Ustadz Hamim Thohari: Munas VI Hidayatullah, Transisi Kepemimpinan Senior – Junior

Logo Munas VI Hidayatullah Tahun 2025.

Ummulqurahidayatullah.id– Dalam ajaran Islam, prinsip Syura atau Musyawarah memegang peranan yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan sebagai suatu keniscayaan dalam setiap aspek kepemimpinan.

Instrumen ini bukan sekadar alat pelengkap, melainkan alat paling utama dalam menentukan arah dan kebijakan umat.

Menegaskan urgensi ini, Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jabar-Banten-DKJ telah menyelenggarakan Majelis Reboan sesi ke-117 secara daring melalui platform Zoom.

Acara tersebut menampilkan narasumber utama, Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Ustadz Hamim Tohari.

Adapun tema yang diangkat adalah “Munas Hidayatullah: Sarana Reflektif Membangun Peradaban Islam”.

Pentingnya Munas

Ustaz Hamim Tohari menggarisbawahi pentingnya perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) yang akan datang.

Selanjutnya, Munas ini bukan hanya momen untuk evaluasi menyeluruh terhadap capaian dan kekurangan yang ada.

Lebih dari itu, “Munas juga berfungsi sebagai ajang pemantapan rencana strategis ke depan organisasi,” terangnya mantap.

Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Ustadz Hamim Tohari, mengisi acara Majelis Reboan sesi ke-117 secara daring, Rabu (8/10/2025).* [SS by Herim]

Pola Transisi Kepemimpinan

Menurut Ustadz Hamim, Munas kali ini memiliki signifikansi khusus. Pasalnya, dalam Munas ini akan terjadi pola transisi kepemimpinan.

“Transisi ini sesungguhnya merupakan sebuah transformasi dan transmisi kepemimpinan. Peran dan estafet akan beralih secara terstruktur dari generasi senior kepada generasi junior,” jelasnya.

“Momen ini dikenal sebagai masa rejuvenasi atau peremajaan organisasi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, memahami esensi musyawarah menjadi krusial. Ustadz Hamim mengajak hadirin merefleksikan cara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bermusyawarah yang tidak arogan dan mau menang sendiri.

“Padahal, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah penerima wahyu, manusia paling suci, dan paling takwa.

Meski memiliki otoritas spiritual tertinggi, beliau tetap menghargai dan menerima masukan serta pendapat dari para sahabatnya. Penghargaan Nabi terhadap pandangan sahabat menjadi teladan nyata,” paparnya.

Munas Sangat Strategis

Berdasarkan semua pertimbangan tersebut, Ustaz Hamim Tohari menutup uraiannya dengan sebuah penegasan. Ia menyatakan dengan lugas, “Munas kali ini menjadi Munas yang sangat-sangat strategis.”

Penegasan ini mengindikasikan bahwa Munas Hidayatullah bukan hanya agenda rutin. Ini adalah penentu arah gerak organisasi dalam rangka pembangunan peradaban Islam di masa mendatang.* (Herim/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *