Napak Tilas Setengah Abad Hidayatullah: Wujud Transformasi dan Rejuvenasi [Juara 2 Lomba Menulis]

[Ilustrasi] Pelantikan pengurus DPP Hidayatullah pada Munas V di Kota Depok, Jawa Barat. [Foto: Muh. Abdus Syakur/MCU]

Oleh: Najmatun Nahdhah*

MENAPAKTILASI 50 tahun perjalanan Hidayatullah dengan proses aktualisasi organisasi, adalah hasil dari perpaduan kepemimpinan yang mengagumkan dan kader yang militan. Hal ini dibuktikan dengan menyebarluasnya sayap organisasi ke penjuru negeri.

Di 681 titik peta Nusantara saat ini, ada jejak juang kader Hidayatullah yang tak kenal lelah menyemai kebaikan. Dengan kerja nyata, meninggalkan karya. Seperti yang digaungkan oleh Allahuyarham Abdullah Said kepada para kadernya, untuk bekerja di alam realitas, bukan di alam cerita. Penugasan adalah pintu terbentangnya Hidayatullah dari Sabang sampai Merauke, namun ketaatan adalah kuncinya.

Kepemimpinan adalah tentang figur. Pemimpin adalah sosok yang dipilih oleh ummat untuk mempertanggungjawabkan ummat itu sendiri. Di dunia hingga ke akhirat. Dengan  ber-imamah adalah amunisi Hidayatullah untuk membangun peradaban.

Dua pemimpin Hidayatullah, adalah sosok-sosok fenomenal yang selalu berusaha maksimal dalam penghambaan kepada-Nya, mengikuti jejak nubuwah dan menjadi teladan bagi jamaah. 

Adapun ketaatan, adalah nilai utama dari proses pengkaderan ini. Ia menjadi faktor penentu berkembangnya sebuah organisasi. Kepemimpinan tanpa ketaatan adalah mustahil. Regulasi tanpa ketaatan adalah kesia-siaan. Maka rejuvenasi kader bukan sekadar kualitas keilmuan, tetapi juga kualitas ketaatan.

Usia organisasi ini terbilang muda jika dibandingkan dengan organisasi massa Islam lainnya, namun bagi hitungan usia manusia, maka ia berada pada titik krusial namun juga potensial. Kehilangan pendiri, pembimbing, dan para senior adalah tantangan yang amat berat. Jika proses pengkaderan tidak maksimal, maka sosok-sosok yang telah mendahului tidak akan ada pengganti.

Namun kehilangan sosok bukan berarti kehilangan peluang untuk memperpanjang napas perjuangan, justru ia menjadi peluang yang amat menggiurkan bagi para kader dakwah, bahwa mengkader atau mati bukan hanya sekadar slogan tetapi sebuah kewajiban.

Kebutuhan akan kader adalah kebutuhan utama seluruh organisasi saat ini. Tak ayal, banyak yang berusaha mencari dan mengumpulkan kader meski dengan cara-cara yang kurang baik, seolah-olah menghalalkan segala cara.

Doktrinisasi marak di kalangan aktivis kepemudaan, menyasar kalangan mahasiswa bahkan yang jelas-jelas sedang dikader oleh organisasi lain. Ini menunjukkan urgensi kader itu sendiri.

Polemik yang terjadi di negeri ini mengharuskan Hidayatullah sebagai organisasi massa untuk mampu bertahan dan mengakar dengan kuat. Ibarat pohon, akar yang kuat tidak akan tercerabut meski dahan dan daun digoyahkan oleh angin.

Maka peluang untuk menguatkan akar organisasi ke depannya haruslah sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan  ummat, dengan tidak meninggalkan visi, misi, dan jati diri Hidayatullah.

Pertama, optimalisasi peran pemuda. Pemuda adalah inti dari sebuah organisasi atau harokah. Rasulullah ketika memulai dakwahnya memberi porsi khusus kepada para pemuda, hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa assabiqunal awwalun  didominasi oleh para pemuda.

Pun demikian adanya Pesantren Hidayatullah, yang menjadi ujung tombak berdirinya pesantren ini adalah pemuda.

