Membaca, Kunci Utama Amanah Perkaderan Hidayatullah di Era Modern

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat – Di tengah tantangan dakwah yang kian kompleks, Hidayatullah memperkuat fondasi perkaderannya bukan hanya dengan semangat, tetapi dengan satu kebiasaan sederhana namun revolusioner: membaca.
Dalam Ta’aruf Perkaderan Se-Indonesia, Dr. Abdul Ghofar Hadi, Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah, menegaskan bahwa amanah kepemimpinan dalam perkaderan hanya bisa diemban secara istiqamah jika disertai kesadaran mendalam akan nilai literasi.
Kegiatan yang dihadiri seluruh Kepala Departemen (Kadep) Perkaderan DPW Hidayatullah se-Indonesia ini menjadi momentum penting.
Pasalnya, Bidang Perkaderan baru saja dibentuk secara struktural di tingkat pusat, dengan tugas yang tak ringan. “Ini amanah,” tegas Ghofar pada acara daring itu, Senin (5/1/2026).
“Dan amanah hanya bisa kita laksanakan jika kita yakin kepada Allah—yakin akan adanya surga dan neraka, serta percaya bahwa menjaga amanah adalah tanda iman sejati,” imbuhnya menegaskan.
Tak Dikejar, Tak Dihindari
Lebih lanjut, Ustadz Ghofar mengingatkan bahwa dalam Islam, amanah bukanlah sesuatu yang patut dikejar, namun juga tak boleh dihindari saat datang.
Untuk menjalankannya dengan baik, Ghofar menekankan satu prasyarat mutlak: membaca. “Tidak ada orang, apalagi bangsa, yang maju tanpa membaca,” ujarnya.
Baginya, membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari ibadah dan karakter kepemimpinan.
Ia mencontohkan sosok KH Abdullah Said, Pendiri Hidayatullah, yang menjadikan membaca sebagai napas gerakan.
Bahkan, arsitektur pemikiran Hidayatullah sendiri lahir dari proses membaca karya-karya tokoh seperti Mas Mansur, Buya Malik Ahmad, Buya Hamka, dan Munawar Khalil.
“Hingga kini, Rais ‘Am Hidayatullah pun dikenal sebagai sosok yang gemar membaca. Kado terbaik untuk beliau? Buku,” ungkap Ghofar, sambil tersenyum, “Karena kami berdua adalah pemimpin yang sama-sama mencintai buku.”
Nyawa Perkaderan
Dengan demikian, program ini bukan hanya tentang memperkuat struktur organisasi, tetapi juga menanamkan kesadaran mendalam: bahwa literasi adalah nyawa perkaderan.
Tanpa membaca, amanah akan mudah tergelincir oleh pragmatisme atau keawaman.
Oleh karena itu, penekanan pada budaya baca dalam Ta’aruf Perkaderan ini menjadi fondasi penting —bukan hanya untuk para kader, tetapi bagi seluruh penggerak perkaderan Hidayatullah dalam menjalankan misi peradaban Islam yang berbasis ilmu, akhlak, dan keberlanjutan.* (Herim/@Uqreat)
Recent Comments