Menitipkan Anak ke Pesantren Bukan Melepas, Orang Tua Harus Tahu 4 Pijakan Ini

Suasana penjemputan santri cilik KB-RA di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, pada hari pertama masuk sekolah tahun pelajaran 2025-2026, Senin (14/7/2025).* [Foto: SKR/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id | “KALAU Ibunda Nabi Musa bisa menghanyutkan bayinya ke sungai karena perintah Allah, mengapa kita masih ragu melepas anak ke pesantren?”

Kalimat itu membuka materi Ustadz Hodam Wijaya, MPP. Dalam kegiatan Zoom Meeting bertajuk “Sekolah Orang Tua”, pada Jumat (11/7/2025) malam.

Acara ini diselenggarakan oleh LPPH Gunung Tembak dan diikuti para wali santri dari seluruh unit pendidikan Ummulqura: KB-RA, MI, SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putra/Putri dan Wali Santri Pondok Tahfidz Ahlus Suffah.

Ustadz Hodam Wijaya mengingatkan para orang tua, bahwa menitipkan anak ke pesantren bukan sekadar urusan logistik, tetapi tindakan spiritual yang bermula dari niat dan ditopang oleh iman.

Anak adalah titipan Allah, maka harus dikembalikan kepada Allah dalam keadaan terbaik.

4 Hal Penting Pijakan Orang Tua

Dalam penyampaiannya, Ustadz Hodam merangkum empat hal penting sebagai pijakan bagi orang tua dalam membersamai perjalanan anak di pesantren.

Inilah titik balik yang perlu direnungkan bersama, agar amanah ini dijalani bukan sekadar secara lahir, tapi juga dengan kekuatan iman.

  1. Luruskan Niat. Anak dititipkan ke pesantren bukan karena sibuk atau ikut-ikutan, tetapi karena ingin Allah yang menjaga. Maka pendidikan ini harus dimulai dari niat karena Allah.
  2. Keshalehan Orang Tua = Benteng Terkuat.
    Anak tidak cukup dijaga oleh pagar pondok. Ia dijaga oleh ibadah orang tuanya. Saat anak qiyamulail di pondok, orang tua pun harus qiyamulail di rumah. Anak menghafal, orang tua pun harus menjaga Qur’annya.
  3. Jarak Boleh Ada, Kasih Sayang Tetap Harus Terasa
    Telepon singkat, kiriman hadiah kecil, dan perhatian sederhana bisa menjadi penyambung hati. Anak tidak rapuh karena jauh, tapi karena merasa ditinggalkan.
  4. Rumah & Pesantren Harus Satu Visi
    Orang tua adalah mitra pesantren. Jangan mencela guru di depan anak. Jangan membela pelanggaran hanya karena kasihan. Barakah ilmu hilang jika adab pada guru runtuh.

Bahasa Iman

Dalam sesi tanya jawab, Ustadz Hodam menambahkan satu hal penting: gunakan bahasa iman saat bicara dengan anak.

Ajak anak menyebut nama Allah dalam percakapan sehari-hari. Kaitkan setiap kejadian dengan ayat Allah.

Ustadz Hodam mencontohkan bagaimana cara menasihati anak yang dimusuhi teman.

“Nak, temanmu biasanya baik ya? Berarti Al-Qur’an benar ya, syetan itu membisikkan kejahatan. Jangan jauhi dia, tapi dakwahi. Kata Allah, watawāṣaw bil-ḥaqq.”

Atau saat anak mulai mendengarkan musik, orang tua bisa mengajak dialog lembut, “Nak, siapa yang memuliakan kamu hingga bisa menjadi penghafal Qur’an? Kira-kira Allah ridha tidak jika kamu isi telingamu dengan musik seperti ini?”

Bahasa iman bukan hanya menegur, tapi juga mengarahkan anak kepada Allah agar mereka belajar, menghafal, dan berbuat baik bukan karena takut, tapi karena cinta kepada Allah.

Ustadz Hodam Wijaya.* [Foto: Istimewa]

“Orang Tua yang Pantas Ditolong”

Ustadz Hodam menutup dengan kalimat yang menggetarkan hati:

“Kalau kita ingin anak-anak kita dijaga oleh Allah, maka kita pun harus menjadi orang tua yang pantas ditolong oleh Allah.”

Semoga pertemuan ini menjadi awal dari kebersamaan spiritual yang lebih kuat antara rumah dan pesantren dalam mengantarkan generasi Qurani menuju ridha dan surga-Nya.* (Itha/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *