Kisah Santri Gunung Tembak Jadi Pengacara di Jakarta, “Gara-gara” Matematika…

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- MASIH ingat perseteruan Aliansi Gabungan 40 Ormas Islam melawan Ade Armando dkk dalam kasus dugaan framing potongan ceramah Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia beberapa waktu lalu?
Dalam berbagai tayangan video yang beredar saat ramainya kasus itu, sang juru bicara Aliansi Gabungan 40 Ormas Islam, Syaefullah Hamid terlihat begitu tegas dalam setiap kalimat dan narasi dalam mematahkan argumentasi sepanjang perdebatan.
Tapi siapa sangka, sosok yang terlihat “garang” di depan lawan-lawannya itu justru punya kisah unik saat nyantri termasuk alasan mengapa harus terjun ke dunia laywer hingga sekarang.
Santri Gunung Tembak
Bang Syaeful, demikian sapaannya, adalah santri lulusan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Tempaan era 1990-an itu dikenal kental dengan didikan keras, kerja fisik di lapangan yang dominan dan berbagai keterbatasan serta keprihatinan lainnya.
“Masa santri itu, tidak pernah bercita-cita jadi advokat. Jangankan advokat atau lainnya, mikir lanjut kuliah saja, tidak ada saat itu,” ucap Syaefullah sambil mengingat-ingat beberapa kisah di masa nyantri dahulu.
Dalam satu kegiatan Kuliah Umum di hadapan ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Bang Syaeful mengatakan mungkin santri era sekarang punya ilmu dan wawasan yang lebih luas.
Tapi pendidikan zaman dahulu justru lebih membentuk karakter dan jiwa survival serta mental mandiri.
“Ini saja bekal merantau kuliah ke Jakarta waktu itu,” lanjut Bang Syaeful, yang saat ini diamanahi sebagai Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah.
Menghindari Matematika
Uniknya, masuk kuliah Fakultas Hukum bukan karena pilihan favoritnya. Gara-garanya, justru karena dia menghindari pelajaran matematika.
“Nah itu dia. Masuk kuliah hukum pun bukan karena mau jadi pengacara atau hakim. Pikiran sederhananya, belajar yang tidak ada matematikanya ya belajar Hukum,” ujarnya tertawa kala itu, Sabtu (13/6/2026) di Gunung Tembak.
Seiring waktu, putra kelahiran Bukumba, Sulawesi Selatan ini mengaku mulai belajar disiplin fokus dalam menuntaskan persoalan.
Ratusan buku dan jurnal tentang hukum terus dilahapnya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Hukum di Universitas Indonesia (UI).
Berbagai kasus di Tanah Air yang menimpa sejumlah tokoh, para ulama, dan umat Islam juga semakin meneguhkan pendiriannya.
Keadilan untuk Umat Islam
Kini, persoalan hukum baginya, lebih dari urusan universal dan kemanusiaan. Tetapi keadilan adalah bagian penting dari penegakan peradaban Islam.
“Isu radikalisme dan terorisme seringkali dialamatkan kepada umat Islam. Itu harus ada yang membela. Tidak bisa dibiarkan terus menerus,” ungkapnya.
“Santri adalah kader yang lahir dari rahim gerakan Islam. Kalian harus ambil tanggung jawab terjun melakukan edukasi dan advokasi ke masyarakat,” pungkasnya memanasi mahasiswa STIS Hidayatullah Balikpapan.* (Abu Jaulah/@Uqreat)
Recent Comments