Kesan Peserta ISCH III di Gunung Tembak: “Seperti Melihat Miniatur Peradaban Islam” [2]

Sambungan dari cerita pertama
Kisah dari Maluku Utara
Salah satu kisah perjuangan datang dari Maluku Utara. Peserta dari daerah Maba, Maluku Utara, harus naik melalui jalur darat selama enam jam menuju Ternate.
Dari Ternate, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat selama dua jam ke Makassar, kemudian diteruskan naik kapal lagi menuju Balikpapan.
Rute panjang ini menuntut kesabaran, apalagi mereka datang dari latar belakang yang sederhana, termasuk sebagian dari suku pedalaman Togutil.
Setibanya di pelabuhan, mereka harus mengangkat barang-barangnya sendiri. Tidak ada buruh atau porter yang membantu (tentu karena demi efesiensi anggaran).
Akibat kelelahan, ada yang sampai melempar koper demi bisa bergerak cepat di tengah berdesakan dengan peserta atau penumpang kapal lain. Bahkan, beberapa di antaranya sampai menangis karena letih. Namun, semua itu terbayar dengan kebahagiaan ketika akhirnya tiba di lokasi perkemahan Gunung Tembak.
Semangat & Rasa Syukur
Salah seorang peserta dari rombongan Enrekang mengungkapkan rasa syukurnya meski harus menempuh perjalanan panjang. “Kami lelah, tapi bahagia bisa sampai ke pusat (Gunung Tembak)”.
Senada dengan itu, Bina Dampin (Bindam) Fi’ah Ternate, Ustadzah Misna, juga menyampaikan perasaan yang sama.
“Sampai di sini saya terharu setelah perjalanan panjang, melihat anak-anak senang karena bisa lihat langsung Hidayatullah pusat.
Katanya, mereka tidak menyangka kalau Hidayatullah Gunung Tambak seluas dan sekeren ini. Seperti melihat miniatur peradaban Islam. MasyaAllah,” ucapnya dengan mata berbinar.
Peserta dari Berbagai Daerah
Sejak pagi, area perkemahan Gunung Tambak semakin padat oleh kedatangan peserta dari berbagai provinsi. Rombongan datang secara bergelombang, baik melalui darat maupun udara.
Masing-masing daerah menampilkan ciri khas Pramuka mereka. Ada yang membawa atribut budaya, ada pula yang menunjukkan kekompakan dengan yel-yel daerah masing-masing.
Semua menambah warna dalam suasana kemah pramuka nasional ini.
Antusiasme yang Menyala
Antusiasme peserta sungguh terlihat jelas. Raut wajah penuh semangat dan mata yang berbinar memperlihatkan semangat pramuka yang menyala.
Mereka tidak sabar untuk mengikuti rangkaian kegiatan ISCH III 2025 yang telah dipersiapkan panitia. Mulai dari lomba-lomba seperti LKBB, Rangking 1, Tampilan Kreasi Santri, Giat Edutrip, dan masih banyak lagi kegiatan seru lainnya.
Semua peserta yakin, pengalaman ini akan menjadi bekal berharga untuk kembali ke daerah masing-masing dengan semangat baru.

Menyatukan Pramuka se-Indonesia
ISCH bukan sekadar ajang kemah Pramuka, melainkan juga wadah persaudaraan. Di Gunung Tambak, semua peserta, dari Jawa hingga Papua, dari Sulawesi hingga Maluku, berkumpul dalam satu barisan pramuka Islam.
Mereka belajar tentang kebersamaan, pengorbanan, dan kemandirian, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah antar daerah.
Dengan semangat ini, ISCH III 2025 menjadi ajang untuk menumbuhkan generasi muda Islam yang tangguh, disiplin, sekaligus memiliki jiwa kepemimpinan.* (Qonita/Media ISCH III/STIS/@Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments