Perundungan Masalah Penting, SMH RM Putri Gelar Seminar, Bangun Akhlak Mulia

Ika Puji Rahayu, M.Psi., psikolog dari Puspaga Harapan, mengisi seminar “Anti-Bullying” SMH RM Putri di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kamis, 28 Syakban 1446 H (27/2/2025).* [Foto: Istimewa/SMH Putri/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Perundungan (bullying) menjadi masalah penting yang sangat diperhatikan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh pihak Sekolah Menengah Hidayatullah Raadhiyatan Mardhiyyah (SMH RM) Putri.

Baru-baru ini, sekolah yang berkomitmen membentuk generasi muda berakhlak mulia itu mengadakan seminar “Anti-Bullying: انت اختي، و ليست عدوتي (Engkau Saudariku, Bukan Musuhku)”, Kamis, 28 Syakban 1446 H (27/2/2025).

Acara yang dihadiri oleh sekitar 360 siswi SMH putri ini merupakan bagian dari Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5RA), khususnya dalam dimensi Profil Pelajar Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia.

Program ini mengedepankan pentingnya membentuk karakter mulia melalui sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama.

Semangat Baru dalam Mencegah Perundungan

Seiring berkembangnya zaman, isu perundungan semakin menjadi perhatian di kalangan pelajar di Indonesia.

Meskipun teknologi telah membawa kemajuan pesat, namun masalah sosial seperti perundungan masih sering terjadi, baik di dunia maya maupun di lingkungan sekolah.

Dengan tujuan untuk memberi pemahaman yang lebih baik tentang hal ini, SMH RM Putri bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Harapan, sebuah lembaga yang berfokus pada kesehatan mental anak dan remaja.

Sebagai narasumber utama, Ika Puji Rahayu, M.Psi., seorang psikolog dari Puspaga Harapan, diundang untuk berbagi pengetahuan dan wawasan tentang perundungan.

Dalam seminar itu, Ika menekankan bahwa perundungan bukan hanya masalah fisik atau verbal, tetapi juga dapat berupa tindakan sosial yang lebih halus, seperti pengucilan atau penyebaran gosip yang merugikan.

Ia menyoroti bagaimana tindakan perundungan dapat merusak rasa percaya diri dan berdampak buruk pada perkembangan mental seorang pelajar.

Kiat-kiat Mencegah Perundungan

Ika Puji Rahayu tidak hanya membahas dampak buruk perundungan, tetapi juga memberikan berbagai kiat untuk menghindarinya.

Salah satu hal yang paling ditekankan adalah pentingnya empati. Melalui serangkaian contoh kasus dan sesi interaktif, Ika mengajak para peserta untuk memahami bagaimana perasaan orang lain dan mengapa perilaku yang tampaknya sepele bisa berpotensi menyakiti orang lain. 

Bullying seringkali muncul karena kurangnya pemahaman tentang perasaan orang lain,” ujar Ika dalam salah satu sesi.

Seminar “Anti-Bullying” SMH RM Putri di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kamis, 28 Syakban 1446 H (27/2/2025).* [Foto: Istimewa/SMH Putri/MCU]

Ia juga menjelaskan bagaimana sikap saling menghargai dan terbuka dalam berkomunikasi dapat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

Lewat seminar ini, para siswi diajak untuk lebih peka terhadap tanda-tanda perundungan, baik sebagai korban maupun saksi.

Para siswi juga diberikan panduan tentang bagaimana mereka bisa berperan dalam menghentikan siklus kekerasan tersebut. 

Menurut Ika, para santriwati itu juga perlu diberikan ruang untuk berbicara, mengungkapkan perasaan mereka, dan berbagi masalah secara terbuka, tanpa merasa takut dihakimi.

Pendidikan karakter yang diterapkan di SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri mencakup pelatihan untuk mengembangkan sikap empati dan penghargaan terhadap perbedaan.

Dalam setiap kesempatan, siswi diajarkan untuk menumbuhkan perilaku positif dan menjauhi tindakan yang dapat merugikan orang lain, seperti perundungan.

Santriwati Agen Perubahan

Seminar ini meninggalkan pesan yang kuat bagi seluruh peserta: bahwa perundungan adalah masalah serius yang harus ditanggulangi dengan kerja sama dan kesadaran dari setiap individu.

Dengan membangun komunikasi yang terbuka, saling menghargai, dan peduli terhadap sesama, semua pihak terkait dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan penuh kasih sayang.

Sebagai penutup, para siswi diingatkan bahwa mereka adalah bagian dari perubahan. Mereka bisa menjadi agen yang membawa pengaruh positif dalam lingkungan sekitar, bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan masyarakat luas.

Dengan membentuk karakter yang kuat dan berbudi pekerti, diharapkan para siswi SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri dapat menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dan berakhlak mulia dalam menghadapi tantangan kehidupan.* (Ema Nahdhah/SMH Putri/MCU)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *