Spirit Pengabdian dari Silaturrahim Pembimbing & Pendidik Putri Hidayatullah Ummulqura di Pantai Ambalat

Ummulqurahidayatullah.id– Sebanyak 501 peserta dari unsur guru, pembimbing, anak-anak, dan keluarga besar pendidik putri Pondok Pesantren Ummulqura Hidayatullah Balikpapan mengikuti kegiatan Silaturrahim Bersama Ibu Pembimbing.
Acara pada Ahad, 26 Dzulhijjah 1446 H (22/6/2025) ini digelar di kawasan Pantai Ambalat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Kegiatan tahunan yang telah memasuki tahun keempat ini mengangkat tema “Ikhlas Tanpa Batas, Mengabdi Tanpa Lelah”.
Acara ini untuk mempererat ukhuwah para peserta. Sekaligus terus meneguhkan spirit perjuangan para pendidik dan pembimbing yang telah membersamai perjalanan dakwah dan pendidikan Ponpes Hidayatullah Ummulqura (Kampus Induk Gunung Tembak) sejak awal berdiri.
Tak Cuma pada Forum Resmi
Dalam sambutannya, Ketua Departemen Pendidikan dan Pengkaderan (DP3) Ummulqura, Ustadzah Irma, S.S., mengajak seluruh peserta untuk menjaga semangat silaturrahim ini dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam forum resmi.
“Kita bersyukur hari ini bisa bertemu, bersapa, dan mengenang kembali jejak perjuangan para ibu pembimbing. Sebuah kehormatan bagi kita karena mereka masih hadir, meski sebagian telah dalam kondisi yang terbatas,” ujarnya.
Menyerap Ruh Perjuangan
Yang membuat kegiatan ini terasa sangat berarti adalah hadirnya para ibu pembimbing yang kini sudah semakin senja.
Mereka adalah sosok-sosok tangguh yang telah mengabdi sejak awal berdirinya pendidikan di Ponpes Hidayatullah Ummulqura.
Pada usia mereka yang senja, ruh pengabdian mereka tetap menyala. Inilah kesempatan langka bagi generasi penerus untuk menyerap nilai-nilai perjuangan mereka selagi masih bersama kita.
Hal ini ditegaskan pula dalam tausiyah oleh Ustadz Latief Usman, yang menyentuh sisi terdalam para peserta.
Ustadz Latief, sapaannya, mengangkat kembali kisah para guru dan pembimbing yang dahulu berjalan kaki, mengajar sambil menggendong anak, tanpa fasilitas memadai, namun tetap istiqamah.
“Kalau tidak karena ikhlas, mereka sudah ambruk sejak dulu. Tapi justru dari keikhlasan itu, Allah kokohkan langkah mereka,” ungkap dai yang juga Sekretaris Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan ini.
Ia juga menyampaikan kisah sejarah inspiratif tentang seorang suami yang menitipkan 30 ribu dinar kepada istrinya untuk biaya pendidikan anaknya, sebelum berangkat berjihad.
Anak itu kelak menjadi gurunya Imam Malik, ulama besar dalam sejarah Islam.
“Kalau kita ingin anak-anak menjadi ulama, banyak-banyaklah sedekah. Kepada anak yatim, guru, tetangga. Kalau bukan anak kita yang menjadi ulama, insyaAllah cucu kita,” pesannya.

Kebersamaan & Kebahagiaan
Acara dilanjutkan dengan sesi ta’aruf dan nostalgia sekaligus pemutaran foto-foto bersejarah para ibu pembimbing. Dipandu oleh Ustadzah Mulkiah, yang sempat menjadi murid langsung dari para ibu pembimbing.
MasyaAllah! Terpancar keharuan dari wajah para ibu pembimbing yang mengenang masa muda mereka di ranah perjuangan.
Setelah itu dilanjutkan dengan makan siang dan kegiatan game untuk anak-anak guru dan remaja. Kegiatan ini diikuti dengan penuh antusias oleh peserta dari berbagai jenjang usia.
Lanjutkan Estafet Perjuangan
Silaturrahim ini bukan hanya pertemuan tahunan, tetapi juga momen menyadari bahwa estafet perjuangan ini harus terus berjalan. Bagi para generasi muda, diharapkan terus mengikuti jejak para ibu pembimbing.
Ikhlas tanpa batas. Mengabdi tanpa lelah. Itulah pesan ‘abadi’ yang terpatri dari acara di Pantai Ambalat itu.
Sebuah pesan yang diharapkan tidak hanya menjadi tema kegiatan, tapi menjadi arah hidup dan amal nyata bagi keluarga besar pendidik di Ponpes Hidayatullah Ummulqura Balikpapan.* (Itha/Mushida/MCU)
Recent Comments