DLH Pemprov Kaltim: Abai Terhadap Sampah adalah Persoalan Serius

Ummulqurahidayatullah.id | @uqreat- Persoalan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.

Kesadaran itulah yang diangkat dalam Seminar Lingkungan bertema “Pengolahan Sampah Organik Berbasis Edukasi Lingkungan” gelaran Mushida Kalimantan Timur baru-baru ini.

Pentingnya Pengolahan Sampah

Seminar ini sebagai rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW Mushida Kaltim. Panitia menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur, Syamsuddin, S.Kom., selaku Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Pertama.

Dalam pemaparannya, Syamsuddin menjelaskan pentingnya pengolahan sampah organik sejak dari sumbernya melalui komposting, pupuk organik cair (POC), hingga eco-enzyme.

Ia juga mengingatkan, sampah organik yang bercampur dengan sampah non-organik di TPA dapat memicu pencemaran, penyebaran penyakit, hingga menghasilkan gas berbahaya yang berdampak bagi masyarakat luas.

“Kita sebagai orang Islam memahami bahwa membawa kemudaratan kepada orang lain itu adalah dosa.

Maka persoalan abai terhadap sampah ini adalah persoalan serius yang harus diperhatikan bersama,” tegas Syamsuddin di Gedung STIS Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Kota Balikpapan, Jumat (1/5/2026).

Kerja Sama Mushida – DLH Kaltim

Seminar ini menjadi langkah awal sinergi antara Mushida Kalimantan Timur dengan DLH Provinsi Kaltim. Yaitu dalam pengembangan program pengolahan sampah di kampus-kampus Hidayatullah pada 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur melalui Departemen Sosial dan Kesehatan Mushida.

Untuk mewujudkan program itu, Mushida Kaltim memandang penting adanya kolaborasi dan arahan dari DLH Provinsi Kalimantan Timur. Terutama dalam penyusunan konsep, indikator penilaian, serta edukasi berkelanjutan terkait pengelolaan sampah yang baik dan berdaya guna.

Syamsuddin pun menyambut baik ajakan sinergi tersebut dan menyatakan kesiapan DLH Provinsi Kalimantan Timur untuk mendukung program-program edukasi lingkungan yang dijalankan Mushida Kaltim.

Peradaban Islam

Dalam pengantarnya, moderator acara itu, Ummu Abdullah, menyampaikan, membangun miniatur peradaban Islam tidak cukup hanya dengan aktivitas dakwah dan pendidikan, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.

“Tidak mungkin berbicara tentang peradaban Islam, tetapi abai terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan,” ungkapnya.

Reward

Ke depan, program ini akan disertai pendampingan, asesmen, dan evaluasi penerapan pengolahan sampah di lingkungan kampus.

Akan ada pemberian award pada Rakerwil berikutnya untuk PD Mushida dengan pengolahan sampah terbaik.

Ini bukan semata-mata sebagai ajang kompetisi, melainkan bentuk apresiasi dan motivasi agar budaya peduli lingkungan terus tumbuh di lingkungan kampus dan masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang seminar berlangsung. Diskusi berjalan aktif hingga di akhir acara, ketika narasumber membagikan door prize kepada peserta yang mampu menjawab pertanyaan seputar pengolahan sampah organik.

Melalui seminar ini, Mushida Kaltim berharap kesadaran menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya hidup dan wujud nyata keimanan dalam kehidupan sehari-hari.* (Itha/Mushida Kaltim/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *