Muswil Mushida Kaltim, Ketua DPW Hidayatullah Kaltim Tekankan Shalat, Syura, & Keikhlasan

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat– Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur, Ustadz Hizbullah, menyampaikan sambutan dan arahan strategis dalam acara Musyawarah Wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah Kalimantan Timur, Jumat (16/1/2026) di Hotel Horison Ultima Balikpapan.
Dalam sambutannya, Ustadz Hizbullah mengawali dengan mengajak seluruh peserta untuk menyadari tingginya dinamika dan mobilitas organisasi pasca berbagai agenda nasional dan wilayah, mulai dari Munas, Muswil, Musda, Rakernas hingga Munas Muslimat Hidayatullah.
Ia mengajak seluruh hadirin untuk bersama-sama mendoakan para pemangku amanah agar senantiasa mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah Subhanahu Wata’ala dalam mengemban tugas-tugas perjuangan.
Menguatkan arah musyawarah, Ustadz Hizbullah mengutip firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Surat Asy-Syura ayat 38, yang menegaskan karakter orang-orang beriman: mendirikan shalat, memutuskan urusan dengan musyawarah, serta menafkahkan sebagian rezeki di jalan Allah.
Shalat Sumber Energi Perjuangan
Poin pertama yang ditekankan adalah shalat. Menurutnya, momentum Muswil ini berdekatan dengan peristiwa Isra Mi’raj, yakni peristiwa agung diturunkannya perintah shalat.
Ia menegaskan bahwa shalat merupakan sumber energi utama dalam mengemban amanah perjuangan yang tidak ringan.
“Dalam perjuangan akan ada banyak tantangan dan goncangan jiwa. Jika kita tidak memiliki sandaran dan kekuatan ruhiyah, maka kita akan mudah goyah. Shalat adalah instrumen dasar perubahan, baik pada level pribadi, keluarga, hingga umat,” ujarnya.
Ia menegaskan, ketika shalat ditegakkan, maka agama ini akan tegak dalam seluruh lini kehidupan.
Oleh karena itu, perhatian umat tidak boleh hanya tertuju pada aspek infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran akan pentingnya agama sebagai solusi umat.
Hakikat Syura
Poin kedua yang disampaikan adalah syura (musyawarah) sebagai bagian dari syariat Islam. Ustadz Hizbullah menyampaikan bahwa nilai syura bahkan diadopsi dalam sistem kenegaraan Indonesia melalui konsep musyawarah perwakilan rakyat.
Ia menekankan, hakikat syura tidak hanya terletak pada proses pengambilan keputusan, tetapi juga pada kondisi hati para pelakunya.
Dalam QS. Ali Imran : 59, sebelum musyawarah, terdapat perintah untuk saling memaafkan dan beristighfar. Setelah keputusan diambil, sikap yang harus hadir adalah berazam (bertekad kuat) dan bertawakkal kepada Allah.
“Satu hal fundamental dalam Islam adalah tidak mengambil keputusan dalam keadaan marah, dan tidak meluapkan kemarahan di atas podium,” tegasnya.
Menjaga Keikhlasan & Makna Pengorbanan
Poin ketiga adalah tentang makna pengorbanan dan keikhlasan. Ustadz Hizbullah mengingatkan, banyak para pendiri dan perintis lembaga yang telah mengorbankan seluruh energi dan potensi mereka, namun tidak sempat menyaksikan hasil perjuangan tersebut.
“Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Belum tentu dalam perjalanan perjuangan ini kita akan melihat hasilnya. Namun keikhlasan itulah yang menjaga keberlanjutan dakwah,” ungkapnya.
Pesan Khusus untuk Mushida
Pada akhir sambutannya, Ustadz Hizbullah menyampaikan beberapa pesan khusus kepada Muslimat Hidayatullah. Ia menekankan pentingnya peran istri dalam mendampingi perjuangan suami, meneladani keteguhan dan dukungan Sayyidah Khadijah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Selain itu, Ustadz Hizbullah menginformasikan rencana pembentukan forum sinergi.
Ia berharap Muslimat Hidayatullah dapat terlibat aktif dalam forum tersebut agar energi organisasi benar-benar terfokus pada pencapaian program bersama.
“Jangan sampai program kita terlalu banyak, namun pencapaiannya tidak maksimal,” pungkasnya.
Muswil Muslimat Hidayatullah Kalimantan Timur ini diharapkan menjadi momentum konsolidasi, penguatan ruhiyah, serta peneguhan arah perjuangan organisasi ke depan.* (Itha/Mushida/@Uqreat)
Recent Comments