Menyentak Kesadaran Merespons Ramadhan

Oleh: Imam Nawawi*
Ummulqurahidayatullah.id | HUJAN rintik-rintik mengiringi langkah jamaah yang berdatangan ke Masjid Baitul Karim, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Daerah Khusus Jakarta, Sabtu, 23 Syakban 1446 H (22/2/2025).
Meski cuaca kelabu menyelimuti sebagian besar wilayah Jakarta, semangat untuk menuntut ilmu dan menyambut bulan suci Ramadhan tidak surut sedikit pun.
Di tempat inilah, segenap kader Hidayatullah Jawa Barat dan Jabodebek berkumpul dalam acara Tarhib Ramadhan, sebuah momentum persiapan spiritual menjelang datangnya bulan penuh berkah.
Saya tiba di lokasi bersama anak kedua, menikmati perjalanan dari Depok menuju Jakarta dengan penuh suka cita. Kereta Api Listrik (KRL) yang biasanya menjadi teman perjalanan saya sendiri, kali ini kutunggangi bersama putra tercinta.
Ia tampak antusias, meski dalam hatinya mungkin tersimpan pertanyaan polos: mengapa KRL begitu padat dan menjadi favorit banyak orang? Perjalanan ini, bagiku, bukan sekadar fisik, tetapi juga simbolis transformatif—sebuah langkah kecil menuju pencarian makna lebih besar tentang hidup dan ibadah.
Memaknai Respons
Di tengah suasana yang teduh oleh hujan dan semangat yang membara oleh harapan, satu kata terdengar begitu kuat dan membekas: “respons”.
Kata itu disampaikan oleh Ustadz MD. Karyadi, Ketua Dewan Musyawarah Wilayah (DMW) Hidayatullah Jakarta dan Jawa Barat, yang hadir sebagai narasumber.
Dengan senyum khasnya, ia menjelaskan bahwa respons adalah penentu sikap kita terhadap segala sesuatu, termasuk dalam menyambut Ramadhan.
“Bagaimana kita merespons Ramadhan akan menentukan bagaimana keseharian kita selama bulan suci itu,” ujarnya tegas.
Kalimat sederhana itu mengandung makna mendalam. Respons, lanjutnya, bukan sekadar reaksi spontan terhadap stimulus, melainkan hasil dari kesadaran yang dipengaruhi oleh pemikiran, perasaan, dan pengalaman seseorang.
Saya pun terbang bernalar, coba memahami dengan lebih jauh, mengapa kata ‘respons’ itu menjadi begitu penting.
Artinya saya dapatkan pengertian, bahwa jika pemahaman, emosi, dan pengalaman seseorang tentang Ramadhan masih minim, maka inilah saatnya untuk merespons dengan cara terbaik—melalui pembelajaran, introspeksi, dan aksi nyata.
“Selamanya orang akan tetap pada hafalan 3 Qul (yang terdiri dari surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas) kalau tidak merespons Ramadhan dengan menambah interaksi dan hafalannya dengan Al-Qur’an,” jelas Ustadz Karyadi memotivasi.
Mendengar paparan tersebut, saya tak bisa menahan diri untuk mencari tahu lebih dalam tentang konsep “merespons” secara ilmiah.
Melalui gawai yang kupegang, secepat kilat saya mencari referensi tentang bagaimana merespons nasihat atau pandangan dengan pendekatan yang berbasis fakta, logika, dan metode ilmiah.
Hasilnya sangat mengejutkan. Ternyata, merespons nasihat tidak hanya soal menerima atau menolak, tetapi juga melibatkan proses verifikasi, analisis kritis, dan komunikasi yang objektif.
Ini membuatku sadar bahwa setiap nasihat, termasuk pesan-pesan keagamaan, perlu dipertimbangkan dengan cermat, tidak hanya berdasarkan intuisi atau emosi semata.
Sikap Positif
Ustadz Karyadi menambahkan, sikap positif terhadap Ramadhan akan membawa dampak positif pada pelaksanaan ibadah selama bulan tersebut.
Sebaliknya, jika respons kita lemah atau kurang serius, maka Ramadhan pun bisa berlalu tanpa bekas yang mendalam.
Pertanyaannya kemudian, mengapa hal ini penting? Jawabannya sederhana: karena Ramadhan adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan jiwa, dan meningkatkan kualitas hidup.
Namun, mendengarkan kajian seperti ini bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, ini adalah awal.
Setiap orang yang hadir di arena Tarhib Ramadhan diharapkan tidak hanya pulang dengan bekal ilmu, tetapi juga tekad untuk berubah.
Nasihat tentang “respons” mengajak kita semua untuk lebih cerdas dalam menerima informasi, lebih kritis dalam mengevaluasi saran, dan lebih bijaksana dalam bertindak. Serta tidak ragu menjalankan nasihat kebenaran.
Dengan pendekatan seperti ini, insya Allah, Tarhib Ramadhan yang kita ikuti tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar memberikan kesadaran dan perubahan nyata dalam hidup kita.
Semoga Ramadhan kali ini menjadi momentum bagi kita semua untuk merespon panggilan-Nya dengan hati yang lebih tulus, pikiran yang lebih terbuka, dan langkah yang lebih pasti menuju kebaikan.*
- Penulis adalah aktivis literasi dan dakwah, berdomisili di Bogor (Jawa Barat)
Recent Comments