Hujan Deras Tak Mempan Padamkan Api Semangat Mahasiswi STIS Jaga Lingkungan

Ummulqurahidayatullah.id | PAGI itu, langit Gunung Tembak, Balikpapan, masih kelabu. Rintik hujan yang turun sejak fajar belum juga reda.
Namun di Asrama Putri Atiqah, Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah, suasana justru ramai.
Payung-payung berwarna-warni bermekaran, menambah semarak pemandangan halaman kampus yang basah.
Di balik setiap payung itu, tampak wajah-wajah bersemangat, langkah-langkah tegap yang siap menembus derasnya hujan.
Tak Cari Sehat Saja
Hari itu, Ahad, 4 Jumadil Awwal 1447 H (26/10/2025), sejatinya dijadwalkan agenda Jalan Sehat dan Aksi Bersih Lingkungan.
Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia”.
Namun cuaca malah tak bersahabat. Tetapi, hal itu bukan alasan untuk berhenti. Justru bagi para santri, hujan adalah rahmat —tanda kasih Allah yang menumbuhkan api semangat.
“Semangat tidak boleh padam, karena yang kita cari bukan sekadar sehat, tapi ridho Allah,” ujar Nadia, salah seorang peserta, sambil tersenyum di bawah payung biru langit.
Kalimat itu menggema di antara tawa dan langkah ringan para mahasiswi, menjadi semboyan pagi yang menghidupkan semesta.
Semangat Santri
Tema hari santri terasa nyata dalam setiap gerak: semangat santri yang tak mudah padam.
Di bawah hujan yang kian deras, para mahasiswi tetap berjalan menyusuri area pondok, memunguti sampah di sepanjang jalan dengan tangan-tangan yang sigap dan hati yang tulus.
Wajah mereka berseri, tawa mereka lembut, seakan setiap tetes hujan adalah penyemangat baru.
Lingkungan pondok sejatinya sudah cukup bersih, tapi kegiatan ini menjadi simbol kepedulian —menjaga yang sudah baik, merawat yang sudah indah, karena kebersihan adalah bagian dari iman.
Kebersamaan
Ada yang berpayung, ada yang berjas hujan, bahkan ada yang memilih membiarkan air membasahi wajahnya. Semua larut dalam momen kebersamaan yang hangat di tengah dinginnya cuaca.
“MasyaAllah, kebersamaan di bawah hujan ini justru membuat kami makin kompak,” tutur Awalia, peserta lainnya dengan mata berbinar.
Rombongan mahasiswi itu juga menyusuri area sekitar empang pondok. Di tengah rinai hujan, mereka berdzikir dan ber-iqra’ —membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam.
Para dosen putri turut hadir mendampingi. Sebagian bahkan membawa anak-anak mereka, menambah suasana kekeluargaan yang manis.
Di bawah langit yang basah, hubungan antara mahasiswa, dosen, dan lingkungan kampus kian erat terjalin.
Teh & Bakwan
Selepas jalan sehat dan aksi bersih lingkungan, koridor kampus STIS Hidayatullah Putri berubah menjadi tempat berkumpul yang hangat.
Aroma teh manis dan bakwan goreng merebak di udara. Asap tipis mengepul dari gelas dan piring, menghadirkan kehangatan di tengah hawa lembab.
Acara pun berlanjut dengan pembagian doorprize jalan sehat. Sorak riang menggema setiap kali nomor undian dipanggil. Hadiah-hadiah menarik tersusun rapi, hasil sumbangan dari para dermawan yang berlomba-lomba menebar kebaikan.
Di antara tawa dan tepuk tangan, terselip rasa haru.
“Seru sekaligus haru, ternyata bahagia itu sesederhana ini,” ucap Ustadzah Ummi Kalsum selaku ketua panitia, menutup kegiatan dengan senyum penuh makna.
Pelajaran dari Langit
Hari itu, langit memang “menangis”. Namun dari setiap tetes hujan yang jatuh, lahir pelajaran berharga: bahwa api semangat santri tak pernah padam, bahkan di tengah ujian alam.
Kegiatan ini bukan sekadar jalan sehat atau bersih lingkungan —melainkan bukti nyata semangat santri dalam mengawal nilai-nilai perjuangan menuju peradaban Islam yang mulia.
Karena bagi mereka, menjaga kebersihan bumi adalah bagian dari menjaga amanah langit.
Dan setiap langkah kecil di bawah hujan itu, menjadi saksi bahwa santri selalu siap mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia.* (Qonita/MediaSTIS/@Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments