Menjadikan Halaqah Menjawab Kelelahan Hati Manusia

Oleh: Mas Imam Nawawi*
Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- DALAM sebuah komunitas, barisan, gerakan atau jamaah, bahkan negara, kesatuan hati adalah inti.
Inti bagi terangkainya kekuatan yang mengokohkan bangunan, sehingga eksistensinya memberi dampak kebaikan.
Akan tetapi semakin maju teknologi, sampai sekarang era AI, hal seperti itu (kesatuan hati) tidak bisa diotomatisasi. Hati tetap merupakan raja dalam diri manusia, yang tak bisa diatur oleh fasilitas dan teknologi. Untungnya kita memiliki satu wadah strategis, yaitu halaqah.
Ben Sasse, kolumnis the Journal and for WSJ Opinion’s Free Expression newsletter mengatakan bahwa manusia semakin jarang berinteraksi. Terutama sejak era AI datang. Manusia semakin hidup dalam kesepian dan bahkan AI sendiri dinilai efektif merusak kepercayaan institusi.
Penerima penghargaan Alexander Hamilton dari Manhattan Institute (Mei 2026) itu lebih dalam mengungkap fakta menyedihkan. Sejak 1990 warga Amerika mengaku kepada lembaga survei bahwa mereka tak lagi memiliki teman dekat. Dan kondisi itu meningkat empat kali lipat setiap tahunnya.
Bahkan menurut riset dari Universitas Arizona dalam 15 tahun terakhir, rata-rata orang Amerika hanya mengucapkan 338 kata. Lebih sedikit per hari daripada tahun sebelumnya. Dan itu berarti berkurang sebanyak 120 ribu kata dalam setahun.
Dalam pengalaman sebagian orang di Indonesia, orang yang tadinya akrab, berkata-kata banyak, kemudian irit kosa kata dan berhenti, itu bisa jadi tanda dari adanya “keretakan” hubungan. Dan itu soal hati yang tidak utuh, alias sedang ada retakan.
Nah, halaqah bisa menjadi media untuk kembali terjalinnya hubungan baik satu sama lain.
Jeda dari Urusan Kerja
Kerja mendapatkan penghasilan, mencari nafkah, sejatinya adalah sarana atau wasilah untuk kita menjalankan tujuan utama sebagai hamba Allah, yaitu beribadah.
Dalam hal ini maka bekerja harus menjadi sebuah sarana saja, bukan tujuan hidup.
Oleh karena itu, dalam sejarah Hidayatullah, kader bisa bekerja menjadi apa saja dan berubah kapan saja. Karena hakikatnya adalah sarana. Tujuannya beribadah.
Kalau kita perhatikan lagi, bagi sebagian orang Amerika, dunia bisa mereka kuasai, tapi apa maknanya kalau manusia justru kehilangan jiwa, bahkan kehilangan keluarga dan teman dekat, serta tak bisa berkata-kata kecuali sangat singkat.
Pernah tidak membayangkan orang hidup dengan limpahan kekayaan, tapi teman tidak punya. Bukankah setiap orang butuh “ngobrol”. Ucapan yang hanya 338 kata, untuk jadi satu artikel yang bisa menjelaskan satu masalah saja kurang. Dalam pengalaman pribadi, minimal dalam menulis saya butuh 500-600 kata dalam satu artikel.
Jadi, halaqah adalah ruang kita mengembalikan kesadaran akan tujuan hidup kita, beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Benar, bekerja bagian dari ibadah, tapi itu tidak berarti membuat kita tidak perlu bertemu. Bukankah silaturahim adalah sunnah. Dan bukankah dalam halaqah kita bisa mengamalkan sunnah itu.
Halaqah yang Menjawab
Meski demikian, halaqah juga tidak bisa otomatis langsung menjadi wadah solutif bagi semua kader dan anggota. Perlu desain yang lebih segar, relevan dan menjawab soal-soal yang kini dunia sudah “meradang” karena perkembangan teknologi dan budaya yang menjauhkan manusia dari hatinya sendiri.
Desain itu tak perlu rumit. Cukup menjalankan aplikasi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menjawab kegelisahan umatnya. Suatu hari ada seseorang menemui beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia mengeluhkan kondisi ekonominya akibat tak punya pekerjaan.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam langsung memberikan modal berupa kampak. Kemudian orang itu menjalankan instruksi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mencari kayu kemudian jual ke pasar.
Beberapa hari kemudian orang itu menghadap kepada Nabi dan ekonominya mulai tumbuh. Artinya ia terbebas dari pengangguran dan selamat dari ancaman kemiskinan ekstrem.
Tentu ada begitu banyak kisah-kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang lainnya. Semua itu harus menjadi bahan penguasaan murabbi dalam membina halaqah.
Jika itu terjadi, ke depan dakwah pun bisa dilakukan oleh setiap halaqah untuk menjadi bagian problem solver keumatan dan kebangsaan. Dan itu insya Allah tinggal sedikit upaya bersama, yang basisnya adalah kesatuan hati.
Betapa indah kalau halaqah ke depan mampu menjadi satu pola penyelamatan kehidupan manusia secara lahir dan batin. Bukan tak mungkin negara bahkan dunia akan mengaplikasikannya. Dan sangat mungkin sinar peradaban Islam yang mendunia benar-benar terbit dari Timur, Indonesia. Semoga.*
- Penulis adalah Ketua Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah
Recent Comments