Menuju “Khitamuhu Misk” di Kampus Hijau STIS

[ILUSTRASI] Kampus STIS Hidayatullah Putri di Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.* [Foto: SKR/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Malam selepas wisuda tahfidz kelima STIS Hidayatullah, ada catatan kecil yang tertulis dengan penuh harapan dan refleksi.

Catatan ini bukan sekadar kumpulan kata, tetapi sebuah renungan bagi mereka yang tengah menapaki masa-masa akhir di kampus.

Catatan ini berasal dari Ustadzah Ulin, yang juga merupakan penasihat akademik semester 8 STIS Hidayatullah, dan menjadi pengingat bagi seluruh mahasiswa agar tetap menjaga nilai-nilai kebaikan hingga akhir.

Seperti pesan Ustadzah Mashita, selaku penasihat akademik angkatan Azzaimaat (19), “Menjelang finish ini, mari kita jadikan ‘khitamuhu misk’ benar-benar menjadi realita, bukan hanya sekadar ekspektasi dalam bayangan.”

Harapan besar itu kini sedang dirakit satu per satu. Tak sekadar angan, tapi nyata dalam usaha dan dedikasi. Bukankah segala sesuatu bisa diusahakan? Seperti dalam wisuda tahfidz kelima, angkatan ke-19 STIS Hidayatullah ini mencatatkan pencapaian luar biasa.

Dari total peserta, 41,03 persen di antaranya berasal dari angkatan ini. Sebuah angka yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga menggambarkan betapa besar komitmen mereka terhadap pencapaian ini.

Lebih mengejutkan lagi, berdasarkan data empat tahun terakhir, jumlah peserta daurah tahfidz dari mahasiswa semester akhir (semester 8) tidak pernah mencapai angka lima peserta.

Namun, tahun ini telah mencatatkan rekor luar biasa dengan jumlah peserta yang melebihi ekspektasi. Tercatat ada 32 peserta dari semester 8 dari total jumlah 78 peserta wisuda.

“Orang-orang yang ikut wisuda ini adalah mereka yang rela mengorbankan waktu liburnya,” demikian pengakuan salah seorang ustadzah.

Sebuah perjuangan yang tidak ringan, namun berbuah manis. Ustadzah Mashita pun memberikan tanggapan penuh syukur atas karunia Allah yang memungkinkan pencapaian ini.

Ia juga mengungkapkan kebanggaan dan kebahagiaannya, bahwa harapan ‘khitamuhu misk’ semakin terasa manis dengan partisipasi mahasiswa semester 8 dalam daurah ini.

Lingkup pertemanan dan komunitas memang memiliki pengaruh yang sangat besar. Sebuah lingkungan yang baik akan selalu mengarahkan pada kebaikan, bukan hanya saat masih menjadi mahasiswa, tetapi juga ketika sudah menjadi alumni.

Harapan itu tetap sama: tetap menjaga arus kebaikan ini hingga nanti, setelah menyandang status alumni. Jangan pernah acuh tak acuh terhadap kabar kurang baik dari teman. Sebaliknya, berikan perhatian melalui nasihat dan pengingat yang lembut (mauidzoh hasanah).

Sebagaimana firman Allah:

وَذَكِرْ فَإِنَّ الذِكْرَى تَنْفَعُ المُؤْمِنِينَ

“Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (Adz-Zariyat: 55)

Ustadzah Ulin juga menegaskan pentingnya pertemanan dan lingkungan yang baik dalam perjalanan ini.

“Seorang yang berteman dengan penjual minyak wangi, maka ia akan terkena percikan harum yang menyenangkan. Sebaliknya, jika berteman dengan tukang besi, maka ia bisa saja terkena percikan panas dari besi yang ditempa. Maka, menjaga lingkungan pertemanan yang baik adalah bagian dari ikhtiar menuju ‘khitamuhu misk’ yang sesungguhnya,” ujarnya.

Menjelang kelulusan mahasiswi STIS Hidayatullah, inilah waktu yang tepat untuk memaksimalkan kebaikan. Khususnya bagi mereka yang memiliki target khatam sebelum lulus, inilah saatnya menuntaskan perjalanan itu.

Segala sesuatu ada masanya. Saat masih menjadi mahasiswa, adalah masanya untuk menerima ilmu dan pembelajaran. Namun ketika sudah lulus, tibalah masanya untuk memberi.

Seperti ungkapan bijak, “Barang siapa yang tidak memiliki sesuatu, maka ia tidak bisa berbagi.”

Tentunya, jalan menuju puncak bukan tanpa tantangan. Selalu ada suara-suara yang datang, entah sebagai kritik membangun atau sekadar angin lalu.

Maka, kebijaksanaan dalam menyikapi setiap komentar adalah kunci. Dengarkan yang bermanfaat sebagai bahan perbaikan diri, namun abaikan yang hanya menjadi penghambat langkah.

Kini, saatnya menutup perjalanan dengan sebaik-baiknya. ‘Khitamuhu misk’ bukan sekadar slogan, tetapi sebuah realita yang diperjuangkan dengan kesungguhan. Semoga langkah-langkah ini menjadi bekal, tidak hanya untuk kelulusan, tetapi juga dalam kehidupan setelahnya.

Pada suatu kesempatan berbeda, Ustadzah Ulin Nuha, menerangkan, “Khitamuhu misk.…” merupakan penggalan ayat dalam Al-Qur’an.

Penggalan ayat ini berarti “penutup yang wangi”. Pesannya jelas, para mahasiswi berada pada tahap akhir perjalanan di Kampus Hijau STIS Hidayatullah agar menutupnya dengan indah.* (@irfatunazhifah02/STIS/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

Baca juga: Meracik ‘Khitamuhu Misk’ ala Calon Sarjana

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *