Halaqah Itqan: Perjuangan Mahasiswi Akhir Tuntaskan Hafalan, antara Al-Qur’an & Skripsi

Ummlqurahidayatullah.id | “MAU bilang berat, tapi ini kewajiban…!”
Kalimat itu menjadi penguat bagi kami, para pejuang mutqin 30 juz. Kami dikenal sebagai Halaqah Itqan, terdiri dari 11 mahasiswi: 9 dari angkatan tahun 2021 yakni Rafidatul, Hawa, Masyita, Rheyna, Hamriani, Iffah, Asiah, Zulfitrah, Aidaa (AKA Azzaimat) dan 2 orang yakni Hanifah dan Fatma dari angkatan tahun 2020 (AKA Alkhiffah).
Halaqah ini dibimbing oleh murabbi kami, Ustadzah Ummi Kalsum Tono dan dibina langsung oleh Ustadzah Ulin Nuha.
Pada kegiatan Daurah Qur’an Ramadhan yang ditutup pada 19 Ramadhan 1446 lalu, kami menerima tantangan besar dari Ustadzah Ulin: menyetorkan hafalan 30 juz sekali duduk dengan lancar.
Bukan target biasa, melainkan target yang sangat besar. Tapi kami menerimanya. Dengan bimbingan Ustadzah Ulin, kami masing-masing diberi target harian yang disesuaikan dengan kemampuan kami. Maka mulailah perjalanan panjang dan penuh perjuangan itu.
Namun, pada suatu waktu yang tidak kami rencanakan, aku, Hawa, dan Masyita, mulai merasakan tekanan berat dari target tersebut.
Dalam obrolan ringan, aku berkata:
“Hawa… nggak sanggup aku. Bentar lagi deadline tasmi’, hafalan belum siap….”
Hawa hanya menjawab lirih:
“Kamu aja nggak sanggup, apalagi aku….”
Kami terdiam. Bingung. Lelah.
Di tengah daurah, kami juga sedang menghadapi masa akhir semester delapan STIS Hidayatullah -masa-masa menuju sidang skripsi, target akhir sebelum kelulusan.
Rasanya kepala seperti mau meledak. Dua hal penting datang bersamaan: Al-Qur’an dan skripsi.
Akhirnya, kami memberanikan diri menghadap Ustadzah Ulin, menyampaikan kegundahan kami. Namun, dengan Ustadzah Ulin menjawab:
“Tidak, Kak. Tidak ada dispensasi. Pilihannya hanya dua: menyelesaikan hafalan (Al-Qur’an) 30 juz, atau minimal tasmi’ 15 juz.”
Mendengar itu, air mata Hawa menetes. Harapan kami mendapat keringanan pupus sudah. Tapi kami menerima keputusan itu.
Lalu kami tancap gas lagi. Tidak kenal waktu, kami mengulang hafalan siang malam.
Salah seorang teman seperjuangan kami, yang sering kami panggil “tetua” karena keteguhan dan kedewasaannya, bahkan memutuskan memprioritaskan tasmi’ hafalannya daripada sidang skripsinya.
Ia berkata dengan yakin:
“Kalau aku yakin saja. Aku prioritaskan Al-Qur’an, dunia mah ngikut….”
Masya Allah! Benar saja, sang ‘tetua” itu menjadi satu-satunya anggota Halaqah Itqan yang berhasil menyetorkan hafalan 30 juz dalam sekali duduk dengan predikat muntazah.
Sidang skripsinya ia selesaikan belakangan, setelah target Al-Qur’annya tuntas.
Sebuah pelajaran berharga bagi kami semua: “Jika engkau memprioritaskan Al-Qur’an, dunia akan mengikuti.”
Dari situ kami belajar bahwa proses ini bukan sekadar tentang setoran hafalan, tapi tentang keteguhan hati, pengorbanan, dan cinta kepada Al-Qur’an.* (@irfatunazhifah02/STIS/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Baca juga: Wisuda Tahfidz STIS Hidayatullah, 20 Mahasiswi Tuntaskan Hafalan 30 Juz
Recent Comments