Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf: Kaitannya dengan Munas VI Hidayatullah

Ustadz Masykur Suyuti, Ketua LPPH Balikpapan, mengisi Taklim Jumat Mushida Balikpapan di Gunung Tembak (21/10/2025).* [Foto: Itha/Mushida/MCU]


Ummulqurahidayatullah.id– ‎Bukan sekadar kisah tentang Yusuf kecil, tapi pelajaran tentang ketulusan dan cita-cita besar.

Itulah yang diuraikan Ustadz Masykur Suyuti, Ketua LPPH Balikpapan, saat mengisi Taklim Jumat Mushida Balikpapan di Gunung Tembak (21/10/2025).

Ustadz yang juga dai itu mengawali taklimnya dengan membacakan QS. Yusuf ayat 21, bagian di mana Nabi Yusuf diselamatkan dan kemudian dibeli oleh keluarga dari Mesir.

Dalam ayat itu, disebutkan ucapan sang suami kepada istrinya, “Akrimi matswahu,” muliakanlah dia, berikanlah tempat dan perhatian terbaik.

Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut nama orang yang membeli Yusuf. Dari sini, Ustadz Masykur menegaskan bahwa kebaikan sejati tidak harus memerlukan nama, ia tetap akan abadi karena Allah-lah yang menilainya.

Kaitannya dengan Hidayatullah‎

Ustadz Masykur mengaitkan makna ini dengan kehidupan di lembaga Hidayatullah Gunung Tembak.

Bahwa, jelasnya, siapa pun yang hadir di tempat ini bukanlah orang yang kebetulan, melainkan orang yang diundang oleh Allah melalui jalan hijrah, pendidikan, dan perjuangan.

Maka, setiap program kebaikan yang ada, harus dikawal dengan kesungguhan, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan amal yang dilakukan dengan ikhlas.

‎Ketika dalam kisah itu disebutkan harapan, “Asa an yanfa’ana au nattakhidzahu waladan: mudah-mudahan ia memberi manfaat bagi kita, atau kita ambil dia sebagai anak.”

Tampak dua tingkatan cita-cita. Ada yang berhenti pada keinginan sekadar dipanggil sebagai orang tua, ada pula yang menatap lebih jauh: ingin memberi manfaat yang luas.

Demikian pula di lembaga ini, perhatian dan pelayanan terhadap program-program kebaikan, terhadap anak-anak dan generasi yang tumbuh, seharusnya bukan sekadar agar disebut sebagai ayah, ibu, atau pendidik. Tetapi karena kita ingin melahirkan generasi yang membawa manfaat dan kemuliaan.

Semarakkan Kebaikan


‎Ustadz Masykur menutup dengan ajakan agar warga Hidayatullah menjadi bagian dari orang-orang yang menghidupkan, menyebarkan,dan menyemarakkan kebaikan di tempat ini.

Sebab, kebaikan akan selalu ada di sini sesuai dengan tujuan diciptakannya lingkungan ini, namun belum tentu kita termasuk orang yang dilibatkan di dalamnya.

Maka, selagi Allah masih memberi kesempatan, keluarkan seluruh potensi untuk mengawal perjuangan ini. Karena darinyalah kelak akan lahir generasi dan amal yang bernilai di sisi-Nya.

Hal ini tentu sejalan dengan spirit Musyawarah Nasional VI Hidayatullah yang segera digelar di Jakarta (20-23/10/2025).

Bahwa Munas sebagai momentum untuk semakin menyolidkan kader, anggota, dan jamaah Hidayatullah dalam menggapai cita-cita.* (Itha/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *