Rais Am Hidayatullah: Jika Ada Santri Mau Belajar Tapi Tak Mampu Ekonominya, Jangan Ditolak!

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Selain aspek keilmuan dan spiritualitas, Rais Am Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengajak jamaah untuk membiasakan amalan-amalan sosial, salah satunya berinfak setiap hari.
Menurutnya, kebiasaan berinfak memerlukan proses panjang dan latihan yang berkesinambungan.
Rais Am Hidayatullah pun mengingatkan agar tidak mudah merendahkan orang-orang yang meminta bantuan.
Islam mengajarkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama. Bahkan, lanjutnya, Hidayatullah harus terus hadir memberikan pelayanan kepada umat, termasuk bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Hidayatullah hadir untuk melayani umat. Jika ada santri yang datang ingin belajar tetapi tidak mampu secara ekonomi, jangan ditolak. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang mendustakan agama,” pesannya KH Abdurrahman Muhammad saat menyampaikan tausiyah bakda Subuh di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (03/06/2026).
Bangun Budaya Disiplin
Rais Am Hidayatullah juga mengajak seluruh jamaah untuk tetap berada dalam sistem perjuangan Islam dengan membangun lingkungan yang beradab, berilmu, kuat spiritualitasnya, serta memiliki manajemen yang baik dan budaya disiplin yang kuat.
Rais Am Hidayatullah menegaskan, keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kedisiplinan, efektivitas kerja, dan kualitas pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Jadikan lembaga ini sebagai komunitas keilmuan yang kuat spiritualitasnya, baik manajemennya, dan mampu melahirkan generasi yang bacaan Al-Qur’annya bagus serta berakhlak mulia,” pesannya.
Di hadapan jamaah, santri, pengurus, guru, dan warga Hidayatullah Bontang, Rais Am menekankan pentingnya membangun generasi yang beradab, berilmu, dan memiliki spiritualitas yang kuat sebagai fondasi kebangkitan umat.
Menurutnya, pembangunan identitas keilmuan harus dimulai dari fondasi yang benar, yakni ilmu dan adab.
Ilmu-ilmu fardhu ain serta ilmu turats harus menjadi perhatian utama umat Islam, dimulai dari hal-hal mendasar seperti tata cara bersuci yang benar.
Sebab, kesalahan dalam memahami perkara-perkara dasar agama dapat berdampak pada tidak sahnya ibadah yang dilakukan.
“Orang yang mengetahui ilmunya tetapi tidak mengamalkannya, berarti belum beradab terhadap ilmu yang dimilikinya,” ungkap Rais Am Hidayatullah.* (irfatunazhifah02/@Uqreat)
Recent Comments