Kisah Hijrah Kader Hidayatullah dari Berbagai Latar Belakang

Talkshow Semarak Muharram 1447 H di Masjid Ar-Riyadh, Jumat malam, 2 Muharram (27/6/2025).* [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

Ummulqurahidayatullah.id– Kader, anggota, dan jamaah Hidayatullah terdiri dari berbagai latar belakang. Banyak kisah menarik dari perjalanan hijrah mereka ke Hidayatullah.

Di antaranya terungkap dalam rangkaian Semarak Muharram 1447 H yang digelar selama dua hari (Jumat-Sabtu, 27-28/6/2025) oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ar-Riyadh, Balikpapan.

Yaitu pada acara talkshow bertema “Menapaki Jalan Hijrah; Meneguhkan Iman, Menyatukan Ukhuwah, Menyempurnakan Kesehatan Jiwa dan Raga”. Acara ini bagian dari Semarak Munas VI Hidayatullah tahun 2025.

Narasumber talkshow itu adalah Ustadz Iskandar Pabo, Ustadz Qamaruddin, Ustadz Ichra Purnomo, Ustadz Joko Sunyoto, dan Ustadz Kusnadi.

Mereka tampil di hadapan seratus lebih jamaah Masjid Ar-Riyadh, dipandu langsung oleh Habib Lukman Hakim Al-Aththas (Ketua Bidang II Kemasjidan dan Pelayanan Umat YPPH Balikpapan).

“Narasumber kita istimewa kali ini, dengan latar belakang yang berbeda-beda tetapi semuanya disatukan dengan semangat yang sama. Yakni, hijrah dan ketaatan,” ungkap Habib Lukman, mengawali dialog yang dikemas interaktif tersebut.

Karena “Kupingnya Panas”

Ustadz Iskandar bercerita pengalamannya saat awal kali ke Gunung Tembak.

“Pertama kali tertarik hijrah ke Gunung Tembak, karena mendengar pernyataan bahwa kalimat syahadat sebagian umat Islam itu tidak beres. Katanya itu baru “ucapan” belum “syahadat” yang benar,” ungkap Ustadz Iskandar, dai senior yang mengaku tergelitik sekaligus merasa kupingnya panas dengan autokritik saat itu.

Lain lagi pengakuan Ustadz Qamaruddin, yang kini diamanahi bendahara Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak.

Latar belakang keluarga awam agama dan juga rutinitas kerja, membuatnya sempat kehilangan arah dan merasa jenuh.

“Jangankan shalat lima waktu, kadang shalat Jumat pun bolong-bolong sebelum hijrah,” tuturnya.

Kegersangan di Tempat Kerja

Kegersangan ruhani juga pernah dirasakan oleh Ustadz Joko Sunyoto sebelum hijrah.

Bekerja di satu perusahaan terkenal tak membuatnya lantas hidup tenang. Justru kedatangan para dai Hidayatullah yang mengisi ceramah dan mengajar ngaji yang dianggapnya membuat hatinya tenang.

“Dikumpulkan di perusahaan, jenuh dengan rutinitas yang ada, hari-hari kerja dan kerja, tidak ada waktu senggang untuk ruhani. Datangnya dai itu seperti minum es yang segar bagi orang kehausan,” ucapnya memberi ilustrasi.

Cerita Seorang Akademisi

Sementara itu, Ustadz Kusnadi, seorang akademisi, juga sempat merasakan gejolak pemikiran sebelum kini aktif di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.

Saat itu ia mengaku sudah melahap buku-buku pemikiran Nurkholis Majid, Jamaludin Afghani, Dawam Rahardjo, Fazlurrahman, dan lain sebagainya.

“Tapi sentuhan nilai ruhaninya justru setelah ketemu dan baca Majalah (Suara) Hidayatullah,” ucap dai kandidat doktor asal Madura, Jawa Timur itu.

Terakhir, giliran ustadz Ichra Purnomo menceritakan pengalaman spritualnya terkait hijrah.

Sejak Anak-anak

Menurutnya, yang paling sulit dijawab jika ditanya kapan hijrah atau mulai kenal Hidayatullah? Sebab saat itu, ia adalah anak seusia 3-4 tahun di Berau, Kalimantan Timur.

“Sebagai anak-anak, sekitar tahun 1978 yang terlihat selalu Ustadz Amin Bahrun, Ustadz Darul Ihsan, Ustadz Soewardhani Soekarno. Tahun 1979-1980 saya sudah kenal Pemimpin Umum Hidayatullah (KH Abdurrahman Muhammad, kala itu masih santri, red), dan rasanya tidak ada perubahan pada beliau sampai sekarang,” ungkapnya.

“Tidak ada perubahan pada panjang shalatnya, lama baca Qur’annya, dan ibadah lainnya. Cuma dulu beliau suka pakai surban warna putih,” tambah ustadz yang akrab disapa Pak Nono itu.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *