Ustadz Zainuddin: Jangan Lelah Berinfaq, Berlipat Ganda Saat Ramadhan

Petugas menghitung uang tunai infaq untuk Palestina di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kaltim, Jumat, 19 Ramadhan 1445 H (29/3/2023) siang.* [Foto: SKR/hidayatullah.com/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id- Memberi tapi maknanya menerima, itulah infaq. Memberi tapi maknanya membersihkan dan itu keuntungan, kelapangan, sekaligus kekuatan, itulah namanya zakat.

Demikian penegasan Ustadz Zainuddin Musaddad, anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, dalam satu video yang bertajuk “Taushiyah Harian Ramadhan 1445 H (THR).

Bagi orang beriman, masih dalam isi ceramahnya, zakat, infaq, dan sedekah adalah lompatan kecil yang nyata dalam kehidupan sehari-sehari. Kebiasaan baik tersebut disebut menjadikan seorang Muslim bisa mendapat kedudukan yang terpuji.

“Ia bertahta di hati umat, bertahta di masyarakat, bertahta semoga di sisi Allah, mendapatkan janji-Nya, maqaman mahmudi (kedududukan yang terpuji),” lanjutnya di suatu tempat.

Dalam video yang dirilis di kanal youtube Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) tersebut, Abah Zain sapaan akrabnya, lalu mengajak seluruh kaum Muslimin agar tidak lelah untuk berinfaq.

Menurutnya, tidak ada orang miskin karena membagikan sebagian hartanya. Harta itu malah akan bertambah berkahnya dan bertambah bilangannya. “Lantas alasan apa kemudian kita merasa capek berlelah, merasa terlalu sering menyumbang?” tegasnya.

Khusus di bulan Ramadhan, tak hanya waktu yang tepat untuk giat berinfaq, tapi balasannya juga dijamin melebihi bilangan-bilangan di luar bulan penuh rahmat dan barakah itu.

“Berinfaqlah karena itu untuk kebaikan diri kalian. Berinfaqlah karena kalian akan dibahagiakan. Bahkan dipelihara jiwa rasa, dikawal agar tetap di jalan keistiqamahan. Allah yang jaga sampai pada etape yang membahagiakan,” terangnya sambil menjelaskan surah at-Taghabun [64]: 16.

“Kalau ia paham mau dibahagiakan, paham (meski) dipaksa menuju pintu kebaikan, insyaAllah kita bisa berkata, ternyata pintu surga itu ada di rumah kita, ada di rezeki kita,” tambahnya.

Justru, lanjutnya, orang itu akan bertambah semangat dan bertambah yakin karena memang faktanya menguntungkan.

“Muamalahnya dengan Allah Yang Maha Kaya. Lantas alasan apa merasa lelah berinfak?” tegasnya kembali.

Apatah lagi Allah sesungguhnya tidak butuh pemberian kita. Wujudnya pemberian untuk agama Allah tapi sesungguhnya pemberian tersebut untuk diri sendiri dan Allah tambah karunia-Nya dengan ajran ghairu mamnun (pahala tanpa putus) dan tsawaban min indillah (ganjaran langsung dari sisi Allah).

“Masya Allah, Allah tidak kehabisan pahala-Nya. Allah tidak kehabisan karena banyak membalas. Allah tidak kehabisan karena semuanya diberikan kepada manusia yang beriman,” pungkasnya.* (Abu Jaulah/Media Ramadhan/MCU)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *