidak boleh dipersempit dengan belajar mengeja huruf-huruf al-Qur’an atau belajar tahsin saja.
Namun lebih dari itu, halaqah adalah sarana efektif untuk mengevaluasi pengamalan al-Qur’an hingga menginjeksi semangat dakwah para pejuang al-Qur’an.
“Jadi jangan anggap halaqah ini urusan atau aturan organisasi, bukan. Ini urusan iman dan yang terdepan. Ini sunnah besar yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat dahulu,” ungkapnya mengingatkan di Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu (6/9/2025).
#Hakikat Dakwah
Masih dalam rangka memotivasi para jamaah dan santri yang memenuhi Masjid AR -Riyadh Gunung Tembak, Ustadz kelahiran kota Pare-Pare Sulawesi Selatan itu lalu menjelaskan tentang hakikat dakwah dan pembinaan umat.
Ada dua hal, kata Ustadz Abdurrahman, yang memang menjadi Nabi dalam mengemban risalah nubuwah tersebut.
“Tugasnya dua saja. menjelaskan wahyu dan memimpin manusia berwahyu,” lanjutnya.
Cuma dua itu, menurutnya. “Kehidupan ini begitu. Menjelaskan wahyu dan memimpin manusia bagaimana melaksanakan wahyu. Tidak ada lain. Jadi jangan buang waktu macam-macam,” terangnya menasihati.
#Berpijak pada Wahyu
Untuk itu, umat Islam diminta untuk senantiasa berpijak pada wahyu dalam setiap dalam kehidupan manusia.
“Jadi cari harta sebanyak-banyaknya agar bagaimana wahyu ini bisa tersebar. Cari uang sebanyak-banyaknya agar bagaimana kekuatan kepemimpinan ini bisa tambah kuat,” tambahnya.
Dengan demikian, kata ustadz Abdurrahman, persoalannya bukan pada soal mewah atau tidak fasilitas itu. Tapi untuk apa atau bagaimana orientasinya tetap mengacu kepada dakwah yang berujung kepada akhirat nanti.
“Jadi bukan mau bikin rumah mewah bukan mau bikin kursi mewah. Rumah itu biasa-biasa saja. Tapi kalau untuk melayani tamu atau untuk mendukung kebutuhan dakwah, tidak apa-apa bagus rumahnya.
Buatlah rumah selebar-lebar mungkin supaya bisa mengundang tamu belajar al-Qur’an. Supaya bisa melayani tamu kalau ada tamu,” terangnya soal perbedaan orientasi keduanya.
#Pekerjaan Mulia
Masih soal halaqah, Pemimpin Umum Hidayatullah kembali menegaskan bahwa mengurus atau mengaktifkan halaqah adalah pekerjaan mulia yang tak boleh diabaikan.
“Ini pekerjaan yang paling tinggi (mulia), mengurus manusia untuk ber-Qur’an. Karena inilah Nabi diutus. In naḫnu nazzalna adz-dzikra wa inna lahu laḫafidzhun,” pungkasnya sambil menerangkan ayat yang tejemahnya; “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya,” (al-Hijr [15]: 9)
Terakhir, di antara bentuk penjagaan al-Qur’an, kata Pemimpin Umum Hidayatullah, adalah dengan memastikan seluruh sistem dan proses pembelajaran sesuai dengan standar yang telah disepakati. “Itulah fungsi kepemimpinan,” tutupnya.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments