Berbicara di Ponpes Hidayatullah, LaNyalla Tegaskan Ulama Harus Ikut Tentukan Arah Perjalanan Bangsa

Ketua DPD RI, Ir H Ahmad Abdullah (AA) LaNyalla Mahmud Mattalitti bersama Ketua YPPH Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar (kiri), di Kampus Induk Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (15/01/2022).* [Foto: DPD RI/Istimewa/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Ketua DPD RI, Ahmad Abdullah (AA) LaNyalla Mahmud Mattalitti, menegaskan ulama harus ikut menentukan arah perjalanan bangsa. “Para ulama dan tokoh agama adalah representasi dari negarawan dan seorang negarawan tidak berpikir next election, tetapi berpikir next generation,” kata LaNyalla dalam Kuliah Umum di Pondok Pesantren Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu (15/01/2022).

Pentingnya ulama dan tokoh agama berperan karena LaNyalla mengaku prihatin melihat perjalanan sistem tata negara bangsa setelah dilakukan amandemen Konstitusi pada tahun 1999 hingga 2002 silam. Sejak saat itu, kedaulatan rakyat sudah tidak memiliki wadah yang utuh.

Pada acara bertema “Sumbangsih Pondok Pesantren Dalam Lahirnya NKRI” itu, LaNyalla juga menjelaskan sebelum kemerdekaan, pondok pesantren adalah prototype dari masyarakat madani atau komunitas civil society.

Pada era itu, pondok pesantren tidak hidup dari dana atau santunan yang diberikan penjajah. Tetapi hidup mandiri dari cocok tanam dengan semangat gotong royong santri dan masyarakat sekitar.

“Pondok pesantren juga sekaligus menjadi solusi bagi masyarakat sekitar. Ada yang sakit, minta doa ke kiai. Ada yang tidak punya beras, datang ke pondok pesantren. Ada yang punya masalah, minta nasehat kiai dan seterusnya,” ujarnya.

Baca juga: Kunjungan Resmi Ketua DPD RI La Nyalla ke Hidayatullah Balikpapan, Disambut Ribuan Santri & Ustadz

Peran para ulama dan kiai pengasuh pondok pesantren saat itu juga tidak bisa dihapus dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

“Termasuk peran para ulama dan kiai se-Nusantara dalam memberikan pendapat dan masukan kepada Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang kemudian menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia,” paparnya.

Sejarah juga mencatat lahirnya Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di Surabaya.

Dengan demikian, hal itu berarti peran dan kontribusi para ulama dan kiai dalam wajah sejarah lahirnya Indonesia bukanlah kecil. “Bahkan sudah selayaknya disebut sebagai salah satu pemegang saham bangsa ini,” ujarnya menegaskan.

LaNyalla menilai peran pondok pesantren saat ini tidak kalah besar. Karena, pondok pesantren tetap menjadi prototype institusi masyarakat madani.*

Sumber: Hidayatullah.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.