Syaikh Naim di Ponpes Hidayatullah Bontang: Ramadhan Momentum Jadi Lebih Baik

Syaikh Naim Abdallah Sulaiman Abu Shandi (kiri) bersama Ustadz Zulfahmi di Masjid Ar-Riyadh Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bontang, Kaltim, Sabtu, 10 Ramadhan 1447 H (28/2/2026).* [Foto: Istimewa/@Uqreat]

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat– Sabtu itu menjadi hari istimewa bagi warga Hidayatullah Kota Bontang, Kalimantan Timur. Sejak pagi, kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an bersama halaqah dan dilanjutkan pembinaan rutin.

Suasana menjadi berbeda karena pada hari itu hadir tamu istimewa dari Palestina, Syaikh Naim Abdallah Sulaiman Abu Shandi, pada kegiatan Siraman Manis (Silaturahim Ramadhan Imam Palestina). Sebelumnya, ia melakukan kunjungan ke Kota Balikpapan.

Acara pada 10 Ramadhan 1447 H (28/2/2026) itu dihadiri oleh seluruh warga, baik keluarga besar Hidayatullah maupun masyarakat umum Kota Bontang. Acara itu memang bersifat terbuka. Antusiasme jamaah terlihat dari ramainya kehadiran serta kekhusyukan saat menyimak penyampaian Syaikh Naim.

Dalam kegiatan itu, Ketua DKM Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang, Ustadz Zulfahmi, Lc., duduk di samping Syaikh Naim sebagai penerjemah.

Hubungan keduanya tampak dekat dan hangat. Bahkan, Syaikh Naim telah menganggap Ustadz Zulfahmi seperti anaknya sendiri, sehingga suasana majelis terasa penuh kekeluargaan.

Keistimewaan Ramadhan

Dalam tausiyahnya, Syaikh Naim menyampaikan keistimewaan bulan Ramadhan, yang telah lama dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ melalui hadis masyhur tentang dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka.

Ia menegaskan, berpuasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan momentum untuk mencapai tujuan utama disyariatkannya puasa, yaitu meraih takwa.

Syaikh Naim menjelaskan makna “takwa” sebagai ismun jāmi’, satu istilah yang menghimpun banyak kebaikan. Takwa mencakup seluruh bentuk ketaatan dan upaya menjauhi larangan Allah.

Karena itu, Syaikh Naim mengajak jamaah untuk memperbanyak doa. “Doa itu ibadah,” pesannya, sehingga harus disegerakan dan didawamkan.

Tiga Golongan Manusia

Syaikh Naim juga memaparkan tiga golongan manusia dalam menghadapi Ramadhan.

Pertama, mereka yang hanya menahan lapar dan haus.

Kedua, mereka yang menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dan dari perkara yang diharamkan Allah.

Ketiga, mereka yang mampu menghadirkan muraqabah, yakni merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan.

Syaikh Naim lantas mengajak jamaah untuk bermuhasabah dan menilai diri termasuk dalam golongan yang mana.

Syaikh Naim Abdallah Sulaiman Abu Shandi (kiri) bersama Ustadz Zulfahmi di Masjid Ar-Riyadh Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bontang, Kaltim, Sabtu, 10 Ramadhan 1447 H (28/2/2026).* [Foto: Istimewa/@Uqreat]

Pentingnya Perubahan

Syaikh Naim turut mengingatkan pentingnya perubahan sebelum dan sesudah Ramadhan. Ramadhan, menurutnya, bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi titik balik kehidupan. “Fahzarū…,” peringatan Syaikh Naim agar berhati-hati terhadap dosa di bulan mulia ini.

Dalam bagian akhir tausiyahnya, Syaikh Naim menyampaikan kondisi Masjid al-Aqsha yang telah lama berada dalam penjajahan.

Ia memaparkan berbagai pembatasan yang dialami kaum Muslimin dalam mengakses dan beribadah di masjid tersebut, serta mengingatkan pentingnya kepedulian umat terhadap salah satu masjid suci umat Islam itu.

Kondisi Gaza

Syaikh Naim juga menyampaikan kondisi di Gaza. Meski berada dalam tekanan berat, ribuan penghafal Al-Qur’an lahir dari wilayah tersebut. Allah tetap menganugerahkan kesabaran dan keteguhan kepada penduduknya dalam mempertahankan tanah mereka.

Pada akhir penyampaian, Syaikh Naim mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada kaum Muslimin di seluruh dunia, khususnya keluarga besar Hidayatullah melalui program BMH.

“Jazakumullahu khairan jaza’ kepada seluruh saudara kaum Muslimin, terkhusus keluarga besar Hidayatullah melalui program BMH ini,” ungkapnya.

Siraman Manis pagi itu dirasakan menjadi momentum penguatan iman dan peneguhan ukhuwah, sekaligus pengingat bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melakukan perbaikan diri menuju derajat takwa.* (@irfatunazhifah02/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *