Kisah Ustadz Amin Mahmud Mau Mundur sebagai Guru, Ternyata…

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat – Lika-liku perjuangan seorang guru selalu penuh cerita. Apalagi sejak dulu hingga sekarang, profesi ini telah melekat dengan sebutan “Pahlawan tanpa tanda jasa”.
Itulah yang dirasakan oleh Ustadz Amin Mahmud, Ketua Majelis Pembimbing Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.
“Saya ucapkan selamat atas keteguhan dan kesabaran rekan-rekan guru.
Pekerjaan ini sangat berat tapi sungguh mulia. Ini jadi motivasi para asatidz sekalian. Pekerjaan ini satu amal shaleh buat semua,” ungkap Ustadz Amin, beberapa waktu lalu di Gunung Tembak, Balikpapan.
Mulia Menjadi Guru
Ia mengawali penyampaiannya dengan menjelaskan hadits Nabi tentang pahala amal yang tidak ada putusnya. Salah satunya adalah mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
Menurutnya, guru, dosen, atau seorang pendidik adalah pekerjaan mulia. Syaratnya, orientasi harus benar. Yakni, untuk melahirkan generasi kader dakwah yang militan.
“Orientasinya harus dalam koridor perjuangan. Maka Anda mulia dengan pekerjaan itu,” lanjutnya dengan mengutip beberapa ayat tentang kemuliaan ilmu.
Sempat Tak Mau Sekolah
Dalam giat silaturahim yang dihadiri oleh ratusan guru madrasah Raadhiyatan Mardhiyyah serta dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah dan pengajar Pendidikan Ulama Zuama itu, ustadz yang juga diamanahi sebagai anggota Majelis Penasihat Hidayatullah itu lalu berbagi kisah inspiratif.
Dalam ceritanya, tamat pendidikan SMP, Ustadz Amin Mahmud remaja mengaku sempat berpikir tidak lanjut sekolah lagi karena persoalan biaya. Namun oleh kawan-kawannya, ia ditawari untuk sekolah gratis bahkan dibayar saat itu.
“Ayo sekolah saja, ada sekolah tidak dibayar malah dibayar. Sekolah apa? sekolah guru,” ucap Ustadz Amin mengawali.
Di zaman itu, kata ustadz yang juga termasuk kader senior sekaligus perintis Hidayatullah ini, profesi guru sejak dulu identik dengan gaji kecil. Bahkan sakit-sakitan. Karena setiap hari memakai kapur di kelas. Jadi sejak sekolah hingga menjadi guru, itu terpaksa saja, akunya.
“Nanti semangat jadi guru setelah masuk pesantren. Karena hadits (di atas) tadi. Ternyata guru itu mulia, perannya tidak main-main,” kata Ustadz Amin yang telah merambah dunia dakwah, dari Samarinda, Berau hingga Dumai dan Palembang, di pulau Sumatera.
Guru = Teladan
Lebih jauh, Ustadz Amin juga mengingatkan terkait kedudukan guru sebagai sosok teladan yang ditiru oleh murid-muridnya. Butuh kesadaran untuk mengawali perubahan diri sendiri.
“Mendidik anak itu sekali lagi berat. Bukan cuma mengajar dan mengisi otak dengan ilmu. Tapi juga menanamkan cita-cita hidup dan membangun karakter. Itulah pentingnya keteladanan,” ungkapnya.
Sebagai santri senior, ia bersyukur pernah mendapat didikan langsung dari KH. Abdullah Said Rahimahullah, Pendiri Hidayatullah.
Sehingga persoalan shalat berjamaah, tilawah al-Qur’an, dan ibadah lainnya, itu semua disebutnya sudah terbiasa dan jadi karakter sejak dulu.
Pengalaman di Gn Tembak
Terakhir, Ustadz Amin lalu menceritakan sekeping pengalamannya sebagai guru di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.
Kisahnya, ia pernah mendapati santri yang berbuat gaduh hingga tertawa terbahak-bahak. Dalam hati, ia mengaku geram. Sebelumnya ia juga sudah berpesan agar santri belajar dengan tenang dan tidak ribut. Apalagi karena bersamaan di masjid juga sedang ada pengarahan penting dari KH Abdullah Said, ketika itu.
“Anu ustadz, lagi ngolokin ustadz. Bikin drama, judulnya curi ayam,” jawab santri polos, meski terlihat ketakutan, kata ustadz Amin sambil menirukan.
Seketika, ustadz Amin langsung syok. Ia mengaku dirinya tidak pernah menyangka, sekian lama ia mengajarkan banyak hal, tapi ternyata “hasilnya cuma” bikin drama curi ayam saja.
Tanpa berpikir panjang, Ustadz Amin lalu menghadap ke Ustadz Abdullah Said. Tekadnya bulat. Mundur sebagai guru dan berharap ditugaskan ke luar daerah saja.
Tak disangka, respons tokoh pendiri Hidayatullah itu justru seakan berbanding terbalik 180 derajat. Sosok yang sangat dihormati itu malah tergelak tertawa setelah mendengar penuturan kisahnya.
“Sebelum berangkat ke Samarinda, saya ucapkan terima kasih atas usaha kamu mengantar anak-anak menjadi generasi yang shaleh. Tapi saya mau tanya dulu, sudahkah anak-anakmu itu kamu doakan selama ini?” ucap Ustadz Abdullah Said, seperti ditirukan oleh Ustadz Amin.
“Langsung terpukul saya. Rupanya selama ini saya tidak doakan. Padahal mendidik anak itu tergantung ruhnya,” ucap Ustadz Amin.
Sejak itu hingga sekarang, Ustadz Amin bertekad menjalankan pesan almarhum Ustadz Abdullah Said. Jangan lupakan mendoakan para santri.
Kini dengan amanah sebagai Majelis Penasihat, Ustadz Amin juga mengaku mendapat amanah mendoakan semua jamaah, kader, dan anggota Hidayatullah secara keseluruhan.
“Semoga kalian semua diberi kesabaran, keikhlasan, dan keistiqamahan di jalan perjuangan ini,” pungkasnya kepada para guru, Selasa (30/12/2025).* (Abu Jaulah/@Uqreat)
Baca juga: Silaturahim Pendidik & Tenaga Kependidikan, Pembimbing YPPH Balikpapan: Guru Amanah Mulia
Recent Comments