Tips Dakwah Ustadz Panji di Tanah Papua

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Berbekal pengalaman selama dua puluh tahun lebih malang melintang berdakwah di tanah Papua, Ustadz Muhammad Panji berbagi tips dakwah dan motivasi di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, beberapa waktu lalu.
Menurut Ustadz Panji, sapaannya, juru dakwah yang meniatkan diri berdakwah di belantara Bumi Cendrawasih harus kuat dalam semua aspek.
Fisik Kuat
“Dia tidak boleh lemah dan harus kuat fisik. Kalau tidak, maka ujian pertamanya bisa langsung jatuh sakit,” ucapnya semangat di hadapan para mahasiswa dan calon alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.
Sebagai daerah yang dikenal “sarang Malaria”, ia mengaku sudah mengalami hampir semua jenis penyakit yang dikenal mematikan itu.
“Awal tugas di Timika tahun 1996 lalu, hampir sebulan lebih setiap pekan pasti masuk rumah sakit. Pernah juga merasakan Malaria Tropika plus empat dan Malaria Tersiana plus lima sekaligus,” lanjutnya.
Mental Kuat
Modal dakwah berikutnya adalah mental yang harus kuat. Ini disebut penting, karena namanya keributan, kekacauan mudah tersulut di tengah masyarakat setempat kala itu.
“Kita sebagai para dai tidak boleh ikut terpancing. Justru kalau bisa turut aktif mendukung kedamaian dan ketertiban umum di masyarakat,”
Ketahanan Spiritual
Namun dari semua modal, bekal paling utama adalah ketahanan spiritual pada dai yang harus kuat.
“Di mana-mana bertugas, di benak pertama adalah bagaimana menjaga kualitas ibadah dan kedekatan kepada Allah,” ungkapnya.
Tahajud
Selain menjaga shalat lima waktu secara berjamaah, Ustadz Panji sejak awal membiasakan para santri dan guru-guru serta warganya untuk bangun menunaikan shalat Tahajjud di sepertiga malam.
“Harus diakui, tidak ada pekerjaan yang susah di lembaga ini kecuali shalat Tahajjud (shalat Lail). Coba tanya diri kita,” ucapnya mengajak refleksi diri.
“Jadi kalau ada yang goncang, berarti masih dipertanyakan syahadatnya alias keyakinannya kepada Tuhan. Tapi tidak cukup juga dengan keyakinan, ibadah yang terjaga dan dakwah ukhuwah juga harus dipelihara selalu,” ujarnya masih dengan semangat yang sama.
Dengan keterbatasan SDM, bukan berarti dakwah di Papua harus menunggu lebih dahulu. Ini justru disebut sebagai bentuk ikhtiar dan mujahadah di hadapan Allah, bahwa mereka para dai memang ingin terlibat di dalam perjuangan tarbiyah dan dakwah ini.
Untuk itu, sebagai yang diamanahkan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Papua sekaligus Ketua Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Jayapura, Ustadz Panji memohon doa dan dukungan untuk pengembangan dan pembinaan kader dakwah di Papua.
“Dengan senang hati menerima jika ada yang ingin merasakan nikmatnya dakwah di Papua,” pungkasnya (23/5/2026).* (Abu Jaulah/@Uqreat)
Recent Comments