Manasik Haji 2025, 425 Santriwati Antusias Jalani Rangkaian Simulasi Ibadah Haji

Manasik haji santriwati Raadhiyatan Mardhiyyah Putri gelaran DP3 Ummulqura di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Senin, 13 Dzulhijjah 1446 H (9/6/2025).* [Foto: Novita/DP3/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Santriwati Raadhiyatan Mardhiyyah Putri kembali menyelenggarakan kegiatan Manasik Haji yang merupakan program tahunan dari Departemen Pendidikan dan Pengkaderan Putri (DP3) Ummulqura.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 13 Dzulhijjah 1446 H (9/6/2025), dengan memanfaatkan lingkungan pendidikan putri yang disesuaikan menyerupai rute pelaksanaan ibadah haji. Berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sebanyak 425 santri-mahasantri dari berbagai jenjang pendidikan berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Yaitu Madrasah Ibtidaiyyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putri (kelas 3, 4, dan 5), SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri (MTs, MA, dan UM), serta Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Putri.

Para peserta terbagi ke dalam 21 kloter. Setiap kloter merepresentasikan berbagai negara berbeda, seperti Indonesia, Palestina, Turki, Mesir, Yaman, Arab Saudi, dan beberapa negara lainnya, untuk menambah suasana “internasional” dan kekhusyukan layaknya ibadah haji sesungguhnya.

Rangkaian manasik dimulai dari halaman depan asrama SMH Raadhiyatan Mardhiyyah, yang diibaratkan sebagai titik miqat. Peserta kemudian melaksanakan serangkaian simulasi rukun dan wajib haji secara berurutan, hingga berakhir dengan tawaf di lapangan utama pendidikan putri.

Memasuki pos “Arafah”, tepatnya di depan asrama STIS Putri yang ditandai sebagai lokasi wukuf, suasana berubah semakin khidmat. Meskipun cuaca semakin terik, para peserta tetap menunjukkan semangat dan kekhusyukan dalam menjalankan prosesi ini.

Selanjutnya, para peserta berkumpul untuk mengikuti khutbah wukuf di “Arafah” yang disampaikan oleh Ustadz H. Hamzah Akbar, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Sang ustadz mengawali khutbah dengan doa khusus bagi para jamaah haji, serta harapan agar seluruh peserta manasik dapat merasakan pengalaman spiritual yang mendalam dan kelak Allah izinkan berhaji secara nyata ke Baitullah.

Pesan untuk Menggapai Haji Mabrur

Ustadz Hamzah menjelaskan pentingnya wukuf di Arafah sebagai inti dari pelaksanaan haji.

“Wukuf di Arafah merupakan puncak ibadah haji. Hari ini adalah hari yang paling utama, waktu yang mustajab untuk berdoa, momen pengampunan dosa, serta saat terbaik untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Wukuf ini seakan menjadi cerminan bagaimana kita kelak akan dikumpulkan di Padang Mahsyar,” ujarnya.

Tujuan dari haji adalah meraih haji mabrur, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

“Umrah ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (Muttafaq ‘alaih–HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA)

Untuk mencapai haji yang mabrur, Ustadz Hamzah memberikan beberapa pesan penting:

  1. Niat yang tulus, Hindari niat yang tercampur kepentingan duniawi, seperti sekadar ingin bergelar “haji”.
  2. Bekal takwa, Sebaik-baik bekal adalah takwa, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 197.
  3. Menjauhi maksiat, Menjaga diri dari perbuatan dosa, ghibah, serta memperbanyak istighfar dan refleksi diri.

Kesan & Harapan

Ustadzah Husnaini Halim, selaku penanggung jawab dan juri manasik, menyampaikan rasa syukur dan bahagianya bisa terlibat langsung dalam kegiatan ini.

“Rasanya sangat menyenangkan bisa ikut berpartisipasi dan membantu suksesnya manasik haji. Kegiatan ini membuka peluang besar untuk menebar kebaikan, serta menjadi momen berbagi ilmu dan pengalaman dengan para santri dan pendamping,” ungkapnya.

Ustadzah Eni, sapaannya, menambahkan bahwa pelaksanaan manasik yang dikemas dalam bentuk lomba bertujuan agar peserta mengikuti dengan sungguh-sungguh dan merasakan sensasi ibadah haji seolah-olah nyata.

“Semoga dengan kesungguhan ini, Allah benar-benar memanggil mereka ke Baitullah untuk berhaji atau berumrah kelak,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan ini bisa memberi pengaruh spiritual yang kuat bagi seluruh peserta.

“Semoga para santri merasakan makna dari setiap rangkaian manasik, dan tumbuh kerinduan yang mendalam untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tentu masih ada kekurangan dalam pelaksanaan tahun ini, dan itu akan menjadi bahan evaluasi agar kegiatan mendatang lebih baik dan sempurna, insyaallah.”

Ustadzah Lailatul Fitriani, sebagai pendamping kloter Madrasah Ibtidaiyyah kelas 4, juga menyampaikan kesannya:

“Saya sangat terkesan dengan semangat dan antusiasme anak-anak. Meski ada yang mengeluh lelah di tengah pelaksanaan, mereka tetap menyelesaikannya hingga tuntas. Itu luar biasa.”

Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya sarana edukasi, tapi juga pengalaman spiritual awal yang menyenangkan.

“Anak-anak bisa memahami rukun Islam yang kelima melalui cara yang interaktif dan mengena. Saya juga sangat menghargai semangat totalitas panitia dan para juri yang luar biasa.”

Dalam pesan dan evaluasinya, ia berharap kegiatan mendatang bisa lebih bervariasi dalam penyampaian materi, agar anak-anak lebih mudah memahami dan mengingat.

“Untuk tingkat dasar, mungkin jarak tempuh bisa dipertimbangkan lagi. Tapi secara keseluruhan, semoga panitia dapat terus meningkatkan kualitas kegiatan ini agar semakin bermakna bagi seluruh santri,” ujarnya menitipkan masukan.* (Novita Sari/Media DP3/MCU)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *