Pengakuan Ustadz Baharun Musaddad saat “Ngopi Ukhuwah” Bareng Mahasiswa

Ustadz Baharun Musaddad (kanan) mengisi acara Ngopi Ukhuwah bareng mahasiswa STIS Hidayatullah di Pendopo, Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Jumat (10/12/2021).* [Foto: Asrijal/STIS/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Menjadi seorang pelajar atau mahasiswa memang harus memiliki tantangan. Karena di situlah kenikmatan dalam menuntut ilmu sekaligus akan menjadi kenangan berkesan.

Hal itu diungkapkan Dosen STIS Hidayatullah, Ustadz Baharun Musaddad Al-Hafizh, yang juga alumnus Universitas Islam Madinah (UIM). Ia menceritakan berbagai pengalamannya selama belajar di Madinah (Arab Saudi) dan di Sudan (Afrika).

Kuliah di dua negara itu kondisinya ia rasakan sangat jauh berbeda. Jika di Sudan penuh keterbatasan, sebaliknya di Madinah penuh fasilitas.

“Saya pernah belajar di Sudan, di sana itu maa syaa Allah. Makan itu susah. (Cuacanya sangat) panas. Yaa Allah. Kemudian saya mendaftar ke Madinah, Alhamdulillah keterima, saya merasa kayak di surga,” tuturnya di hadapan puluhan mahasiswa, baru-baru ini.

Pengalaman itu Baharun ceritakan dalam acara Ngobrol Penuh Inspirasi (Ngopi) Ukhuwah, bertempat di halaman Pendopo Asrama STIS Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan.

Baharun menuturkan, saat pertama kali ke Madinah, suasananya sangat kontras dengan di Afrika. “Di (Madinah) sana itu 180 derajat berbanding terbalik dengan Sudan.” Misalnya soal makanan, di Kota Nabi itu sangat melimpah.

“Bukan lagi kita cari tapi sudah disediakan. Awal-awal saya di sana ngambil makanan itu, maa syaa Allah, ‘jibaal‘ (menggunung),” ucapnya disambut tawa mahasiswa.

“Ketika saya ambil buah, saya ditahan (seseorang). Lalu saya bilang, ‘Kenapa (ditahan)? Padahal yang lain bisa banyak?’ Apa bilangnya? ‘Ambil satu, buah-buahan ini terbatas, jika mau (lagi) nanti setelah semuanya selesai.’ Setelah saya makan, saya datangi memang (orang yang menjanjikan buah tadi),” tuturnya, membuat hadirin tertawa.

Ternyata kemudian Baharun dikasih buah sebanyak dua dus. “Saya teringat teman-teman saya di Sudan, setelah itu saya kadang-kadang kirimkan ke sana,” sambung hafizh muda yang juga Imam Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Ummulqura ini.

Tentu tidak soal makanan saja yang berkesan. Banyak kisah lain selama perkuliahannya yang jauh lebih berkesan dan menginspirasi. Terutama perjuangannya dalam menghafal Al-Qur’an 30 juz dengan berbagai riwayat yang tersambung langsung dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Baharun pun berpesan kepada para mahasiswa, kalau ingin belajar jangan melihat kenikmatan fasilitas yang disediakan atau dimiliki suatu tempat belajar/perkuliahan.

Ustadz Baharun Musaddad (kanan).* [Foto: Asrijal/STIS/MCU]

Ia menekankan, orang yang santai dalam proses belajarnya, maka akan berbeda hasilnya dengan penuntut ilmu yang belajar dengan menghadapi banyak tantangan.

“Orang yang belajar dengan santai, nikmat, dia juga akan lulus, tetapi dia akan jadi seperti ayam potong. Beda dengan teman-teman STIS Hidayatullah ya, karena saya banyak dengar mengenai alumni-alumni dari sini maa syaa Allah,” ungkapnya penuh pengakuan.

Bahkan, ia menceritakan salah seorang alumnus STIS Hidayatullah Balikpapan yang pernah ia temui di salah satu daerah. Sosok itu bersama istrinya mengajar masyarakat tanpa digaji tapi tetap bersemangat.

Acara Ngopi Ukhuwah itu digelar pada Jumat malam, 5 Jumadil Awal 1443H (10/12/2021). Program ini diadakan secara berkala oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STIS Hidayatullah bekerja sama dengan pengurus asrama mahasiswa STIS.* (Asrijal/STIS/MCU)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.