Logistik Terjaga, Santri Tenang Menghafal, Itulah Kekuatan ZIS Umat Lewat BMH

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Di beberapa pesantren, termasuk di wilayah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, kebutuhan paling mendasar sering kali menjadi penentu tenang atau tidaknya para santri menjalani proses belajar.
Bukan soal kurikulum atau metode semata, tetapi hal sederhana: ketersediaan pangan. Kebutuhan inilah yang coba dijawab melalui program yang dijalankan BMH.
Lewat program Beras Santri Tahfidz, yatim dan dhuafa, BMH menyalurkan total 1.018 kilogram beras ke tiga titik, yakni Ponpes Hidayatullah Petung, Yayasan Palampang, dan Yayasan Abdullah Said Pemaluan, beberapa waktu lalu, Syawal 1447 H.
“Penyaluran dilakukan langsung ke lokasi pesantren dan rumah warga sekitar. Supaya ini berjalan tepat sasaran dan memudahkan mereka,” ungkap Kadiv Prodaya BMH Kaltim, Achmad Rifa’i (9/4/2026).
Sebelum bantuan disalurkan, tim BMH terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengurus pesantren. Mereka memastikan jumlah santri, kondisi logistik, hingga tingkat kebutuhan yang ada.
“Hasilnya terlihat bahwa kebutuhan pangan masih menjadi perhatian utama dalam menjaga keberlangsungan aktivitas santri. Lalu jadilah program ini untuk direalisasikan,” imbuh Rifa’i.
Kebutuhan Mendasar
Sebanyak 176 santri serta 10 kepala keluarga dhuafa menjadi penerima manfaat program ini. Bantuan beras didistribusikan sesuai kebutuhan masing-masing lokasi, mulai dari Petung, Palampang, hingga Pemaluan.
Bagi pengelola pesantren, bantuan ini bukan sekadar tambahan logistik. Ia menghadirkan ketenangan.
“Dukungan logistik ini sangat membantu kami dalam mengasuh adik-adik di sini. Karena kebutuhan mereka adalah hal paling mendasar. Alhamdulillah, beras ini bisa mencukupi hingga satu bulan ke depan,” ujar Mursyid, Ketua Yayasan Palampang.
Hal serupa juga dirasakan di lokasi lain. Maulana, pengasuh putri Hidayatullah Petung, menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang datang.
“Kepada Allah kami bersyukur atas bantuan beras ini. Semoga BMH istiqamah menjalankan misi kebaikannya,” tuturnya.
Begitu pun dengan yang di Pemaluan, Nurhayati, guru MTs Al-Hamra. Ia juga merasakan hal yang sama. Bantuan tersebut hadir di waktu yang dibutuhkan.
“Alhamdulillah, bantuan ini datang di saat yang sangat tepat,” ujarnya.
Dampak Langsung
“Ketika kebutuhan dasar seperti pangan tercukupi, ruang belajar menjadi lebih tenang. Insya Alalh santri bisa fokus menghafal, beribadah, dan menjalani aktivitas tanpa dibayangi kekhawatiran logistik,” jelas Rifa’i.
Dari sini terlihat bahwa dukungan sederhana seperti beras tidak hanya mengisi dapur pesantren.
Hal ini membuktikan bahwa zakat, infak dan sedekah berperan signifikan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan, sekaligus memastikan proses pembinaan generasi berjalan tanpa hambatan.* (Herim/@Uqreat)
Recent Comments