Pesan untuk Korban KDRT: Jangan Pendam Sendirian Tangis & Sakitmu

Oleh: Ummu Aisyah*

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Beberapa tahun lalu, seorang perempuan pernah datang ke rumahku selepas mengantar anak-anaknya sekolah. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Ia terus melihat ke arah luar, seperti seseorang yang sedang dikejar ketakutan.

Hari itu ia berkata ingin bersembunyi. Ia takut dibunuh suaminya.

Padahal, jika melihat kehidupannya dari luar, mungkin banyak orang mengira rumah tangganya baik-baik saja. Ia tampak ceria, modis, dan selalu terlihat mampu menutupi masalahnya dengan senyum. Sampai akhirnya aku tahu, selama ini ia menjadi korban KDRT.

Ia pernah diseret. Pernah ditarik rambutnya. Gerak-geriknya diawasi. Bahkan ketakutannya membuatnya tidak berani pulang hari itu.

Yang membuatku semakin sedih, anak-anak mereka masih kecil. Laki-laki dan perempuan. Sama-sama masih usia SD.

Dan ternyata, ada satu cerita lain yang akhirnya membuatku memahami mengapa lingkaran itu terus berulang. Suaminya dulu tumbuh dalam rumah yang juga penuh kekerasan. Ia pernah menyaksikan ayahnya melakukan KDRT kepada ibunya. Persis ketika usianya sama seperti usia anak laki-lakinya sekarang.

Berpindah Generasi

Hari itu aku sadar, kekerasan yang didiamkan sering kali tidak benar-benar selesai. Ia hanya berpindah generasi.

Anak laki-laki yang tumbuh menyaksikan ibunya dipukul bisa belajar bahwa amarah adalah cara menyelesaikan masalah. Anak perempuan yang terus melihat ibunya disakiti bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa bertahan dalam luka adalah bentuk kesabaran.

Padahal tidak semua diam adalah sabar.Dan tidak semua bertahan adalah benar.

Pentingnya Komunikasi

Memang, dalam sebagian kasus KDRT, tidak selalu semua kesalahan ada pada suami. Ada juga perempuan yang bertahan karena sadar dirinya pun memiliki sikap yang memicu pertengkaran. Karena itu persoalannya tidak cukup hanya dipendam atau ditutupi rapat-rapat.
Harus ada komunikasi. Harus ada penyelesaian. Harus ada keberanian untuk sama-sama memperbaiki diri.

Sebab bisa jadi, ketika seorang istri mulai belajar memperbaiki sikapnya, suami pun perlahan berubah dan tidak lagi mengulangi kekerasan yang sama. Tetapi apa pun penyebabnya, kekerasan tetap tidak boleh menjadi kebiasaan yang terus diwariskan di dalam rumah.

Saat perempuan itu bersembunyi di rumahku, aku berusaha meyakinkan dia: “Kamu tidak akan mati sebelum Allah menetapkan ajalmu. Jangan pernah merasa hidup dan matimu ada di tangan manusia.”

Sebab sering kali korban KDRT bertahan karena rasa takut yang terlalu besar. Takut tidak diberi nafkah. Takut anak kehilangan ayah. Takut hidup sendirian. Padahal manusia tidak hidup karena pasangan. Kita hidup karena Allah masih memberi kehidupan.

Jangan Pendam Sendirian

Tulisan ini bukan untuk mengajak perempuan membenci rumah tangga. Bukan pula untuk mudah meminta perpisahan. Tetapi jika hari ini ada perempuan yang sedang hidup dalam ketakutan, tolong jangan memendam semuanya sendirian.

Carilah satu orang yang bisa dipercaya. Guru, murabbi, orang tua, atau seseorang yang dituakan. Tidak perlu semua orang tahu, tetapi jangan membiarkan luka itu terus diwariskan kepada anak-anak.

Allah bahkan mengabadikan pengaduan seorang perempuan yang datang mengeluhkan perlakuan suaminya:

“Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya…” (QS. Al-Mujadilah: 1)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah mendengar setiap tangisan perempuan yang tersakiti. Dan mungkin, keberanian terbesar bukan langsung meninggalkan rumah. Tetapi keberanian untuk berhenti menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang harus dibiasakan.*

  • Penulis adalah ibu rumah tangga

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *