Kisah Haru Almarhumah Khumairah, Ditinggal Suami di Jalan Dakwah, Kini Meninggalkan 4 Anaknya

Suasana pemakaman Ustadzah Khumairah di TPU Gunung Tembak 1, Balikpapan, Senin (6/7/2026) siang.* [Foto: SKR/@Uqreat]

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat– ‎”SEKARANG Ummi sudah sehat dan bisa istirahat. Sudah nggak ngerasain sakit lagi, sudah nggak usah begadang lagi buat cari uang untuk anak-anaknya.”

‎Kalimat sederhana itu ditulis Aisyah, putri almarhumah Khumairah, melalui unggahan di media sosial beberapa saat setelah sang ibu berpulang.

Ustadzah Khumairah, salah seorang warga Kampus Induk Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, wafat pada Ahad malam, 21 Muharram 1448 H (5/7/2026) pukul 22.25 WITA.

Bu Uma, demikian dikenal, juga merupakan salah seorang putri dari Ustadz Abdul Qadir Jaelani, Pembimbing Kampus Induk Hidayatullah.

Kepergiannya meninggalkan begitu banyak cerita dan kenangan haru tentangnya. Di antaranya sepenggal kalimat pada awal tulisan ini.

Di balik untaian kata yang penuh haru itu, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang ibu yang selama bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk keluarga dan masyarakat.

‎”In syaa Allah, Kak Uma sudah tidak lelah lagi, tidak lagi menahan sakit. Saya bersaksi beliau adalah perempuan yang baik, ibu yang tangguh, dan anak yang sangat berbakti.”

Kalimat itu menjadi salah satu ungkapan yang paling sering terdengar dari para sahabat yang datang mengantar kepergian almarhumah Khumairah, Ahad (5/7/2026).

Tegar & Ringan Tangan

Di mata keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengenalnya, Khumairah adalah sosok yang hangat, murah senyum, ringan tangan, serta menjalani hidup dengan penuh ketegaran.

‎Kepergiannya pada usia 44 tahun meninggalkan duka yang mendalam, sekaligus mengingatkan banyak orang pada perjalanan hidup yang telah dilaluinya.

‎Bertahun-tahun silam, Khumairah harus menerima kenyataan ditinggal wafat suaminya, seorang kader dan dai Hidayatullah yang saat itu sedang mengemban amanah dakwah di Cabang Hidayatullah Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Saat itu, putra sulungnya baru berusia sembilan tahun dan memiliki tiga adik yang masih kecil.

‎Sejak itu, Khumairah memilih kembali tinggal di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan agar lebih dekat dengan kedua orang tuanya.

Dengan penuh kesabaran, ia menjalani berbagai ikhtiar yang halal untuk menghidupi dan mendidik keempat buah hatinya.

Bagi orang-orang terdekatnya, Khumairah dikenal sebagai sosok yang kuat. Senyum dan semangatnya tetap hadir di tengah beratnya amanah yang dipikul.

Fahri (kiri) mengangkat keranda jenazah ibunya, Ustadzah Khumairah, di TPU Gunung Tembak 1, Balikpapan, Senin (6/7/2026) siang.* [Foto: SKR/@Uqreat]

Bakti kepada Orang Tua


‎Di tengah perjuangannya membesarkan anak-anak, Khumairah juga dikenal sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Karena mampu mengemudikan mobil, Khumairah kerap mengantar sang Bapak, Ustadz Abdul Qadir Jaelani, yang telah lama sakit ke berbagai keperluan, termasuk menunaikan shalat Jumat di masjid.

Ia juga kerap membawakan kue buatannya untuk sang Bapak, sebuah perhatian sederhana yang lahir dari kasih sayang seorang anak.

Jamaah wanita menshalatkan Ustadzah Khumairah di rumah duka di Jl PDAM, Gunung Tembak, Balikpapan, Senin (6/7/2026) pagi.* [Foto: Itha/@Uqreat]

Jatuh Sakit


‎Pertengahan bulan lalu (7/2026), Khumairah masih aktif berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya.

Tak lama kemudian, ia harus menjalani perawatan akibat TBC usus yang disertai komplikasi pada paru-paru dan organ hati.

Meski tengah berjuang melawan sakit, para sahabat yang menjenguk masih mendapati senyum yang sama. Ia tetap menyapa, berbincang, bahkan menghibur kawan-kawan yang menjenguk dengan tawa khasnya.

‎Namun Allah Subhanahu Wata’ala telah menetapkan takdir terbaik. Setelah menjalani perawatan intensif selama lebih dari dua pekan, Khumairah mengembuskan napas terakhirnya di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.

Sebelum ia berpulang, keempat anaknya mendapat kesempatan memasuki ruang perawatan untuk mentalqin sang ibu.

Duka


‎Suasana haru menyelimuti rumah duka. Dari kursi rodanya, Ustadz Abdul Qadir Jaelani memandangi putri tercintanya yang telah terbujur kaku.

Ketegaran sang ayah yang sejak malam berusaha dijaga, akhirnya runtuh saat menyaksikan anak-anak dari Khumairah menangis sesenggukan di depan jenazah umminya. Sementara Fahri, anak sulung almarhumah, berusaha menenangkan adik-adiknya (Syamil, Aisyah, dan Hani).

Curhatan Sang Anak


‎Unggahan Aisyah yang dibagikan melalui media sosial kemudian menjadi ungkapan yang mewakili perasaan banyak orang yang mengenal Khumairah.

‎”Makasih yah semua atas doa-doanya, karena doa-doa itu Alhamdulillah sekarang ummi Aisyah sudah sehat dan bisa istirahat, udah gak ngerasain sakit lagi, udah gak usah begadang lagi buat cari uang untuk anak anaknya.

Miii, sekarang ummi gak usah lagi mikirin pekerjaan lagi. Ummi istirahat yah! Makasih udah jadi ummi yang terbaik buat Aisyah dan yang lain. Maaf belum sempat bikin ummi bahagia, InsyaAllah Aisyah usahain ummi selalu bahagia di sana,” tuturnya.

‎Dalam lanjutan tulisannya, Aisyah mengenang kedua orang tuanya yang kini telah dipisahkan oleh waktu, namun diyakininya kembali dipertemukan oleh kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala.

‎”Ummi udah bisa berduaan lagi sama Abi, mi. Aisyah titip salam buat Abi. Abi harus bangga punya istri yang kuat kayak Ummi. Bilang ke Abi kalau Aisyah kangen banget. Dadah, Mii… yang tenang di sana yah. Semoga Allah menerima semua amalan kebaikan Ummi. Aamiin yaa Rabbal’alamiin.”

‎Tulisan sederhana itu seakan merangkum seluruh perjalanan hidup Khumairah.

Jenazah Khumairah disemayamkan di rumah orang tuanya. Lalu dishalatkan di Masjid Ar-Riyadh pada Senin (6/7/2026) bakda zuhur. Beratus-ratus orang kemudian mengantarkannya ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gunung Tembak 1 untuk dimakamkan.

Jamaah pria menshalatkan Ustadzah Khumairah di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, Senin (6/7/2026) siang.* [Foto: SKR/@Uqreat]

Perjuangan Khumairah di dunia telah usai. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala menerima seluruh amal shalehnya, mengampuni segala dosanya, melapangkan kuburnya, serta menghimpunkannya bersama orang-orang yang beriman.

Semoga pula keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran, dan keteguhan dalam melanjutkan amanah yang telah diwariskannya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.* (Itha/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *