Lawatan Mahasiswi STIS Hidayatullah ke USIM: Selami Ilmu, Kukuhkan Ukhuwah Malaysia – Indonesia

Ummulqurahidayatullah.id | DALAM lawatan akademik mahasiswi STIS Hidayatullah Balikpapan di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), delegasi mengikuti rangkaian Kuliah Antarabangsa di Fakulti Syariah dan Undang-Undang (FSU).

Yaitu sebuah sesi intensif yang mempertemukan dua budaya akademik dalam satu ruang wacana keilmuan, tepatnya pada hari keempat itu lawatan tersebut.

Kuliah Pertama: Akses Keadilan Melalui Klinik Guaman

Hari itu (18/6/2025), Dr. Norsuhaida Che Musa membuka sesi dengan tajuk “Akses terhadap Keadilan dalam Hukum Keluarga Islam: Pendekatan Klinikal dan Komuniti”.

Ia menekankan peranan klinik guaman dalam memberikan bantuan undang-undang kepada masyarakat yang terpinggir.

“Keadilan bukan hanya berada di dalam mahkamah, tetapi juga perlu turun ke akar umbi masyarakat. Klinik guaman ini menjadi jambatan antara undang-undang dan komuniti,” jelas Dr. Norsuhaida.

Dalam kuliah tersebut, para mahasiswi STIS belajar bahwa pendekatan klinikal bukan hanya teori, tetapi praktikal—memberi ruang kepada pelajar dan masyarakat untuk sama-sama memahami dan menegakkan keadilan.

Kuliah Kedua: Isu & Cabaran Hukum Ekonomi Syariah

Kuliah kedua disampaikan oleh Dr. Muhammad Aunurrochim Mas’ad Salleh dengan topik “Hukum Ekonomi Syariah: Isu dan Cabaran Malaysia–Indonesia”.

Ia mengulas persamaan dan perbedaan dalam pelaksanaan ekonomi Islam di kedua negara serta potensi kerja sama antara institusi-institusi syariah serantau.

“Kita tidak boleh bergerak sendiri dalam membangunkan ekonomi syariah. Malaysia dan Indonesia harus duduk semeja, berkongsi pendekatan dan dasar yang lebih inklusif,” ujarnya.

Para peserta sangat tertarik saat berbincang tentang keselarasan fatwa, piawaian halal, dan rangka perundangan ekonomi Islam dalam konteks ASEAN.

Kuliah Ketiga: Sistem Hukum Malaysia & Integrasi Islam

Kuliah ketiga dibawakan oleh Prof. Madya Dr. Nisar Mohammad Ahmad yang memberi gambaran menyeluruh tentang sistem perundangan di Malaysia melalui tajuk “Sistem Hukum Malaysia: Tinjauan Umum dan Integrasi Islam”.

“Kita hidup dalam sistem dwi-undang-undang: sivil dan syariah. Kejayaan kita adalah pada bagaimana kita mengintegrasikan kedua-duanya secara harmoni dalam sebuah negara majmuk,” terangnya.

Penjelasan itu memperlihatkan bagaimana Malaysia berjaya menempatkan hukum Islam dalam sistem negara tanpa menimbulkan konflik antara perundangan dan realitas sosial.

Forum Panel Interaktif: Titik Temu Pemikiran

Selepas ketiga kuliah itu, sesi diteruskan dengan forum panel interaktif yang mempertemukan semua pemateri dan mahasiswa dari kedua institusi.

Forum ini membahas isu-isu kritikal seperti peranan wanita dalam hukum keluarga, hak akses keadilan di kawasan pedalaman, dan tantangan dalam menyelaraskan hukum Islam pada era globalisasi.

Para mahasiswi STIS Hidayatullah secara aktif bertanya dan memberi respons, menunjukkan semangat intelektual yang tinggi serta keinginan untuk turut serta menyumbang dalam pembangunan hukum Islam serantau.

Belajar Sambil Berinteraksi

Kegiatan ini tidak sekadar mendengar kuliah, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dan pemahaman lintas budaya.

Mahasiswi STIS berinteraksi langsung dengan pelajar USIM, bertukar pandangan dan pengalaman belajar, sambil menumbuhkan ukhuwah Islamiyah yang erat.

Refleksi Mahasiswi: Membuka Cakrawala Baru

Bagi para mahasiswi, kuliah antarabangsa ini adalah pengalaman yang membuka pandangan mereka terhadap tantangan global dan peluang kolaborasi di bidang hukum Islam.

“Kami rasa lebih yakin dan termotivasi setelah berdiskusi langsung dengan pakar-pakar Malaysia. Ilmu yang kami dapat sangat aplikatif dan membuka cakrawala kami,” ucap Umil Fadhilah, salah seorang mahasiswi STIS.

Langkah Strategis dalam Internasionalisasi Kampus

Kegiatan ini menjadi salah satu tonggak internasionalisasi STIS Hidayatullah sebagai institusi pendidikan tinggi yang menjunjung nilai global, relevan, dan kontekstual.

Lawatan ini tidak hanya memperkuat jaringan, tetapi juga menanamkan semangat untuk menjadi pemikir dan praktisi hukum Islam yang progresif.

Sinergi Ilmu dan Ukhuwah

Dari sesi kuliah hingga forum panel, seluruh rangkaian kegiatan mencerminkan sinergi antara keilmuan dan ukhuwah.

STIS Hidayatullah dan USIM menunjukkan bahwa kerja sama bukan hanya tentang pertukaran akademik, tetapi juga membentuk generasi baru yang siap memimpin dengan nilai Islam yang inklusif dan rahmatan lil ‘alamin.

Penutup: dari Balikpapan ke Dunia Islam

Melalui kegiatan hari keempat ini, para mahasiswi STIS mengambil langkah kecil yang memberi impak besar.

Dari kelas ke komuniti, dari kuliah ke realita, mereka membawa pulang ilmu, inspirasi, dan semangat untuk terus mengangkat hukum Islam dalam panggung dunia.* (Qonita/STIS/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *