”Seribu” Kenangan Murid Ustadz Ahmad Fitri : dari Rambut, Tulisan Khat, Hijab, hingga Sandal

Oleh: Mujtahidah*
Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat– “TULISAN Arab komputer versi tulisan tangan, ada pada beliau.”
Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un. Lazim diketahui, baru-baru ini salah seorang ustadz senior Hidayatullah berpulang ke Rahmatullah.
Ialah H. Ahmad Fitri, anggota Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
Kepergian Ustadz Ahmad Fitri meninggalkan duka yang mendalam.
Tidak hanya bagi keluarga beliau, tetapi juga bagi kami semua, para murid yang pernah merasakan langsung limpahan ilmu, adab, dan keteladanan dari seorang guru sejati.
Seiring tersebarnya kabar wafat beliau, Selasa lalu (6/1/2026), kenangan dan kesaksian para santriwati, murid beliau, mengalir dari berbagai penjuru Indonesia.
Kebaikan demi kebaikan kembali diingat. Seolah Allah memperlihatkan kepada kita bahwa jejak amal seorang guru tidak pernah benar-benar terputus.
Dikenal Disiplin
Ustadz Ahmad Fitri dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga disiplin dan amanah ilmu. Dalam kondisi apa pun, beliau tetap hadir mengajar.
“Guru paling disiplin. Meski hujan, beliau tetap datang. MasyaAllah,” ujar salah seorang murid mengenang.
Bagi banyak murid, beliau adalah guru khat yang tak tergantikan. Keindahan tulisan Arab yang beliau ajarkan tidak sekadar indah dipandang, tetapi membekas dan membentuk karakter.
“Dosen khat yang paling membekas. Ilmu tulisan Arab indah yang beliau ajarkan berpengaruh besar pada tulisan Arab saya sampai sekarang. Tulisan Arab komputer versi tulisan tangan, ada pada beliau,” tutur salah satu murid, seraya mendoakan, Rahimahullahu rahmatan wasi‘ah.
Kenangan itu bahkan tersimpan dalam benda-benda sederhana yang penuh makna.
“Saya sampai sekarang masih menyimpan lembar soal imla’, dengan niat ingin suatu hari bisa meniru keindahan tulisan beliau,” ujar Ummu Uzeyr, yang kini berdomisili di Hidayatullah Bandung, sambil mengirimkan foto lembar soal tersebut.
Ketegasan beliau dalam menjaga adab dan marwah pendidikan juga menjadi bagian yang tak terlupakan.

Peduli Hal “Sepele”
Saat mengajar di Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putri, beliau tidak segan menegur santri yang rambutnya terlihat, meski hanya sehelai. Beliau mendidik bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan sikap dan keteladanan nyata.
Para murid angkatan lama masih mengingat jelas bagaimana beliau mengajar sekitar tahun 1998.
Sebelum pelajaran dimulai, beliau memastikan kelas dalam keadaan bersih. Jika ada selembar kertas di lantai, murid diminta memungutnya terlebih dahulu. Jika ada murid yang belum hadir, beliau akan mencarinya hingga ke asrama.
Bahkan dalam urusan berpakaian, beliau menjaga kehormatan santri dengan penuh perhatian, menyuruh pulang murid yang bajunya transparan agar mengenakan pakaian yang pantas sebelum kembali ke kelas.
Mengajar di Balik Hijab
Saat usia beliau telah sepuh dan mengajar sebagai dosen, semangat beliau tak pernah surut.
Beliau memilih mengajar dari balik hijab, namun ketajaman pandangan seorang guru sejati tetap terasa. Dari balik hijab itu, beliau mengetahui siapa yang sungguh-sungguh menyimak dan siapa yang lalai.
Salah satu nasihat beliau yang begitu membekas di hati kami muncul dari hal yang tampak sederhana. Ketika papan tulis dihapus namun belum bersih, beliau menegur sambil berkata, “Jika menyapu rumah, harus bersih. Perempuan harus bisa menata rumah.”
Sebuah pengingat bahwa kesungguhan dalam perkara kecil adalah cermin tanggung jawab dalam perkara besar.
Cuci Sandal sebelum ke Masjid
Ummi Hindong (Istri Alm. Ustadz Manshur Salbu) bercerita, pernah berkunjung ke rumah beliau, dan ummi bertanya ke istri beliau, Almarhumah Rahmah.
Kenapa selalu ada cerek di tangga. Kata Ibu Rahmah, Ustadz Fitri selalu mencuci sandalnya sebelum ke Masjid, karena khawatir ada kencing kucing.
MasyaAllah, tabarakallah.
Demikianlah sebagian kecil kenangan tentang Ustadz Ahmad Fitri.
Seorang guru Fikih, guru khat dengan tulisan yang sangat indah, ustadz yang menjaga shalat berjamaah, serta pendidik yang menanamkan adab, kebersihan, dan disiplin sebagai bagian dari iman.
Terima Kasih, Guru
Terima kasih atas seluruh ilmu dan keteladanan yang telah engkau berikan kepada kami, wahai guru kami.
Semoga setiap huruf yang engkau ajarkan, setiap adab yang engkau luruskan, dan setiap kesabaran yang engkau curahkan, menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Semoga Allah menerangi kuburmu, melapangkan tempat istirahatmu, dan menjadikan semua itu sebagai sebab kemudahan bagimu untuk menempati Surga-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.*
- Penulis adalah ustadzah yang lahir dan besar di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak
Recent Comments