‘Halaqah Asham’, Cerita Mengharukan dari Kota Madinah

Ummulqurahidayatullah.id | “WUSSHH…!”
Aku yang sedang dilanda ngantuk berat siang itu, rasanya langsung tersulut emosi. Maksud hati ingin menikmati istirahat, apa daya tiba-tiba sekelebat bayangan bertubuh kecil lari dan melompat tepat di atas wajahku yang baru saja mulai rebahan.
Siang itu, matahari di Kota Madinah, Arab Saudi, bersinar terik. Cocoknya memang rebahan saja dulu, pikirku. Rutinitas perkuliahan lumayan menguras pikiran dan energi sejak pagi tadi. Belum lagi aktivitas di sejumlah halaqah di Masjid Nabawi yang rutin kuikuti sejak menimba ilmu di kota berjuluk Darul Hijrah itu.
“Wusshh…!”
Belum hilang rasa kaget sebelumnya, lagi-lagi sejumlah anak kecil kembali berlarian. Seperti mengejar dan berebutan sesuatu. Seolah takut ketinggalan atau kehilangan kesempatan. Sampai-sampai mereka nyaris tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
“Ah, pokoknya kalau lewat lagi, langsung saya tangkap kakinya,” aku tidak bisa lagi menahan marah.
Rasa ngantuk itu seperti menguap dan hilang. Bertukar jadi kejengkelan luar biasa atas tingkah bocah cilik (bocil) tersebut.
“Wusshh.. Plakk!!
Benar saja, sekali ayun, kaki-kaki kecil yang berlarian itu akhirnya langsung tertangkap tangan. Seperti pasrah, bocah itu seperti tak berkutik.
Siapa namamu? Kenapa berlarian di masjid? Mau ke mana bersama temanmu?
Bak peluru senapan AK-47, seberondong pertanyaan langsung mengadili anak kecil itu.
Anehnya, tak sepatah katapun keluar dari mulut bocah itu. Bibirnya tetap terkatup rapat. Sekilas, ia justru tampak tersenyum saja menatapku.
Sekian menit berlalu, anak itu tetap diam seribu bahasa. Bayang perilaku aneh itu seperti masih menggantung. Ada apa sampai harus berlarian dan berebutan di masjid.
Akhirnya, “sandera” cilik itu aku lepas begitu saja. Diam-diam aku beranjak mengikuti mereka. Penasaran saja, ada apa dan hendak ke mana mereka sebenarnya.
MasyaAllah, ternyata para bocil itu sudah duduk melingkar dengan seorang pria dewasa yang tampak duduk di tengah. Termasuk “sang tawanan” tadi. Iya, berhalaqah.
Layaknya halaqah-halaqah al-Qur’an atau majelis ilmu yang memang tersebar di mana-mana di Masjid Nabawi Madinah dan juga Masjidil Haram, Makkah.
Istimewanya, ternyata yang jadi “syaikh” atau musyrif (guru) al-Qur’an itu adalah kawan sebangku yang sama-sama kuliah di Fakultas Qur’an Universitas Islam Madinah (UIM). Namanya, Ustadz Fulan, dari negara fulan.
Tunggu! Seperti ada pemandangan yang aneh. Sekilas tampak ada tulisan “Halaqah Asham” yang jika diterjemahkan berarti “Halaqah Bisu”.
Ini halaqah apa ya? Didorong penasaran, aku langsung saja bertanya ke teman sebagai musyrif halaqah itu.
Tidak perlu saya jelaskan. Duduk saja di sini. Lihat apa yang terjadi sebentar. Jawabnya tersenyum kepadaku.
Salah seorang anak kemudian dipanggilnya maju ke depan. Bertepatan, yang maju duluan justru si tawanan kecil yang sempat diinterogasi tadi.
“Namanya Yusuf,” ucap kawan itu mengenalkan muridnya.
“Silakan setor hafalan al-Qur’annya,” titah sang guru.
Sejurus kemudian, aku tak benar-benar tak mampu berkata-kata lagi. Di depan mata kepalaku sendiri, aku melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Kumpulan anak-anak –mohon maaf– bisu dan tuli tetapi begitu bersemangat membaca dan menghafal al-Qur’an.
Jari jemari tangan yang mungil itu lalu bergerak dengan arah atau kode-kode tertentu sebagai simbol dari huruf-huruf al-Qur’an yang dilafalkan melalui gerakan tangan tersebut.
Mereka ternyata anak-anak istimewa yang ditakdirkan oleh Allah tak mampu mendengar dan tak mampu berbicara dalam hidupnya.
Aku lalu mengingat-ingat, pantas saja, si Yusuf hanya diam dan tersenyum kala kuberondong pertanyaan waktu itu.
Kondisi serba kekurangan dan terbatas demikian, namun bisa jadi mereka justru lebih utama dari orang-orang yang fisiknya terlihat sempurna.
Anak-anak kecil istimewa yang telah menjadi keluarga Allah (Ahlullah). Yakni orang-orang yang mempelajari dan menjadi penghafal al-Qur’an.*
(Dituturkan oleh Babah Aiman dalam acara Pembukaan Madrasah Ramadhaniyah Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Raadhiyaatan Mardhiyyah Putra, Sabtu, 1 Ramadhan 1446 H (1/3/2025). Ditulis oleh Masykur/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Bagaimana kesan Anda setelah membaca kisah di atas? Yuk bagikan di kolom komentar Instagram @Ummulqurahidayatullah, KLIK DI SINI!
Recent Comments