Kesan Peserta ISCH III di Gunung Tembak: “Seperti Melihat Miniatur Peradaban Islam” [1]

Suasana perkemahan ISCH III di area putri Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikppan, Kaltim, Rabu (20/8/2025).* [Foto: Qonita/ISCH III/STIS/@ummulqurahidayatullah]

Kisah pertama dari dua tulisan

Ummulqurahidayatullah.id | SUASANA riuh penuh semangat, ada yang memalu, ada pula yang menggergaji bambu dengan mandiri.

Hingga akhirnya, tenda-tenda kokoh berdiri menampilkan ciri khas daerah masing-masing, mulai dari ujung barat Pulau Jawa hingga timur Papua.

Itulah pemandangan berbeda di wilayah khusus putri, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, baru-baru ini.

Wilayah putri tampak begitu semarak. Apalagi kalau bukan karena kehadiran ribuan peserta Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III 2025 berskala nasional.

Hari itu, Kamis, 26 Shafar 1447 H (20/8/2025 M), para peserta yang sebagian baru tiba, sibuk mendirikan tenda di tapak kemah masing-masing fiah.

Persiapan Mandiri Peserta

Para peserta menunjukkan kemandirian yang luar biasa. Dengan sigap, mereka mengelola peralatan kemahnya sendiri.

Ada yang bergotong-royong menancapkan pasak, ada pula yang menata bambu agar tenda lebih kuat.

Pemandangan ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan melalui kegiatan Pramuka atau kepanduan benar-benar terwujud di ISCH III ini.

Misalnya, fi’ah perwakilan SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Balikpapan, di sela-sela keletihan mereka, masih sempat juga menampakan wajah ceria di kamera.

“Foto kami (sedang) pasang tenda nah, Ustadzah,” ucap mereka serentak.

Dari perwakilan daerah lain juga tak kalah eksis. “Kami juga mau difoto Ustadzah, lagi gergaji bambu nih,” ucap peserta fi’ah perwakilan dari MTs Hidayatullah Makassar.

ISCH III 2025 berlangsung selama 4 hari (21–24/8/2025). Tidak hanya siswa, seluruh guru, dosen, dan mahasiswa di Gunung Tembak turut terjun langsung membantu mempersiapkan penyambutan tamu-tamu spesial ini.

Suasana persiapan penuh semangat menjadi bukti sinergi antara civitas akademika dan peserta dari berbagai daerah.

Perjalanan Panjang Peserta

Di balik keceriaan itu, terselip cerita haru. Banyak peserta dari berbagai daerah harus menempuh perjalanan yang tidak mudah. Jalan darat, laut, dan udara mereka lalui demi bisa hadir di ajang Pramuka Hidayatullah bergengsi ini.

Biaya yang tidak sedikit, tenaga yang terkuras, bahkan barang bawaan harus diurus sendiri tanpa bantuan porter. Semua itu menjadi bagian dari pengorbanan mereka untuk sampai di Gunung Tambak.

Kisah dari Maluku Utara

Salah satu kisah perjuangan datang dari Maluku Utara. Peserta dari daerah Maba, Maluku Utara, harus naik melalui jalur darat selama enam jam menuju Ternate.

Dari Ternate, perjalanan dilanjutkan dengan pesawat selama dua jam ke Makassar, kemudian diteruskan naik kapal lagi menuju Balikpapan.

Rute panjang ini menuntut kesabaran, apalagi mereka datang dari latar belakang yang sederhana, termasuk sebagian dari suku pedalaman Togutil.

Setibanya di pelabuhan, mereka harus mengangkat barang-barangnya sendiri. Tidak ada buruh atau porter yang membantu (tentu karena demi efesiensi anggaran).

Akibat kelelahan, ada yang sampai melempar koper demi bisa bergerak cepat di tengah berdesakan dengan peserta atau penumpang kapal lain. Bahkan, beberapa di antaranya sampai menangis karena letih. Namun, semua itu terbayar dengan kebahagiaan ketika akhirnya tiba di lokasi perkemahan Gunung Tembak.* BERSAMBUNG (Qonita/Media ISCH III/STIS/@Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *