Membangun Peradaban Islam Berawal dari Pengurus yang Memahami Visi Perjuangan

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat – Membangun peradaban Islam tidak cukup dengan banyaknya aktivitas dakwah dan program organisasi. Ia membutuhkan pengurus yang memahami ke mana arah perjuangan, mengapa dirinya berada dalam barisan dakwah, serta bagaimana setiap amanah diarahkan menuju cita-cita besar perjuangan.
Pesan tersebut disampaikan Ir. Amalia Husna Bahar, M.Pd.I., Anggota Majelis Mudzakarah Mushida yang akrab disapa Umi Yuyu, dalam tausiyahnya kepada Pengurus Wilayah (PW) Mushida Kalimantan Timur dan Pengurus Daerah (PD) Mushida Balikpapan.
“Apakah kita benar-benar mengetahui seperti apa peradaban Islam yang ingin kita bangun kembali? Kapan peradaban Islam itu pernah tegak pada masa Rasulullah ﷺ?” tanya Umi Yuyu.
Pertanyaan tersebut bukan untuk menguji para pengurus, tetapi menjadi ajakan untuk kembali meneguhkan pemahaman terhadap visi besar Hidayatullah. Menurutnya, pengurus harus menjadi orang pertama yang memahami arah perjuangan sebelum menanamkannya kepada kader-kader berikutnya.
Mengisi Ruang Kosong dalam Pemahaman
Umi Yuyu mengingatkan bahwa amanah sebagai pengurus bukanlah sebuah kebetulan. Allah telah memilih setiap orang yang berada dalam barisan dakwah ini jauh sebelum nama mereka tercantum dalam kepengurusan. Karena itu, setiap pengurus perlu memahami mengapa Allah menempatkannya di lembaga ini.
“Masih banyak ruang kosong dalam pikiran kita tentang mengapa kita berada di lembaga ini. Kalau ruang itu tidak diisi, bisa jadi halaqah yang kita sampaikan hanya berpindah dari teks ke teks. Kita berbicara, tetapi hakikat Allah justru tertinggal,” ungkapnya.
Ia mengajak para pengurus untuk tidak sekadar mengejar banyaknya aktivitas, tetapi memburu kualitas pengabdian. Dalam keterbatasan usia manusia, kehidupan ibarat wadah yang sama dengan isi yang berbeda. Ada yang mengisinya dengan amal yang berbobot di sisi Allah, ada pula yang berlalu tanpa meninggalkan nilai.
Dalam menjalankan amanah, husnuzan billah menjadi salah satu modal utama seorang pengurus. Umi Yuyu juga mengingatkan pentingnya memiliki tujuan yang sama, sebab organisasi tidak cukup dibangun dengan kemampuan teknis. Setiap pengurus perlu bergerak searah menuju cita-cita besar yang hendak diwujudkan.
Memahami Peradaban yang Dicontohkan Rasulullah ﷺ
Menjawab pertanyaan yang ia ajukan, Umi Yuyu mengarahkan perhatian peserta kepada kandungan Surah An-Nashr. Menurutnya, gambaran peradaban Islam yang dibangun Rasulullah ﷺ tampak ketika Allah memberikan pertolongan-Nya sehingga manusia berbondong-bondong memasuki agama Allah. Itulah potret masyarakat yang terikat kepada risalah Islam dan menjadi tujuan besar perjuangan dakwah.
“Kalau kita tidak memahami seperti apa peradaban Islam yang pernah dibangun Rasulullah ﷺ, bagaimana mungkin kita mampu membangunnya kembali?” ungkapnya.
Di akhir tausiyah, Umi Yuyu mengajak seluruh pengurus untuk terus mengisi diri dengan ilmu, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, memperbaiki “etalase” dakwah yang dimulai dari keluarga, memanfaatkan teknologi dalam kerja-kerja organisasi, serta membiasakan menyusun action plan agar setiap program berjalan terarah.
Silaturahim dan penguatan kelembagaan tersebut berlangsung di Kampus Induk Ummulqura Balikpapan, Ahad (12/7/2026). Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program, tetapi juga oleh pengurus yang memahami visi perjuangan, memiliki ruh pengabdian, dan bergerak bersama menuju terwujudnya peradaban Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ.*(Itha/@uqreat)
Recent Comments