Oleh sebab itu, merupakan kewajiban bagi harokah ini untuk mempertahankan tradisi pemudanya, yang memiliki ghiroh perjuangan dan konsistensi di jalan dakwah. Seiring dengan perkembangan digital, semakin sulit tantangan yang dihadapi, oleh karenanya, wadah kepemudaan Hidayatullah diharapkan bisa merangkul semua kalangan, baik yang masih dalam masa pendidikan, yang baru bergabung dengan harokah, atau yang terlanjur lepas dari jalan perjuangan.

Kelangsungan tarbiyah dan dakwah ada di tangan pemuda, sehingga bijak kiranya jika pemuda lebih sering dilibatkan dalam penyusunan ide-ide strategis.

Baca juga: Horizon Harapan: Antara Akurasi dan Presisi [Juara 1 Lomba Menulis]

Kedua, digitalisasi dakwah dan tarbiyah. Konsep dakwah dan tarbiyah akhir-akhir ini semakin menguat di media sosial.

Oleh karenanya, perlu dimaksimalkan kemampuan IT (informasi teknologi, red) para santri, baik yang masih dalam masa pendidikan di pondok ataupun di lembaga pendidikan tinggi lainnya. Sebab, di masa mendatang bukan mustahil digitalisasi dakwah dan tarbiyah adalah keharusan, sehingga penting untuk mempersiapkan generasi agar tidak bablas berdigital, namun juga tidak gagap teknologi.

Para kader harus didorong untuk kreatif membuat konten-konten dakwah dan syiar kebaikan, bukan justru latah dengan konten-konten tidak berfaedah yang digandrungi remaja masa kini. Lebih baik dipersenjatai dengan keahlian daripada dibiarkan dalam ketidaktahuan yang bisa berakibat fatal di kemudian hari.

Ketiga, halaqohsebagai core system. Transfer ilmu dan adab yang paling optimal adalah sebagaimana pola pendidikan yang dipraktikkan oleh Nabi, yakni melalui halaqoh. Oleh karenanya yang menjadi ciri khas kader Hidayatullah adalah keterikatannya dengan halaqoh.

Yang menjadi permasalahan, kader-kader yang semakin banyak jumlahnya dan tersebar di berbagai daerah dan negeri, seringkali abai terhadap urgensi halaqoh ini. Oleh karenanya, perlu adanya pendataan yang sistematis terhadap para kader dan dibuatkan kurikulum kepemudaan yang memuat dasar-dasar pemikiran organisasi atau sistematika wahyu, sehingga para pemuda bisa lebih mengkaji dan mendalami harokah ini.

Halaqoh sebagai pilar organisasi, jika tidak didukung oleh para pemangku kebijakan, maka ditakutkan lama kelamaan tradisi mulia ini terlepas tanpa ampun. Alangkah baiknya jika halaqoh pemuda ini terorganisir dengan baik, sehingga outcome-nya juga sesuai dengan apa yang diharapkan.

Keempat, Penguatan Kontrol. Kegiatan apapun, jika tidak disertai kontrol yang baik tidak akan konsisten.  Pun demikian halnya dengan organisasi, sejarah telah membuktikan bahwa organisasi yang minim kontrol akan kolaps dalam waktu singkat. Kontrol yang kuat adalah kunci suksesnya organisasi.

Oleh karenanya, setelah dilakukan pendataan terhadap kader, wajib untuk mengontrol mereka secara rutin. Bentuk pengontrolan bukan dengan cara-cara militer, namun bisa lebih humanis dan kekeluargaan. Penguatan kontrol lebih efektif jika dilakukan oleh pengampu amanah, para pembimbing dan Ustadz-ustadz senior yang dikemas dalam bentuk kajian rutin, sehingga terjalin kedekatan secara kekeluargan dan kelembagaan.

Dengan penguatan empat pilar penting ini, pengembangan organisasi dan peningkatan kualitas kader adalah bukanlah hal yang mustahil. Dengan kerja keras dan do’a, maka Allah tidak akan membiarkan cita-cita para hamba-Nya hanya menjadi catatan di atas kertas. Insya Allah.*

*Penulis tinggal di Kampus Hidayatullah UmmulQura, Balikpapan, Kaltim. Karya ini meraih Juara 2 Lomba Menulis Essay Nasional yang digelar Pemuda Hidayatullah Balikpapan dalam rangka Milad ke-50 Hidayatullah, Muharram 1443H

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *