Allah Selamatkan Kami dari Ancaman Kabel Putus di Tengah Jalan Saat Hujan Deras

Ummulqurahidayatullah.id | HUJAN turun dengan derasnya, mengguyur dengan tiba-tiba. Kami berlima di atas sepeda motor, dalam perjalanan pulang dari Bogor (Jawa Barat) ke Serpong (Kota Tangerang Selatan, Banten), tentu saja seketika kalang kabut karena belum persiapan.
Sepeda motor ditepikan oleh suami ke pinggir jalan. Berteduh sebentar untuk menggunakan jas hujan.
Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 20.30 WIB. Hujan masih sangat deras dan kemungkinan awet. Curah hujan daerah Bogor memang sedang tak terduga.
Dua anak kecilku masih menikmati jas hujan yang sudah terpakai di badannya. Sesekali mencoba memainkan tetesan hujan yang jatuh ke jas hujannya, menguji apakah baju mereka basah atau tidak. Asyik sekali keduanya.
Sementara bayiku, masih tertidur hangat dalam gendongan. Dia kumasukkan dalam jilbab besarku, agar terjaga tetap hangat dan tidak terusik oleh angin yang juga cukup kencang.
Setelah menunggu beberapa saat, suami memutuskan melanjutkan perjalanan. Keputusannya itu kuaminkan. Melihat malam yang semakin larut dan hujan yang tak kunjung reda. Sementara jarak rumah juga sudah lumayan dekat. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Hujan-hujan dengan jas hujan di badan yang melindungi merupakan pengalaman baru buat anak-anak kami. Mereka menikmati sekali pengalaman ini.
Roda dua terus melaju, hujan pun jatuh semakin deras. Suami fokus membawa sepeda motor di tengah derasnya hujan. Aku memastikan anak-anak yang kami dudukkan di tengah tetap aman.
“Hati-hati, Pak! (Ada) kabel putus!” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seseorang yang sedikit teredam oleh derasnya hujan, membuatku refleks menoleh ke arah sumber suara.
Ya Allah! Ternyata di depan kami ada kabel yang terjuntai ke jalan dan sepeda motor kami di jalur itu.
Terlihat memang beberapa kendaraan menghindari jalur tersebut. Belum sempat kutepuk pundak suamiku untuk mengingatkannya, sepeda motor kami sudah tiba di jalur itu dan melaluinya. Sepertinya suamiku tidak mendengar teriakan tadi bahwa ada kabel putus di depan.
Laa hawla walaakuwwata illa billah! Kucengkeram anakku kuat-kuat di atas sepeda motor.
Ya Allah, lindungi kami dari sengatan listrik! Sepeda motor terus melaju, hingga akhirnya kami jauh dari kabel putus tadi. Kurang lebih 15 menit kami berhujan-hujan di atas motor, akhirnya sampai juga di rumah.
Alhamdulillah, kami selamat. Kukabari suamiku bahwa tadi ada kabel yang putus dan kita lewat di situ. Suamiku kaget. Benar saja, dia enggak tahu kalau ada teriakan peringatan kabel putus. Bahkan suamiku tidak lihat kabel yang terjuntai di jalan. Mungkin karena fokus membawa sepeda motor sambil melawan derasnya hujan.
Setelah kami bersih-bersih badan dan bersiap tidur, putriku menyampaikan kesannya kalua dia sangat menikmati perjalanan tadi.
Seru banget katanya, jas hujanya seperti tenda, ‘kakak tidak basah’. Celotehannya membuatku terharu.
Dzikir di Perjalanan
Dia juga cerita, sepanjang perjalanan tadi ternyata dia membaca dzikir “Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar”. Katanya, “biar kita dilindungi Allah, sebab kita pulangnya malam, kakak takut jadi kakak dzikir deh.” Masya Allah!
Kupeluk dia. Karena dzkirnya anakku ini lah, Allah masih menyelamatkan kami.
Tidak terbayang kondisi tadi. Jalanan basah bahkan sedikit banjir, kami berlima juga setengah basah meskipun sudah memakai jas hujan, sementara saat itu tengah hujan deras, ada kabel putus yang teruntai ke tengah jalan yang kami lewati.
Ya Rabb! Karena perlindungan-Mu lah , kami betul-betul tidak tersengat listrik. Mengingat kejadian itu, sampai tulisan ini kuketik pun, aku masih merinding. Allahul Mustaan.* (Syirah Syammar/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments