Hafluttakharruj SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri, Santri ‘OTW’ Mengabdi dengan Ilmu & Adab

Peserta Hafluttakharruj (wisuda) SMH RM Putri di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Ahad, 27 Dzulqa’dah 1446 H (25/5/2025).* [Foto: Novita/DP3/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Ahad, 27 Dzulqa’dah 1446 H (25/5/2025) menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Kegiatan hafluttakharruj (wisuda) kali ini digelar secara gabungan oleh seluruh unit di bawah naungan SMH, termasuk Usrah Mujaddidah (UM) sebagai Program Khusus Tahfidz.

Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Balikpapan Sinta Ningsih, S.E.I., M.Pd. dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar.

Hadir pula Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Balikpapan Ustadz Masykur, Ketua Departemen Pendidikan dan Pengkaderan Putri (DP3) Ustadzah Irma, Kepala KB/RA, Kepala MI Raadhiyatan Mardhiyyah Putri, serta para dewan guru SMH (MTs, MA, dan UM) dan orang tua/wali santri.

Pesantren Hidayatullah Berterima Kasih

Ustadz Hamzah Akbar menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para orang tua/wali santri atas kepercayaan yang telah diberikan dalam mendidik anak-anak mereka di lembaga ini.

Ia menyoroti bahwa kecanggihan teknologi saat ini dapat melampaui kecerdasan manusia, sehingga penting untuk menyeimbangkan antara ilmu dan adab, ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Menurutnya, peran intelektual dan teknologi dapat membawa kesesatan bahkan malapetaka apabila tidak dibarengi dengan adab, pengetahuan keislaman, dan keimanan.

Ilmu tanpa adab akan menyesatkan, sementara adab tanpa ilmu akan tertinggal.

Oleh karena itu, Ustadz Hamzah berpesan agar para santri melanjutkan pendidikan di mana pun, namun tetap menjaga nilai-nilai adab.

Pesantren Mampu Bersaing

Selanjutnya, Ustadz Masykur menyampaikan, para santri yang menempuh pendidikan di pondok pesantren bukan berarti tertinggal.

Justru mereka terbukti mampu bersaing dan berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan diterimanya sejumlah santri di perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Ustadz Masykur menyampaikan, kebahagiaan bagi para guru dan pendidik sejatinya terletak pada kesungguhan santri dalam menuntut ilmu. Semakin tinggi ilmu mereka, semakin kuat pula hubungannya dengan Allah dan semakin dalam rasa hormat mereka kepada orang tua.

Dalam sambutannya, ia juga mengangkat kisah Nabi Musa AS sebagai pelajaran tentang ketangguhan fisik dan kesabaran dalam menempuh perjalanan panjang.

Hal ini menjadi teladan bagi para penuntut ilmu agar siap berkorban dan bersabar dalam menapaki jalan keilmuan. Sebab, ilmu memang menuntut pengorbanan, kesungguhan, dan keikhlasan.

Ustadz Masykur pun mengingatkan agar para alumni tidak meninggalkan ibadah-ibadah yang telah menjadi bagian dari rutinitas dan pembiasaan selama di pesantren Hidayatullah.

Apresiasi Kemenag Balikpapan

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ibu Sinta Ningsih Perwakilan dari Kemenag Kota Balikpapan.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa bangga atas capaian SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri yang mampu menghadirkan pendidikan berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Ia menyebut bahwa Hidayatullah Gunung Tembak ini murah tapi tidak murahan.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Balikpapan Sinta Ningsih, S.E.I., M.Pd.* [Foto: Novita/DP3/MCU]

Ia juga mengapresiasi para dewan guru yang dinilai sigap dan tanggap dalam memberikan pelayanan pendidikan.

Menurutnya, meskipun lembaga ini terlihat sederhana, namun sebenarnya luar biasa. Menurutnya, orang tua adalah pilar penting dalam memajukan pendidikan dan keberhasilan anak-anak.

Kesan Wali Santri

Salah seorang wali santri turut menyampaikan kesan dan pesan mewakili seluruh orang tua. Dengan penuh rasa haru, ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh dewan guru serta memohon maaf atas kekhilafan anak-anak selama proses pendidikan berlangsung.

Ia menyampaikan harapan agar ilmu yang telah didapat oleh para santri dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyadari bahwa para orang tua/wali tidak dapat membalas seluruh kebaikan para guru. Mereka katanya hanya bisa berdoa agar Allah subhanahu wata’ala membalasnya dengan pahala berlimpah.

Sambutan ditutup dengan pantun nasihat serta doa agar Pondok Pesantren Hidayatullah terus berjaya.

Kesan Para Santri

Dari kalangan santri, kesan dan pesan juga disampaikan dengan tulus. Para santri berterima kasih karena pondok ini telah menjadi tempat pulang kedua, tempat yang penuh kenangan dan pembentukan karakter.

Mereka menyampaikan bahwa ini bukan akhir dari segalanya, dan berharap kelak Allah mempertemukan kembali untuk berbagi cerita dan pengalaman yang telah mereka lalui bersama.

Sebagai penutup, dilaksanakan pembacaan Surat Keputusan (SK) sebagai bentuk lanjutan dari proses pendidikan dan kaderisasi.

Selamat kepada seluruh alumni. Sangat diharapkan, semoga ilmu yang diperoleh menjadi cahaya kehidupan, mengantarkan pada pengabdian terbaik, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.* (Novita Sari/Media DP3/MCU)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *