Saat Terbaring Sakit, Ustadzah Ini Merindukan Lantunan Hafalan Qur’an Santrinya

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat – “ANTI (kamu perempuan, red) ujian tahfidz sama ustadzah siapa?”

Seorang santri bertanya pelan kepada temannya di selasar asrama, menjelang ujian hafalan dimulai.

Wajah-wajah tegang tampak di mana-mana. Sebagian sibuk mengulang hafalan, sebagian lagi menenangkan diri sambil memegang mushaf Al-Qur’an erat-erat.

“Hmmm… deg-degan parah ana (saya, red),” jawab temannya lirih.

“Sama Ustadzah Laili ya?”

Tebakan itu langsung disambut anggukan cepat.

“Yaps… benar sekali. Harus benar-benar lancar ini…”

Begitulah suasana yang dahulu begitu akrab di kalangan santri putri. Menjelang ujian tahfidz, pertanyaan yang paling sering terdengar bukanlah tentang halaman hafalan atau jumlah setoran, melainkan: siapa ustadzah pengujinya.

Dan nama itu hampir selalu membuat jantung berdebar sedikit lebih cepat: Ustadzah Laili Maghfiratin.

Dikenal Tegas tapi Mengayomi

Ustadzah Laili merupakan guru tahfidz di Pondok Pesantren Hidayatullah Darul Madinah Madiun, Jawa Timur, sekaligus istri dari pembina Darul Madinah Madiun, Ustadz Hebni Syarif.

Sosoknya dikenal luas sebagai pribadi yang teguh dalam mendidik, penuh disiplin, namun tetap menghadirkan kehangatan bagi para santri.

Bagi banyak santri, Ustadzah Laili adalah sosok yang tegas, teliti, dan nyaris tak pernah luput mendengar kesalahan sekecil apa pun.

Namun di balik ketegasannya, ada keteduhan yang diam-diam membuat para santri merasa dibimbing dan dijaga. Tegas, tetapi mengayomi. Keras dalam menjaga kualitas hafalan, namun lembut dalam mendidik jiwa.

Terbaring Sakit

Saat kisah ini ditulis (9/5/2026), sosok yang dahulu begitu aktif membersamai para santri itu tengah terbaring sakit.

Namun bahkan di tengah kondisi sakitnya, hati Ustadzah Laili rupanya masih tertambat kuat pada Al-Qur’an dan para santri.

Kerinduan itu tergambar dari sebuah pesan sederhana yang begitu menghangatkan hati.

“Ayo nduk, jadwalkan ngaji bareng setiap bulan sekali. Aku pengen nyimak anak-anak MA. Aku ngko nyimak UAT lagi boleh gak, Ma? Aku seneng banget lek nyimak anak…”

Begitulah ungkap Ustadzah Laili kepada salah seorang pengajar tahfidz saat ini dengan logat khas Jawa Timur.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi yang mengenalnya, itulah bukti betapa besar cinta Ustadzah Laili terhadap dunia tahfidz.

Bahkan di tengah sakit, yang ia pikirkan bukan tentang dirinya sendiri, melainkan bagaimana tetap bisa mendengar lantunan hafalan para santri.

Kenangan tentang Ustadzah Laili pun kembali memenuhi ingatan banyak orang, terutama yang pernah berinteraksi dengannya.

Menyimak 2 Santri Sekaligus

Ustadzah Laili dikenal sebagai salah satu ustadzah tahfidz yang memiliki kemampuan luar biasa. Di tengah halaqah, ia mampu menyimak dua santri sekaligus di kanan dan kirinya tanpa kehilangan fokus. Ketelitian dan kekuatan hafalannya membuat para santri kagum sekaligus segan.

Dalam waktu yang cukup lama, ia mengemban amanah sebagai kepala bidang tahfidz. Dari tangan dingin beliau, program ketahfidzan berjalan disiplin dan terarah.

Para santri SMP mampu menuntaskan hafalan hingga enam juz, sedangkan tingkat MA mencapai sepuluh juz, bahkan banyak yang mampu lulus ujian setoran sekali duduk.

Bukan perkara mudah menjaga ritme hafalan di tengah padatnya aktivitas sekolah umum dan pelajaran diniyah. Namun Ustadzah Laili selalu menanamkan bahwa Al-Qur’an harus mendapat tempat utama dalam keseharian seorang penuntut ilmu.

Setiap subuh menjadi saksi keteladanan itu.

Kala para santri turun menuju halaqah, melingkar rapi memenuhi masjid putri dengan mushaf di tangan, Ustadzah Laili juga hadir membersamai.

Dari depan rumahnya, suara tilawah ustadzah itu kerap terdengar mengalun tenang di udara pagi. Bukan hanya muraja’ah pribadi, tetapi juga bentuk pengawasan dan perhatian terhadap jalannya kegiatan harian santri.

Ustadzah Laili tidak sekadar memberi target hafalan. Ia hidup bersama Al-Qur’an, lalu menghadirkan semangat itu kepada para santri.

Maka tak heran, meski dahulu namanya sering menjadi “momok” menjelang ujian tahfidz, hari ini banyak santri justru merindukan masa-masa itu.

Merindukan tegurannya ketika bacaan kurang tepat, merindukan nasihat singkatnya selepas setoran, juga merindukan suasana subuh yang dipenuhi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an bersamanya.

Doa Terbaik Kala itu

Di tengah kondisi sakit sang guru, doa-doa terbaik mengalir untuknya: Semoga Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat sakit Ustadzah Laili, melimpahkan kesembuhan yang sempurna, menghapus lelah dan rasa sakitnya menjadi penggugur dosa serta pemberat amal kebaikan.

Semoga Allah menjaganya sebagaimana dahulu ia menjaga hafalan dan semangat para santri dalam membersamai Al-Qur’an. “Ya Allah, sembuhkanlah beliau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit sedikit pun.”

Berpulang ke Rahmatullah

Namun, taqdir Allah berkata lain. Ustadzah Laili berpulang ke Rahmatullah pada Selasa (12/5/2026). Kesedihan tiada tara bagi keluarga besar Hidayatullah Madiun, Jawa Timur, dan terutama para santri dan keluarga besar almarhumah.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun!”

Untuk para santri, waktu pasti terus berjalan. Generasi akan terus berganti. Namun sosok guru yang menanamkan cinta pada Al-Qur’an dengan keteladanan dan kesungguhan, akan selalu tinggal di hati.

“Allahummaghfirlaha warhamha…”* (@irfatunazhifah02/alumni SMP- MA Darul Madinah Hidayatullah Madiun/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *