Hadapi Era Kekinian, Ketua STIE Madani Balikpapan Ajak Mahasiswa Latih Resiliensi

Ummulqurahidayatullah.id– Pada zaman modern saat ini, di mana berbagai hal menuntut kecepatan dan ketepatan, seseorang membutuhkan resiliensi.
Makhluk apa gerangan?
Menurut Ketua STIE Madani Balikpapan, Dr. Mardhatillah, S.Psi., M.Si., M.S.I., resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan, bangkit, dan beradaptasi dengan kondisi sulit.
Menurutnya, tanpa resiliensi, seserang mudah rapuh ketika menghadapi berbagai tekanan. Misalnya, seorang mahasiswa menghadapi tekanan akademik dan tekanan organisasi.
Hal itu disampaikannya sebagai pemateri pada seminar psikologi bertema “Mental Sehat, Akademik Hebat: Mengembangkan Resiliensi Mahasiswa di Era Modern”.
Digelar sebagai rangkaian Forum Silaturrahmi antar Perguruan Tinggi (FOSPI) di Aula Kampus Putri STIS Hidayatullah, Gunung Tembak, Teritip, Kota Balikpapan, beberapa waktu lalu.
Resiliensi Bisa Dilatih
Dr. Mardhatillah menambahkan, resiliensi bukanlah bakat bawaan.
Akan tetapi keterampilan yang bisa dilatih. Mahasiswa, santri, ataupun stakeholder pondok pesantren lainnya, diajak berlatih untuk tetap tumbuh saat menghadapi tantangan.
Resiliensi dapat dibangun sejak dini melalui pembiasaan menghadapi masalah. Seseorang dituntut untuk berani gagal dan bangkit kembali, bukan menghindari ujian kehidupan.
Ia menegaskan, ketangguhan mental akan membedakan antara seseorang yang siap memimpin dan orang yang mudah menyerah.
Strategi Membangun Resiliensi
Dr. Mardhatillah juga memberikan tips praktis membangun resiliensi. Yaitu manajemen waktu, pola hidup sehat, serta dukungan sosial dari teman dan keluarga. Sederhana, namun sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa, santri, dan warga pesantren lainnya.
Selain itu, ia mengajak untuk mengelola stres melalui ibadah dan pendekatan spiritual. Keseimbangan antara akademik dan spiritual akan menambah kekuatan mental.
Resiliensi & Kepemimpinan
Seminar ini juga mengaitkan resiliensi dengan kepemimpinan. Mahasiswa yang resilien akan lebih siap memimpin, mampu mengelola konflik, dan tetap tenang menghadapi perubahan.
Resiliensi menjadi modal utama bagi para kader organisasasi -terutama mahasiswa- untuk siap tampil sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan.
Ruang Refleksi
Pada seminar itu, peserta terlihat antusias. Banyak mahasiswa yang aktif bertanya, bahkan berbagi pengalaman pribadi tentang tekanan studi dan organisasi.
“Bagaimana agar kita bisa solid dalam kemimpinan, karena ketika tidak kompak dalam suatu organisasi, merasa kerja sendiri, kurang supporter, maka mental pun akan down sehingga berpengaruh dalam akademik,” pertanyaan menarik dari Maunah, salah seorang peserta, Ahad (31/8/2025) itu.
Forum ini pun berubah menjadi ruang berbagi sekaligus refleksi bersama.
Dr. Mardhatillah menegaskan, “Kesehatan mental adalah fondasi prestasi akademik. Mahasiswa yang mampu menjaga emosi dan keseimbangan hidup akan lebih fokus dalam belajar”.
Sebaliknya, jika kesehatan mental diabaikan, maka prestasi juga akan ikut terganggu.
Pesan & Harapan
Salah seorang peserta, Nur Hijrah, menyampaikan kesannya.
“Materi ini sangat membuka wawasan. Ternyata menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar nilai akademik,” ujarnya.
Acara ditutup dengan refleksi bersama dan doa. Meninggalkan pesan mendalam bahwa resiliensi adalah bekal penting untuk sukses di era modern. Pesan ini menjadi bagian penting dari rangkaian FOSPI 2025 yang dirasa kaya inspirasi.* (Qonita/MediaSTIS/@Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments