Saat Ustadz Hasyim HS Segarkan Spirit Ramadhan Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said

[ILUSTRASI] KH Abdullah Said (kiri) pada awal-awal berdirinya Hidayatullah di Balikpapan.* [Dok. MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Bagi umat Islam, bulan Ramadhan selalu menjadi momen istimewa, sebagaimana Ramadhan 1446H/2025M yang sedang berlangsung saat ini.

Kapan dan di mana pun, seluruh kaum Muslimin selalu bergembira menyambut kedatangannya.

Tak kecuali bagi santri-santri Hidayatullah, termasuk pada awal perintisan dahulu. Zaman di mana (almarhum) KH Abdullah Said, sang penggagas, bahu membahu mendirikan dan merintis berdirinya Hidayatullah bersama para kader senior, lima puluh tahun silam lebih di Kota Balikpapan.

Itulah yang dirasakan dan diungkap oleh salah seorang pendiri Hidayatullah, (almarhum) Ustadz H. Muhammad Hasyim Harjo Suprapto (HS), semoga Allah merahmatinya.

Pada suatu waktu, Ustadz Hasyim menceritakan, sejak awal KH Abdullah Said sudah mencanangkan momen perjumpaan dengan bulan Ramadhan sebagai tamu istimewa dan senantiasa mendapat perhatian serius dari tahun ke tahun.

“Butuh perhatian serius dan almarhum (Ustadz Abdullah Said) itu selalu ada titik-titik yang akan dicapai dari tahun ke tahun,” ungkapnya di hadapan ratusan dai Hidayatullah yang hadir dari penjuru pulau Kalimantan dan sekitarnya pada acara Silaturahim Syawal di Gunung Tembak beberapa waktu silam.

“Istilah almarhum itu menyadap haul dan quwwah dari Allah,” ucapnya menyebut satu istilah yang populer di zaman itu.

Bagi sebagian kaum Muslimin, kalimat ini mungkin asing atau ungkapan yang tidak biasa didengar. Sebab puasa Ramadhan terkadang hanya dianggap sebagai rutinitas ibadah tahunan saja.

Padahal menurut KH Abdullah Said, seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadhan justru menjadi kesempatan emas untuk menyadap kekuatan dan pertolongan dari Allah.

Meski demikian, Ustadz Hasyim mengingatkan bahwa hal itu tak cukup dinarasikan dan diteorikan begitu saja.

“Itu hanya bisa dirasakan bagi mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas. Untuk mencapai la’allakum tattaqun tidak sesederhana itu,” terangnya menasihati.

Ustadz M Hasyim HS di sela-sela kegiatan Munas III Hidayatullah di Makassar, Sulawesi Selatan, 2010.* [Foto: Muh. Abdus Syakur/Suara Hidayatullah/MCU]

Modal ‘Nekad’ Tapi…

Soal ketekunan beribadah, hal ini diungkap Ustadz Hasyim sebagai “rahasia” perkembangan dakwah Hidayatullah dulu hingga sekarang.

“Dulu kita memulai tanpa bekal, tidak ada bekal yang bisa diandalkan. Tidak ada orang, tidak ada sarana, tidak ada semuanya. Barangkali kalau bisa dikatakan modalnya nekad. Tapi didukung oleh ibadah yang menjadi kekuatan sampai saat ini,” ungkapnya.

“Almarhum (Ustadz Abdullah Said) kalau memberikan pengarahan masalah ibadah itu luar biasa dan itu bukan hanya lisan. Tetapi juga dipraktikkan dalam kesehariannya,” bebernya soal ibadah di bulan Ramadhan.

Terakhir, Ustadz Hasyim juga mengingatkan prinsip yang harus ditanamkan oleh setiap kader Hidayatullah. Dengan keterbatasan yang dimiliki, maka terdapat begitu banyak kelemahan dan kekurangan.

“Itulah yang membuat kita memohon kepada Yang Maha Kuat yang memberikan kekuatan kepada kita. Itulah urgensinya kenapa ibadah Hidayatullah seperti itu, bukan hanya sekadar perlu tetapi mutlak dari waktu ke waktu selalu ada pembenahan,” pungkasnya.* (Abu Jaulah/MCU)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *