Beliau “Tetap Hidup” Melalui Ayat-ayat Al-Qur’an…

Oleh: @irfatunazhifah02*

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- AIR mata tumpah di RSUD dr. Soedono Madiun, Jawa Timur.

Baru saja ingatan itu datang menjelma rindu. Rasanya baru kemarin doa-doa kesembuhan dilangitkan perlahan, mengetuk pintu rahmat Sang Maha Kuasa, berharap Allah berkenan mengangkat sakit yang lama beliau tahan.

Namun hari itu, doa-doa itu berubah menjadi untaian harap agar keselamatan dunia dan akhirat senantiasa mengiringi kepergian beliau.

«إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ»

Kepergian beliau seperti menyisakan ruang kosong yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena seorang guru telah berpulang, tetapi karena kami kehilangan sosok ibu, pembimbing, sekaligus penjaga hati-hati kecil kami selama menuntut ilmu.

Beliau adalah sosok yang begitu akrab dengan waktu subuh.

Rumah beliau yang tepat berada selurusan dengan mushala halaqah tahfidz seakan menjadi saksi bagaimana setiap pagi beliau mengontrol dan mengawasi santri-santrinya dari kejauhan.

Membekas

Dalam sunyi udara subuh, sayup-sayup lantunan ayat suci terdengar dari mushala, dan kami tahu, ada sepasang telinga yang selalu menyimak dengan penuh perhatian dari rumah sederhana itu.

Menjadi imam pembuka di awal shalat tarawih pun seakan telah menjadi ciri khas beliau. Dengan suara yang tenang dan bacaan Al-Qur’an yang mutqin, beliau mengawali malam-malam Ramadhan dengan kekhusyukan yang sulit dilupakan. Tidak hanya mengimami shalat, tetapi juga “menuntun” hati kami untuk semakin mencintai Kalamullah.

Teringat pula saat para santri menghafal atau muraja’ah di gazebo samping rumah beliau. Bahkan dari dalam rumahnya, beliau tetap mendengar setiap bacaan yang dilantunkan. Seakan telinga beliau tidak pernah benar-benar lepas dari ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Kadang tiba-tiba terdengar suara lembut beliau menegur,

“Hm… ayo nduk… salah.”

Atau dengan nada penuh kasih beliau mengingatkan,

“Diingat-ingat lagi nduk, apa ayat setelahnya…”

Sederhana, namun begitu membekas. Teguran kecil yang lahir dari perhatian dan cinta seorang guru kepada murid-muridnya. Hingga hari ini, suara itu masih terasa dekat di ingatan kami; hangat, teduh, dan penuh kerinduan.

Sakit itu ternyata tidak pernah benar-benar menghentikan pengabdiannya. Beliau tetap membersamai perjuangan Al-Qur’an dengan segala kemampuan yang tersisa.

Bahkan di tengah kondisi yang terus melemah, keinginan beliau untuk tetap dekat dengan Al-Qur’an dan santri-santrinya tidak pernah padam. Kerinduan beliau untuk terus menyimak hafalan menjadi bukti betapa besar cintanya pada perjuangan ini.

Hingga kemudian, kami memahami, Allah telah cukupkan rasa sakit yang lama beliau tahan. Mungkin Allah sedang memanggil hamba pilihan-Nya untuk kembali pulang dengan cara yang paling indah. Sebab hidup seorang pecinta Al-Qur’an tidak pernah benar-benar berakhir.

“Tetap Hidup”

Ia tetap hidup melalui lantunan ayat-ayat, melalui hafalan-hafalan yang dijaga murid-muridnya, dan melalui doa-doa yang tak pernah putus mengalir untuknya.

Kami, santri dan alumni Darul Madinah Hidayatullah Madiun, bersaksi bahwa Ustadzah Laili Maghfiratin adalah orang baik. Sosok yang mengajarkan bukan hanya tentang hafalan, tetapi juga tentang ketulusan, kesabaran, dan pengabdian.

Insya Allah, pahala yang ghairu mamnun terus mengalir untuk beliau; dari setiap ayat yang dibaca murid-muridnya, dari ilmu yang diamalkan, dari adab yang diwariskan, dan dari setiap doa yang terucap penuh rindu.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهَا، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ دَارَهَا

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Tulisan ini untuk mengenang Ustadzah Laili Maghfiratin, guru tahfidz di Pondok Pesantren Hidayatullah Darul Madinah Madiun, yang wafat pada Selasa (12/5/2026) di RSUD dr. Soedono Madiun.* (@Uqreat)

  • Penulis adalah alumnus SMP- MA Darul Madinah Hidayatullah Madiun

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *