Agar Mushida Tak Hanya Identik dengan Ibu-ibu…

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- LANGKAH-langkah kecil para santri putri tampak hilir mudik menyambut tamu yang berdatangan siang itu.
Dengan balutan seragam hitam dan kalung hijau tanda kepanitiaan, mereka berdiri ramah sejak gerbang Asrama Putri hingga pintu Aula SMH Putri Bontang.
Senyum hangat, sapaan ringan, serta gerak sigap mereka menghadirkan suasana yang hidup dan penuh keakraban.
Di balik kesibukan itu, mereka bukan sekadar panitia pelaksana. Para santri putri tersebut adalah kader-kader muda yang tengah dipersiapkan untuk melanjutkan estafet perjuangan Muslimat Hidayatullah di masa mendatang.
Nuansa itulah yang terasa dalam pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kota Bontang baru-baru ini (8-9/5/2026).
Ruang Kolaborasi
Tidak hanya menjadi forum penyusunan program kerja organisasi, Rakerda kali ini juga menghadirkan ruang kolaborasi perkaderan dengan melibatkan keputrian GPH SMH Putri Bontang dalam berbagai bidang kepanitiaan.
Para santri putri dipercaya mengambil peran di berbagai sektor. Mulai dari penerimaan tamu, perlengkapan, dekorasi, hingga pembacaan ayat suci Al-Qur’an pada acara pembukaan.
Seluruh tugas tersebut dijalankan dengan arahan dan pendampingan dari ustadzah penanggung jawab di masing-masing bidang kepanitiaan.
Proses Transformasi Nilai
Keterlibatan kader muda ini bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan teknis pelaksanaan kegiatan. Lebih dari itu, Mushida Bontang ingin menghadirkan proses transformasi nilai kepemimpinan, organisasi, dan estafet perjuangan kepada generasi penerus sejak dini.
Dalam pra-Rakerda yang dilaksanakan sehari sebelum kegiatan utama, disampaikan, pelibatan santri putri merupakan bagian dari program lanjutan hasil Rakerwil Mushida Kalimantan Timur.
“Program terusan dari wilayah, bagaimana kita mengupayakan keterlibatan keputrian, dalam hal ini santri putri Bontang,” ungkap Ustadzah Asriani, Sp.d., selaku Ketua Mushida Bontang.
Langkah itu sejalan dengan program Departemen Organisasi Mushida Kalimantan Timur yang mendorong keterlibatan kader muda dalam berbagai kegiatan Mushida daerah, sebagai bagian dari proses rejuvinasi organisasi.
Melalui pengalaman itu, para kader muda diharapkan mampu melihat, mendengar, dan menyerap nilai-nilai perjuangan secara nyata.

“Pengkaderan Jantung Peradaban”
Harapannya, mereka tidak memandang aktivitas Muslimat Hidayatullah sebagai kegiatan yang monoton dan hanya identik dengan kalangan ibu-ibu, melainkan sebagai ruang pembelajaran, pengembangan diri, dan perjuangan dakwah yang relevan bagi generasi muda.
Pesan tentang pentingnya perkaderan juga dikuatkan melalui kutipan yang ditampilkan dalam kegiatan Rakerda:
“Perkaderan adalah jantungnya peradaban. Jika tidak ada rekrutmen, Hidayatullah tinggal nama. Jika tidak ada pembinaan anggota, Hidayatullah akan melemah. Jika tidak ada perkaderan, Hidayatullah tidak ada keberlanjutan.”
Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlangsungan perjuangan sangat ditentukan oleh keberhasilan menyiapkan generasi penerus.
Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa lemahnya regenerasi dan pembinaan kader dapat menjadi salah satu faktor melemahnya sebuah peradaban.
Oleh karena itu, keterlibatan kader keputrian dalam Rakerda Mushida Bontang diharapkan menjadi tonggak lahirnya generasi Muslimah pejuang yang siap melanjutkan estafet dakwah dan peradaban Islam di masa depan.* (@irfatunazhifah02/@Uqreat)
Recent Comments