Rais Am Hidayatullah Tekankan Pentingnya Bangun Generasi Beradab, Berilmu, & Berspiritual Kuat

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Rais Am Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, menyampaikan tausiyah bakda Subuh di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (03/06/2026).

Di hadapan jamaah, santri, pengurus, guru, dan warga Hidayatullah Bontang, Rais Am menekankan pentingnya membangun generasi yang beradab, berilmu, dan memiliki spiritualitas yang kuat sebagai fondasi kebangkitan umat.

Menurutnya, pembangunan identitas keilmuan harus dimulai dari fondasi yang benar, yakni ilmu dan adab.

Ilmu-ilmu fardhu ain serta ilmu turats harus menjadi perhatian utama umat Islam, dimulai dari hal-hal mendasar seperti tata cara bersuci yang benar.

Sebab, kesalahan dalam memahami perkara-perkara dasar agama dapat berdampak pada tidak sahnya ibadah yang dilakukan.

“Orang yang mengetahui ilmunya tetapi tidak mengamalkannya, berarti belum beradab terhadap ilmu yang dimilikinya,” ungkap Rais Am Hidayatullah.

Rais Am juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama terdahulu.

Menurutnya, para ulama hadits mampu menghafal ribuan hadits dan mengabdikan hidup mereka untuk menjaga dan menyebarkan ilmu.

Kenangan Rais Am

KH Abdurrahman pun mengenang masa kecilnya ketika harus menghafal hadits Arba’in An-Nawawiyah sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Saat itu, para murid diminta menghafalkan hadits di hadapan teman-temannya sehingga tumbuh semangat untuk terus belajar dan menghafal.

Selain itu, mereka juga dibiasakan mengikuti berbagai perlombaan pidato, sajak, dan puisi yang melatih keberanian serta kemampuan berbicara di depan umum.

Menurut Rais Am Hidayatullah, penguasaan ilmu turats tidak dapat dipisahkan dari kekuatan spiritual.

Para ulama besar seperti Ibnu Taimiyah mampu menghasilkan karya-karya monumental karena memiliki kedekatan yang kuat dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

Demikian pula para ulama hadits yang menulis karya-karya besar dengan tangan mereka sendiri pada masa ketika teknologi modern belum tersedia.

Rais Am Hidayatullah juga menyinggung kejayaan peradaban Islam yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.

Ketika bangsa Eropa memasuki Andalusia dan menyaksikan perpustakaan-perpustakaan Islam yang dipenuhi kitab-kitab berjilid-jilid, mereka dibuat kagum oleh kemajuan ilmu yang dimiliki umat Islam saat itu.

Dalam tausiyahnya pun, Rais Am Hidayatullah menegaskan bahwa identitas pertama seorang mukmin adalah menjadi ahlul Qur’an. Ia mengutip firman Allah Subhanahu Wata’ala:

“Yatlūnahu haqqa tilāwatihī ulā`ika yu’minūna bih”.

Perbaiki Bacaan Al-Qur’an

Oleh karena itu, setiap Muslim harus terus memperbaiki bacaan Al-Qur’annya. Rais Am Hidayatullah mencontohkan bahwa hingga saat ini dirinya masih terus belajar tahsin dan tajwid, serta berupaya menjaga kualitas tilawah dengan memperhatikan makhraj dan sifat huruf secara benar.

Ia menekankan, belajar Al-Qur’an harus dilakukan melalui talaqqi kepada guru-guru Al-Qur’an yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

“Di sini saya lihat ada Hamdan. Ini orang Gunung Tembak pertama yang mendapatkan sanad dari Ustadz Baharun Musaddad. Manfaatkan kehadirannya. Datang kepadanya, belajar talaqqi,” ujar Rais Am.

Menurutnya, adab dalam membaca Al-Qur’an bukan perkara sederhana. Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menerima bacaan Al-Qur’an melalui talaqqi dari Malaikat Jibril Alaihissalam.

Oleh karena itu, setiap Muslim harus terus belajar dan tidak merasa cukup dengan kemampuan yang telah dimiliki.

Rais Am Hidayatullah juga mengakui bahwa dirinya masih terus belajar meskipun telah lama mengajar Al-Qur’an.

“Saya belajar Al-Fatihah saja lama sekali. Padahal saya guru ngaji juga, tetapi ternyata masih banyak yang perlu diperbaiki,” tuturnya.* (irfatunazhifah02/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *