Rakernas 2026 Menuntut Kerja Keras, Menuju Hidayatullah Mandiri & Berpengaruh

Rais Am Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad (kiri atas), Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad (bawah), dan Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, pada Rakernas Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).* [Foto: Billy via Tadz Media Pro/Hidayatullah.or.id]

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah yang baru saja digelar merupakan forum kerja yang menuntut kesungguhan, ketekunan, dan tanggung jawab kolektif dalam membangun peradaban Islam.

Selain itu, Rakernas menjadi momentum konsolidasi nasional untuk merumuskan langkah strategis Hidayatullah ke depan. Sekaligus meneguhkan komitmen organisasi dalam melayani umat dan bangsa, di tengah tantangan Indonesia yang terus berkembang.

Hal itu ditegaskan Rais Am Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad dan Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad pada rapat yang berlangsung tiga hari (12-14/1/2026) itu.

Kuat Kerja

Rais Am Hidayatullah menekankan urgensi Rakernas sebagai rapat kerja yang sesungguhnya. Forum ini, katanya, tidak boleh berhenti pada formalitas atau kenyamanan seremonial, tetapi harus melahirkan daya dorong kerja yang nyata.

“Karena ini rapat kerja, maka kita harus kuat kerja. Jangan ada rapat kerja hanya kuat makan, tapi tidak kuat kerja. Rakernas ini menuntut kerja keras,” tegasnya dalam taujih pada Rakernas Hidayatullah 2026 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).

Program Pengkhidmatan

Sementara Ustadz Naspi memaparkan berbagai program pengkhidmatan organisasi yang telah berjalan di beragam sektor strategis. Mulai dari pendidikan, sosial, pangan, kemanusiaan hingga pembangunan masyarakat.

Naspi menjelaskan bahwa keragaman program tersebut merupakan konsekuensi logis dari realitas Indonesia sebagai bangsa yang majemuk.

Menurutnya, keberagaman suku, ras, dan budaya menuntut pendekatan dakwah dan pelayanan yang kontekstual serta responsif terhadap dinamika lokal.

Ia menegaskan, struktur internal Hidayatullah merefleksikan kemajemukan Indonesia, di mana seluruh latar belakang etnis dan kedaerahan hadir, dari Aceh sampai Papua.

Karena itu, pola pelayanan yang dikembangkan harus adaptif terhadap perubahan zaman dan selaras dengan kearifan lokal di masing-masing wilayah.

“Hidayatullah dalam program pelayanannya mengedepankan pola pendekatan yang relevan serta adaptif sesuai dengan perkembangan zaman dan local wisdom (kearifan lokal) yang berlaku,” katanya.

Dibuka Menteri Transmigrasi RI

Rakernas itu secara resmi dibuka oleh Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Senin, 23 Rajab 1447 (12/1/2025).

Rakernas dihadiri jajaran pengurus pusat, wilayah, dan daerah dari 38 provinsi. Hadir pula organisasi pendukung Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah. Termasuk badan usaha, serta para pengelola amal usaha tingkat pusat.

Dalam sambutannya, Menteri Iftitah menegaskan, transmigrasi tidak lagi dimaknai sebagai program pemindahan penduduk, melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia Indonesia.

“Transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan orang dari satu daerah ke daerah lain. Transmigrasi adalah instrumen pembangunan nasional untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Iftitah dalam pidatonya, Senin itu.

Pasca rakernas, diharapkan, kerja keras segenap stakeholder Hidayatullah seiring dengan tema Rakernas yang diusung, “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh”.* (Azim/Ainuddin/Sarmadani/Hidayatullah.or.id/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *