Hidupmu Stagnan? Mungkin Ini Penyebabnya Menurut Dosen STIS Hidayatullah

Ummulqurahidayatullah.id– Pernah tidak merasakan bahwa hidup ini terasa stagnan, tidak ada kemajuan, begitu-gitu saja? Mungkin ini salah satu penyebabnya seperti yang dikatakan salah seorang dosen STIS Hidayatullah.
Pada Ahad, 12 Rajab 1446 H (12/1/2025), program rutin akhir pekan kembali dilaksanakan di Aula Barat Kampus Hijau STIS Hidayatullah Putri, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.
Mengawali pekan pertama perkuliahan semester genap, kegiatan ini diisi oleh Ustadzah Sitti Masitha Masykur, dengan sebuah sesi yang rasanya lebih dari sekadar motivasi.
Kata-kata yang disampaikan menyentuh inti persoalan yang sering tidak disadari oleh banyak orang.
Ustadzah Masitha membuka sesi dengan sebuah kalimat yang menjadi tamparan bagi pendengarnya.
“Kadang kita tidak sadar, bahwa dengan ketidaksadaran itu membuat kita terbelakang!” ujarnya.
Pernyataan ini mengundang renungan mendalam, membongkar pola pikir yang selama ini mungkin terpendam di benak banyak orang.
Ketidaksadaran yang Menghambat
Dalam penjelasannya, Ustadzah Masitha menyoroti bagaimana manusia sering kali menjalani hidup dalam ketidaksadaran. Manusia cenderung melakukan sesuatu karena terpaksa, perintah, atau desakan, bukan dari kesadaran diri yang sesungguhnya.
Contohnya, belajar hanya dilakukan ketika ujian semakin dekat, atau tindakan tertentu hanya dilakukan karena ada perintah dari pihak lain.
“Sadar tidak, apa yang kita lakukan ini sering kali bukan dari kesadaran diri kita sendiri?” ujarnya.
Ketidaksadaran ini, lanjutnya, menjadi salah satu penyebab utama stagnasi. Ketika manusia tidak mampu mengenal dirinya sendiri dan tidak memiliki arah hidup yang jelas, maka kemajuan pun sulit diraih.
Lalu, kapan kesadaran itu muncul? Ustadzah Masitha menjelaskan, kesadaran sejati hadir ketika tidak ada lagi faktor eksternal yang memengaruhi keputusan seseorang.
“Kamu nggak maju itu karena belum ada kesadaran dalam dirimu. Jangan salahkan orang lain kalau kamu begini-begini saja!” katanya, tegas.
Menurutnya, memantik kesadaran diri dapat dimulai dari menyadari manfaat yang diperoleh dalam setiap tindakan. Misalnya, memahami kebutuhan pribadi dan melihat manfaat yang dirasakan dari kegiatan tertentu.
“Kuncinya ada pada diri sendiri. Doktrin diri untuk sadar diri,” tambahnya.

Kesadaran dalam Kehidupan Asrama
Ustadzah Masitha juga menyinggung kehidupan berasrama, khususnya dalam program kerja lokasi (kerlok). Banyak yang menganggap kerlok hanya sebagai rutinitas atau sekadar memenuhi absensi.
Padahal, jika disadari, kerlok memberikan manfaat nyata, seperti kebersihan dan keindahan lingkungan yang dirasakan bersama.
“Realitanya sederhana. Ketika kita sadar bahwa manfaat kerlok itu untuk kita juga, maka tidak akan ada lagi yang menganggapnya sebagai beban,” jelasnya.
Ia pun mengajak seluruh mahasiswi untuk saling menasihati dalam kebaikan (amal ma’ruf nahi munkar) dan membangun kesadaran kolektif demi menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Mengakhiri sesi, Ustadzah Masitha meminta para mahasiswi untuk merenungkan berapa lama mereka telah berada di tempat itu dan apa saja yang sudah mereka sadari maupun belum.
“Hasilnya hanya kalian sendiri yang tahu,” ujarnya.
Pahami semua rutinitas yang dikerjakan di lingkungan ini adalah sesuatu yang terus diulang setiap hari, pekan, bulan, bahkan tahunnya.
Lalu, apakah para mahasiswi dalam keadaan sadar mengerjakan rutinitas itu? Atau hanya sekadar rutinitas pengulangan? Inilah yang menjadi penekanan pada kesempatan itu. Dirasa penting bagi para mahasiswi khususnya untuk membangun dan meneguhkan kesadaran diri sendiri dalam menjalankan rutinitas.* (Irfatunazhifah/STIS/MCU)
Recent Comments