Rais Am Hidayatullah: Kepemimpinan sebagai Amanah Ilahiyah & Ruhaniyah

Ummulqurahidayatullah.id- Rais Am (sebelumnya disebut Pemimpin Umum, red) Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, menegaskan kepemimpinan dalam Islam adalah amanah yang bersifat ilahiyah dan ruhaniyah, bukan sekadar urusan organisasi atau kekuasaan duniawi.
“Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah ilahiyah dan ruhaniyah, warisan kenabian dan kerasulan,” ujar KH Abdurrahman dalam taujihnya setelah Subuh di arena Musyawarah Nasional ke-6 Hidayatullah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (21/10/2025).
“Pemimpin adalah penanggung jawab bagi kemanusiaan dan alam semesta,” lanjutnya.
Puncak Spiritual
Dalam bagian awal taujihnya, Kiai Abdurrahman mengingatkan pentingnya memahami keindahan ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyah (fenomena alam) maupun qauliyah (wahyu).
Ia mencontohkan, Nabi Muhammad ketika malam tiba memperdalam dzikir dan penghayatan terhadap kebesaran Allah.
“Sesungguhnya puncak dari spiritual adalah cinta,” ungkapnya.
Zikir yang menunjukkan penghambaan sejati kepada Allah adalah mengujinya dengan ‘Alhamdulillah’. Begitu pula puncak moral adalah cinta. Cinta yang melahirkan kesatuan hati dan keteguhan dalam jihad menuju Allah,” sambungnya.
Kiai Abdurrahman mengingatkan agar seluruh kader dan pemimpin Hidayatullah harus berlomba-lomba mencapai puncak spiritual dan moral, serta meneladani para Nabi dalam kepemimpinan yang berlandaskan cinta, kesabaran, dan pengabdian kepada Allah.
“Semoga kita menjadi orang-orang yang istiqamah dalam perlombaan menuju puncak spiritual dan puncak moral,” pesannya.
Ikhtiar & Sabar
Kiai Abdurrahman menekankan, perjalanan spiritual dan moral harus ditempuh dengan mujahadah dan kesabaran.
Ia mengutip firman Allah, “Wabtaghu ilaihi al-wasilah, wajahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun. Carilah jalan untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah agar kamu beruntung,” pesannya kepada seluruh kader Hidayatullah.
Lebih lanjut, Kiai Abdurrahman memberi contoh, bagaimana perjalanan para Nabi sebagai teladan kepemimpinan.
Ia menyebut, Allah melantik para Nabi untuk menjadi pemimpin dan pencerah bagi umat manusia.
“Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing roh para Nabi dengan firman-firman-Nya,” katanya seraya mengutip ayat ‘Wa kadzālika awḥainā ilaika rūḥan min amrinā’ “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu roh dari perintah Kami.”ujar beliau
Ia menegaskan, para Nabi bukan hanya pembawa wahyu, tetapi juga pemimpin perubahan sosial.
Mereka hadir di tengah masyarakat yang kehilangan arah ketuhanan dan kemanusiaan, membawa cahaya untuk menuntun kembali ke jalan yang lurus.
“Ketika manusia sudah tidak mengenal Tuhannya, maka di situlah puncak kegelapan. Diperlukan hadirnya sosok pemimpin dan pencerah,” ujar Kiai Abdurrahman.* (Azim/Media Munas/@Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments