Horizon Harapan: Antara Akurasi dan Presisi [Juara 1 Lomba Menulis]

[Ilustrasi] Pelangi di atas langit Gunung Tembak. [Foto: Muh. Abdus Syakur/MCU]

Oleh: Mujahid M. Salbu*

CAPAIAN-capaian impresif terukir dalam catatan setengah abad perjalanan Hidayatullah. Kehadiran kampus-kampus sebagai miniatur peradaban Islam adalah salah satu saksi sejarah dalam gerakan dakwah dan tarbiyah.

Langit menyiratkan horizon harapan yang terbentang dari timur hingga barat. Harapan yang berarak mengikuti garis perjuangan. Perjalanan yang ditingkahi tantangan dan peluang. Di antaranya menjaga soliditas imamah jamaah, karena dalam sejarah begitu banyak pergerakan yang pecah bahkan hancur berkeping-keping.

Sejak awal para pendiri dan perintis telah membangun pondasi yang kokoh untuk menjaga soliditas agar dapat mewujudkan visi misi harakah ini. Puing-puing reruntuhan pergerakan dihimpun sebagai bacaan sejarah, mengais hikmah dan pembelajaran, agar Hidayatullah tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Metodologi pergerakan dirangkum berdasarkan manhaj Nabawi yang tertuang dalam konsep sistematika wahyu. 50 tahun perjalanan Hidayatullah, konsep ini telah menyatu dalam tarikan napas jamaah dan individu. Irama dalam derap langkah yang tidak semata mengantarkan pada kesuksesan duniawi tetapi juga ukhrawi.

Hari ini, Hidayatullah tengah bergerak di bawah horizon harapan, tantangan lainnya, membawa manhajnabawi masuk dalam sendi-sendi kehidupan ummat, agar kenikmatan berislam lesap ke dalam geliat kehidupan kaum muslimin. Ekspansi konsep sistematika wahyu adalah keniscayaan, ruang-ruang kehidupan masyarakat menanti solusi atas berbagai persoalan. Tugas para kader merumuskan konsep itu dengan pendekatan kekinian sesuai perkembangan zaman.

Untuk mengatasi dua tantangan di atas dibutuhkan paling tidak dua hal. Akurasi dan presisi, dari sisi bahasa akurasi dan presisi memiliki arti yang sama tetapi dari perspektif ilmu pengetahuan. Statistik, misalnya, ada perbedaan makna; akurasi menunjukkan kedekatan hasil pengukuran dengan nilai sesungguhnya, presisi menunjukkan seberapa tidak jauh perbedaan nilai pada saat dilakukan pengulangan pengukuran.

Dalam konteks organisasi, akurasi adalah ketepatan mencapai target atau tujuan, sementara presisi lebih ke harmonisasi internal (kebersamaan) dalam mencapai tujuan. Aturan-aturan yang dibuat bertujuan memudahkan pergerakan sekaligus mendorong percepatan untuk menyelesaikan program kerja di semua hierarki organisasi. Namun, di satu sisi, harmonisasi antarkomponen di tubuh organisasi tetap harus dijaga.

Apalah artinya capaian dan prestasi komponen yang ada di internal jika kemudian menyisakan konflik atau sengketa hati. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al Hasyr ayat 13.

“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada berakal.”

Prestasi tertinggi dalam imamah jamaah ketika soliditas dan ukhuwah terjaga dengan baik. Tentu yang ideal mengukir capaian mengesankan dengan kekuatan imamah jamaah (ukhuwah).

Soliditas bisa terjaga jika mampu mengeliminasi ego sektoral (dominasi kepentingan institusi) dan ego sentris (dominasi kepentingan pribadi). Sehingga dalam menyikapi sebuah persoalan bisa lebih objektif. Menempatkan kepentingan imamah jamaah yang dilandasi Al Quran dan As Sunnah sebagai panglima tertinggi.

Para Pendiri Hidayatullah khususnya Ustadz Abdullah Said Rahimahullah dan para perintis Hidayatullah sebagaimana terekam dalam catatan harian ayahanda, Ustadz Manshur Salbu Rahimahullah di awal perlangkahan Hidayatullah, berupaya keras membangun soliditas jamaah. Misalnya yang sederhana, dalam sebuah pengarahan, Ustadz Abdullah Said menegaskan untuk menghilangkan budaya ngolok (bullying) di antara santri. Jika terjadi konflik di kalangan pengurus atau santri diselesaikan dengan sangat hati-hati. Ustadz Abdullah Said dan pengurus lainnya juga senantiasa mencermati suasana kebatinan warga dan santri.

Seluruh upaya menjaga soliditas akan lebih mudah jika berada dalam bingkai Surah Al Alaq lebih spesifik pada ayat 6-8 yang dijabarkan oleh Ustadz Abdullah Said dan para pendiri sebagai konsep pengikisan thaga (mengikis kesombongan atau merasa lebih dari yang lain).

Inilah pondasi besar yang menopang akurasi dan presisi yang mengantarkan Hidayatullah, hingga di usia ke-50 atas pertolongan Allah Ta’ala mampu melakukan akselerasi yang diiringi keharmonisan dalam sebuah rumah besar “ruhamaa’u bainahum”, menebarkan kasih sayang kepada sesama (QS Al Fath ayat 29).

Konsep pengikisan thaga pada awal Hidayatullah diformalkan dengan indikator-indikator tertentu untuk mengukur keberhasilan seorang kader melewati proses pengikisan thaga. Konsep ini kemudian melahirkan kultur tawadhu atau rendah hati yang menjadi karakter kader Hidayatullah.

Jika karakter ini dapat dipertahankan, maka akan memudahkan para kader bersikap assam’u wa tho’a ketika mendapatkan tugas.Karakter yang membuat para kader tidak berebut jabatan, tidak berebut asetdan lapang dada atas ketetapan-ketetapan dari Allah Ta’ala.

Dengan sikap demikian, maka peluang yang terbentang di depan mata akan dapat terangkai dalam visi besar Hidayatullah, membangun peradaban Islam. Tanpa karakter yang terbangun dari kultur Al Alaq, peluang bisa menjadi ancaman, tawaran bisa menjadi malapetaka dan anugerah dapat berubah menjadi musibah. Sebagaimana kisah dalam sejarah seperti yang terjadi dalam Perang Uhud ketika pasukan pemanah turun dari gunung untuk berebut ghanimah.

Hari ini, demikian banyak peluang yang menghampiri Hidayatullah. Misalnya, wakaf tanah untuk kampus-kampus atau sarana belajar. Demikian juga di ranah ekonomi melalui Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) dapat memaksimalkan jaringan Hidayatullah di seluruh Indonesia. Di bidang budaya dengan membangun kultur kehidupan Islami melalui kampus-kampus peradaban.

Di bidang sosial dengan peran-peran yang dijalankan organisasi pendukung seperti IMS dan SAR Hidayatullah serta amal usaha seperti BMH, kiprah yang selalu dinanti oleh ummat.

Horizon yang berkelindan tantangan dan peluang akan terlihat indah, jika seluruh unsur harmonis. Rendah hati tetapi dinamis, diiringi ketulusan dan keikhlasan berjuang semata karena Allah Ta’ala. Aamiin. Wallahu a’lam.*

*Penulis tinggal di Tanjung Pinang, Kepri. Karya ini meraih Juara 1 Lomba Menulis Essay Nasional yang digelar Pemuda Hidayatullah Balikpapan dalam rangka Milad ke-50 Hidayatullah, Muharram 1443H

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *