Mengenal Hidayatullah Farm, Unit Agrowisata di Gunung Binjai

Ummulqurahidayatullah.id | SALAM dari (Gunung) Binjai! Ini bukan cerita viral tapi layak diviralkan.
Pondok pesantren berdaya dan mandiri bukanlah ilusi atau mimpi di siang bolong.
Itulah tekad bulat Ustadz Moch Ainun Najib, ketika diamanahi merintis Unit Agrowisata atau Agrobisnis di kampung Gunung Binjai, Kel. Teritip, Kec. Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Bermodal selembar SK (Surat Keputusan) yang diterbitkan oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, pelan tapi pasti, Najib mulai membangun mimpi itu.
Bersama para santri dan guru-guru Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah, mereka lalu bekerja keras setiap waktu.
Selain itu, Najib dan timnya juga kerap bersilaturahim kepada siapa saja untuk memperluas jaringan dan relasi.
“Harapannya, selain menambah berkah sekaligus melapangkan rezeki dan terpenting juga menimba ilmu dari mereka yang sudah pengalaman dan expert di bidangnya,” ucap Najib saat dihubungi Media Center @Ummulqurahidayatullah beberapa waktu lalu.
Jatuh Bangun
Lazimnya usaha yang baru dirintis, bukan sekali Hidayatullah Farm (Hi Farm) merasakan jatuh bangun. Berbagai usaha juga terus dicoba. Mulai dari peternakan ayam, kambing, dan pemeliharaan kuda.
Sebelumnya, Mas Najib, sapaannya, juga pernah berikhtiar menanam ratusan tanaman cabai, jagung, pepaya, hingga pohon anggur dan alpukat.
Selain menambah pengalaman, usaha itu bukan tak berhasil, ia bahkan sempat kewalahan meladeni permintaan pasar untuk memasok, khususnya cabai tersebut.
“Butuh perawatan maksimal dan harga yang sangat fluktuatif,” jelasnya menerangkan pengalaman tersebut.
Filosofi Logo Hi-Farm
Kini, sejak beberapa tahun terakhir, Hi-Farm fokus pada usaha peternakan kambing dan sapi. Ia pun sudah merilis logo sebagai identitas visual brand Hi Farm beserta sejumlah landasan filosofinya.

“Papan meja mushaf al-Qur’an itu penyangga peradaban. Artinya visi misi usaha Hidayatullah harus berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an.
Kalau ikon kepala domba itu simbol salah satu sunnah Nabi Muhammad dengan beternak Domba,” ucapnya tentang beberapa ikon pada logo Hi-Farm itu.
“Tanaman (hasil) sebanyak 5 buah yang tumbuh ke atas melambangkan komitmen untuk tumbuh dan sukses sejahtera bersama dalam menerapkan nilai Islam di sektor usaha (Agronomi dan Wisata).
Sedang bingkai 8 arah anak panah itu selain ikon Hidayatullah juga bermakna besaran pendapatan usaha berbanding lurus dengan sebaran manfaatnya. Islam Rahmatan lil alamin,” sambungnya.
Tren Positif
Disyukuri, kepercayaan para investor dan tren penjualan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Meski masih berusia jagung, tetapi pada tahun 2024 lalu, Hi-Farm (saat itu masih bernama Medina Resort), berhasil menjual sapi 6 ekor dan domba 2 ekor.
Berikutnya, tahun 2025 pada momen Idul Qurban 1446 H lalu, penjualan Hi-Farm meningkat, sapi 21 ekor dan domba 12 ekor. “Sempat juga menjualkan sapi milik rekanan sebanyak 2 ekor,” ucapnya.

Didukung BMH
Gayung bersambut, selain kepercayaan para investor yang terus meningkat, Hi-Farm juga tak henti meperluas jaringan relasi dan berkolaborasi dengan sejumlah pihak. Di antaranya, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur.
Dengan program pemberdayaan ekonomi, BMH ikut mendorong para santri dan ustadz (guru) untuk terlibat langsung dalam usaha peternakan sapi dan domba.
“Program ini tidak hanya tentang hasil ternak. Tapi lebih jauh, kami ingin menjadikan peternakan sebagai sumber penghasilan bagi pesantren. Sekaligus tempat belajar kewirausahaan bagi para santri,” ujar Achmad Rifai, Kepala Divisi Pemberdayaan BMH Kaltim, dikutip dari laman resmi BMH, Senin (26/5/2025).
“Bersyukur atas dukungan BMH dan semua pihak. Ini membuka sumber ekonomi baru bagi pesantren dan menjadi sarana belajar yang nyata bagi santri,” katanya sekaligus menitip untuk terus didukung dan didoakan menjadi program yang berkembang berkelanjutan.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments