Bersyukurlah Jika Masih Bisa Ngantuk & Terlelap, Karena Ada Orang yang Tidurpun Takut

Oleh: Mujtahidah*
Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- “HEI, kangennya loh…” sapaku pada seorang teman yang tiba-tiba mampir ke gerbang sekolah. Sudah lama rasanya kami tak berjumpa.
“Baru bangun tidur, ya? Matanya masih bengkak,” ujarku bercanda.
Ia menatapku sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Aku justru sudah tiga hari tidak pernah tidur.”
Saya sempat mengira itu candaan. Sebab bagaimana mungkin seseorang benar-benar tidak tidur? Bukan begadang karena pekerjaan, bukan karena mengejar tenggat, bukan pula karena terlalu larut dalam tontonan atau kesibukan. Benar-benar tidak tidur. Tiga hari.
Namun wajahnya tidak sedang bercanda.
Matanya sembab. Wajahnya kusut. Sorot matanya menyimpan lelah yang sulit dijelaskan, seperti tubuh yang ingin beristirahat, tetapi pikirannya menolak diam. Pelan-pelan ia mulai bercerita.
Takut Tidur
Di lehernya, katanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Sensasi seperti benjolan kecil yang membuatnya gelisah. Makin dipikirkan, makin terasa. Dan makin terasa, makin besar rasa takutnya.
Sampai pada satu kalimat yang membuat saya diam cukup lama.
“Aku merasa seperti orang yang akan mati.”
Lalu ia melanjutkan dengan suara pelan:
“Aku takut tidur.”
Betapa berat rupanya sebuah rasa takut. Ia bukan sekadar membuat seseorang sedih atau gelisah. Kadang ia datang diam-diam, lalu mengambil hal paling sederhana yang kita miliki: ketenangan.
Malam hari menjadi waktu yang paling berat baginya. Ia sampai meminta suaminya mengajak keluar rumah, berjalan-jalan, berkeliling ke mana saja, hanya agar pikirannya sedikit lebih tenang.
Ia juga menghilang dari media sosial. Menjauh dari informasi. Menahan diri untuk tidak banyak bercerita tentang sakitnya. Bukan karena tak ingin didengar. Tetapi karena takut. Takut jika terlalu banyak mendengar cerita orang, ketakutannya justru tumbuh semakin besar.
Dokter sudah memeriksanya. Tenggorokannya dicek berulang kali. Bahkan alat dimasukkan untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
Tidak ditemukan apa-apa. Dokter menduga gangguan asam lambung memicu sensasi di tenggorokan, yang kemudian memperbesar kecemasan yang ia rasakan.
Sebelum menulis ini, saya sempat menghubunginya lagi.
“Bagaimana sekarang? Sudah bisa tidur? Sudah tidak terlalu overthinking?”
Ia menjawab:
“Alhamdulillah, setelah minum obat lumayan. Tapi belum seperti biasa.”
Lalu pesan berikutnya membuat saya membacanya pelan-pelan.
“Terkadang pikiran itu datang lagi kalau leher terasa banget. Kadang perasaanku enakan. Tapi kadang menggila lagi kalau leher benar-benar terasa mencetek.”
Kemudian di akhir pesannya ia menulis:
“Doakan sehat dan panjang umur ya. Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku.”
Entah mengapa bagian itu membuat dada saya sesak. Bukan karena kalimatnya panjang.
Justru karena begitu sederhana. Ternyata ada orang yang sedang sangat ketakutan, sampai didengarkan saja terasa seperti pertolongan.
Nikmat Tidur
Setelah percakapan itu, yang terus tinggal dalam pikiran saya bukan lagi tentang sakitnya.
Tetapi tentang rasa kantuk. Tentang tidur.
Tentang nikmat sederhana yang selama ini bahkan tak pernah masuk daftar syukur saya.
Sebab jujur, saya tidak selalu ingat mengucapkan:
“Ya Allah, terima kasih karena semalam aku bisa mengantuk dan tertidur.”
Padahal ternyata itu nikmat besar.
Karena di luar sana ada orang yang tubuhnya lelah, tetapi pikirannya terus berjaga.
Ada orang yang ingin tidur, tetapi rasa takut terus membangunkannya. Tidur ternyata bukan sekadar rutinitas. Ia ketenangan, ia hadiah, Ia nikmat yang sering kita abaikan karena terlalu sering kita rasakan.
Maka bila malam ini rasa kantuk datang, jangan buru-buru menganggapnya biasa.
Sebab mungkin, di luar sana ada seseorang yang sedang menunggu nikmat sederhana yang sering kita lupakan: Rasa ingin tidur.
Betapa banyak kebahagiaan yang Allah titipkan dalam hal-hal kecil, tetapi luput kita syukuri karena kita terlalu terbiasa menikmatinya.*
- Penulis adalah Ibu Rumah Tangga di Balikpapan
Recent Comments