Istimewanya Kampus Timika di Papua Tengah, Pemimpin Umum Hidayatullah: Bisa Jadi Mercusuar Dakwah

Pemimpin Umum Hidayatullah bersama para dai Hidayatullah di Timika, Papua Tengah, 2025.* [Foto: Istimewa/FB Miftahuddin]

Ummulqurahidayatullah.id– Jika selama ini Timika hanya terkenal karena perusahaan tambang asal asing, kini setidaknya kota penghasil biji emas tersebut punya masa depan indah bagi umat Islam. Yaitu menyaksikan Timika sebagai pusat mercusuar dakwah Islam.

Harapan besar lagi mulia itu disampaikan dan didoakan langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, saat menghadiri pertemuan Rapat Koordinasi Nasional Kampus Induk dan Utama Hidayatullah yang digelar di Jl. Poros Mapurujaya Km. 09. Kab/Kota Mimika Provinsi Papua Tengah.

“Alhamdulillah saya kemarin begitu masuk kamar, (setelah itu) keluar bersuci dan langsung ke masjid dulu. Di sana shalat sunnat tahiyyah masjid,” ungkap Ustadz Abdurrahman Muhammad, Jumat, 26 Syawal 1446 H (25/4/2025).

Di depan puluhan dai yang mengikuti pembukaan Rakornas tersebut, Pemimpin Umum Hidayatullah mengaku telah berdoa dan mendoakan kebaikan khusus untuk dakwah di Timika.

“Ya Allah, jadikanlah titik ini sebagaimana Engkau meletakkan satu titik energi (di Baitullah, Makkah). Jadikanlah doa-doa kami ini. Anta Sami’un ‘Alim, Engkau Maha Mendengar doa kami,” ucapnya menceritakan doanya dengan penuh haru.

Menurut ustadz yang telah meninggalkan jejak dakwah di Timika sejak tahun 1992 silam itu, ia telah memperhatikan dengan penuh seksama dinamika dakwah dan masyarakat Timika sejak turun dari pesawat yang ditumpanginya dari Balikpapan.

“Aku perhatikan Timika, ada rasa-rasa saya ini Timika bisa menjadi mercusuar dakwah Hidayatullah,” lanjutnya.

Cikal Bakal Perkembangan Islam di Timika

Harapan ini disampaikan bukan tanpa alasan. Terbukti, pelayanan khutbah Jumat Kampus Utama Hidayatullah Timika berhasil meng-cover tak kurang dari dua puluh lima titik masjid sekaligus.

“Tadi (Jumat) ini bisa khutbah dua puluh lima titik. Saya pikir belum ada kampus utama yang melakukan pergerakan ini, masyaAllah,” sambutnya memberi apresiasi kepada pihak tuan rumah pelaksana.

Hal ini disebut oleh Ustadz Abdurrahman sebagai cikal bakal dan faktor berkembangnya dakwah Islam di Timika.

“Padahal saya masuk pertama kali di sini, Pak Iskandar masih gubuk-gubuk di sini, Pak,” lanjutnya menceritakan pengalamannya berjumpa dengan Ustadz Iskandar Pabo, sang perintis dakwah Hidayatullah di Timika, era 1992 silam.

Selanjutnya, Pemimpin Umum Hidayatullah mengingatkan para juru dakwah agar senantiasa menjaga kualitas ruhiyah sebagai modal dasar di dalam mengemban amanah dakwah.

“Makanya saya berdoa ada futuhat (kemenangan) asalkan (ruhiyah) ini dulu dijaga. Sesungguhnya pergerakan fisik itu adalah satu penampakan yang disebut eksistensi. Sedang orang-orang bertakwa itu yang sampai pada puncak ruhiyah (takwa),” pungkasnya.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *