“Rasanya Ingin Kumasukkan Lagi Kamu ke Dalam Perutku”

Oleh: Itha M. Salbu*
Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Malam itu, pukul 23.01 WITA, Ummi yang sedang berada di Surabaya, Jawa Timur, tiba-tiba menelepon. Aku segera mengangkatnya, karena firasatku ada sesuatu yang penting.
”Itha, jangan lupa kunci pintu rumahmu, jendelamu. Jangan sampai lupa mengunci pintu kalau Abinya pergi shalat Subuh,” ujarnya dengan suara yang terdengar penuh kekhawatiran.
Sebuah pesan sederhana, namun menyimpan begitu banyak cinta. Kami bukan lagi anak gadis, tapi kepedulian Ummi terhadap keselamatan kami tidak pernah berubah.
Dulu, tahun 2013, saat aku bertugas di cabang Hidayatullah Batu Kajang, Tana Paser, Kaltim, rumah yang kami tinggali memang berada di posisi yang cukup rawan longsor. Hampir setiap kali hujan deras mengguyur Gunung Tembak, Balikpapan (tempat Ummi berdomisili), Ummi akan menelepon, memastikan keadaan rumah kami.
Jika HP-ku tidak aktif, Ummi biasanya akan menghubungi tetangga, meminta mereka menyuruhku mengaktifkan HP agar beliau tahu bahwa kami baik-baik saja.
Sampai ketika kami kembali tinggal di Gunung Tembak, setiap kali hujan deras disertai angin kencang, Ummi yang rumahnya tepat di belakang rumah kami biasanya akan mengetuk pintu.
Pesannya selalu sama, penuh perhatian: hati-hati dengan pohon sukun di samping rumah yang terlihat rapuh. Kami dilarang tidur di kamar yang dekat dengan pohon tersebut. Akhirnya, tetangga menebang pohon itu. Dan kekhawatiran Ummi pun perlahan berkurang.
“Masuk Perut Lagi”
Beberapa kali, saat kami yang 12 bersaudara menghadapi masalah besar, di sela tangisnya Ummi sering berkata,
”Rasanya ingin kumasukkan lagi kamu ke dalam perutku.”
Sebaris kalimat yang sederhana, tapi menyimpan makna yang begitu dalam. Tentang rasa ingin melindungi, tentang cinta yang begitu besar, meski pada akhirnya perjalanan hidup membuat seorang ibu tidak mungkin selamanya menjaga anak-anaknya seperti saat mereka kecil.
Kini, pada 6/2026 Masehi, usia beliau menginjak 75 tahun. Namun kasih sayangnya tetap sama. Beliau masih rutin membuatkan makanan sebagai oleh-oleh untuk anak-anak dan cucu-cucunya yang tersebar di berbagai daerah. Jangankan anak kandung, anak angkatnya yang jumlahnya puluhan pun mendapatkan perhatian yang sama.
Hari Keluarga
Bulan ini kita diingatkan tentang arti penting keluarga. Tanggal 29/6 diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional.
Namun tentu, perhatian dan cinta kepada keluarga bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan pada satu hari tertentu.Keluarga adalah tempat pertama kita mengenal kasih sayang. Dan di dalamnya, ada sosok ibu yang sering kali menjadi penjaga cinta yang paling tulus.
Tulisan ini juga menjadi pengingat untuk diri saya sendiri. Di tengah begitu banyak perhatian yang Ummi berikan, saya menyadari masih banyak kekurangan dalam membersamai beliau. Apa yang saya lakukan sebagai anak tentu belum sebanding dengan kasih sayang dan doa-doa Ummi selama ini.
Semoga kita terus belajar untuk lebih peduli dan lebih hadir bagi orang tua, sebelum waktu membuat kita hanya bisa mengenang.
Karena, jika saat ini kita merasa teguran dan suara marah ibu adalah sesuatu yang menjengkelkan, percayalah bagi mereka yang telah kehilangan ibu, suara itu bisa menjadi salah satu hal yang sangat dirindukan.*
- Penulis adalah warga Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Putri dari Almarhum Ustadz Manshur Salbu (Pembimbing Hidayatullah)
Recent Comments